7.1.10

Di manakah kebenaran? Benarkah ada area abu-abu?


Kapan pun Anda bertemu dengan orang yang bilang bahwa ia tidak percaya adanya Benar dan Salah yang sejati, Anda akan segera menemukan orang yang sama itu justru menegaskan kebalikannya.

Mungkin ia mengingkari janjinya kepada Anda, tetapi bila Anda mencoba mengingkari janji Anda terhadapnya, ia akan sigap mengeluh, "Ini tidak adil".

Suatu bangsa mungkin bilang bahwa perjanjian-perjanjian tidak ada gunanya, tetapi semenit kemudian, mereka mengingkari ucapan itu dengan mengatakan bahwa perjanjian yang hendak mereka ingkari itu tidak adil. Tetapi, kalau perjanjian itu benar-benar tidak penting, dan bila tidak ada Benar dan Salah yang sejati—dengan kata lain, bila tidak ada Hukum Alam—apa bedanya perjanjian yang adil dengan yang tidak adil?

Bukankah dengan begitu mereka justru sedang menunjukkan belang mereka, bahwa apa pun yang mereka katakan, sebenarnya mereka mengetahui Hukum Alam, sebagaimana pihak-pihak lain? Karena itu, rupanya kita harus percaya akan adanya Benar dan Salah yang sejati.

Mungkin saja bahwa orang kadang-kadang berpandangan salah mengenainya, seperti sebagaimana mereka kadang-kadang salah berhitung di bidang matematika, tetapi Benar dan Salah itu bukan sekadar masalah rasa dan pendapat, tetapi bersifat objektif, seobjektif tabel perkalian.

Kalau demikian, berikut adalah dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahwa manusia, di seluruh dunia, memiliki gagasan bahwa mereka harus bertindak dalam cara tertentu, dan tidak bisa benar-benar menghindar darinya.

Kedua, bahwa mereka pada kenyataannya tidak bertindak dengan cara seperti itu. Dengan kata lain, mereka mengetahui Hukum Alam, tetapi mereka melanggarnya. Dua fakta itu merupakan landasan bagi pemikiran yang jernih mengenai diri kita sendiri dan jagad raya di mana kita hidup.


CS. Lewis

Ketika sejarah dunia dan berbagai lembaga, masyarakat, lingkungan, keluarga, serta individu, akhirnya ditulis, tema dominannya adalah sejauh mana orang hidup berdasarkan nuraninya yang bersifat ilahi, dan bukan berdasarkan sistem nilai yang dipaksakan oleh sistem sosialnya.

Nurani tersebut adalah kebijaksanaan yang bersifat intuitif, yang potensinya dimiliki oleh setiap orang sejak dia dilahirkan, dan yang termaktub dalam prinsip atau hukum alam, yang diajarkan dalam semua agama besar dan falsafah kehidupan.

Tema sentralnya bukan geopolitik, ekonomi , pemerintah, perang, budaya masyarakat, seni, pendidikan, atau lembaga-lembaga agama. Dimensi moral atau spiritual—yaitu sejauh mana orang atau institusi dengan jujur, setia pada prinsip-prinsip abadi mengenai benar dan salah—akan menjadi kekuatan tertinggi yang menentukan, yang merengkuh dan mendasari segala sesuatu.

Sumber: the 8th habit

No comments:

Post a Comment