6.1.10

Ekosistem Hutan Hujan

Hutan Hujan (rainforest) adalah hutan tropis yang banyak menerima hujan dan memiliki beragam jenis tanaman dan hewan. Hutan hujan yang paling terkenal ialah Hutan Hujan Amazon. Lebih dari separuh spesies tanaman dan binatang tinggal di hutan hujan. Lebih dari 1/4 obat-obatan berasal dari hutan hujan, yang luasnya hanya meliputi wilayah sekitar 2% daratan bumi. Hutan hujan juga menyediakan 40% oksigen Bumi.

Hutan hujan dapat ditemukan di 3 wilayah geografis utama di seluruh dunia.

- Amerika Tengah di basin Sungai Amazon.

- Afrika- basin Zaire, Afrika Barat dan Madagaskar timur.

- Indo-Malaysia - pesisir

barat India, Assam, Asia Tenggara, Papua, dan

Queensland, Australia.


Hutan hujan mendapatkan hujan rata-rata 50 sampai 250 inch setahun dan

Memiliki kelembaban rata-rata 77% sampai 88%

Hutan hujan memiliki hamparan dedaunan hijau yang busuk di tanah carpet. Ini disebut lapisan humus.


Hutan Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sejumlah besar (lebih dari 10.000 buah) dari pulau-pulau tersebut adalah merupakan pulau-pulau berukuran kecil, memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi.

Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama. Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya.

Sebagian besar hutan-hutan di Indonesia termasuk dalam HUTAN HUJAN TROPIS, yang merupakan masyarakat hutan yang kompleks, terdapat pohon dari berbagai ukuran. Di dalam kanopi iklim mikro berbeda dengan keadaan sekitarnya; cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat tinggi, dan temperatur lebih rendah. Pohon-pohon kecil berkembang dalam naungan pohon yang lebih besar, di dalam iklim mikro inilah terjadi pertumbuhan.

Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan iklim mikro dari kanopi berkembang juga tumbuhan yang lain seperti pemanjat, epifit, tumbuhan pencekik, parasit dan saprofit. Pohon-pohon dan banyak tumbuhan lain berakar menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Daun-daun yang gugur, ranting, cabang, dan bagian lainnya tersedia menjadi nutrisi untuk sejumlah inang hewan invertebrata, seperti rayap juga untuk jamur dan bakteri. UNSUR HARA dikembalikan ke tanah lewat pembusukan dari bagian yang gugur dan dengan pencucian daun-daun oleh air hujan. Ini merupakan ciri hutan hujan tropis persediaan unsur hara total sebagian besar terdapat dalam tumbuhan; relatif kecil disimpan dalam tanah

(Withmore, 1975).

KEANEKARAGAMAN HAYATI yang sangat tinggi merupakan suatu koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Namun hutan yang merupakan sumberdaya alam ini telah mengalami banyak perubahan dan sangat rentan terhadap kerusakan. Sebagai salah satu sumber devisa negara, hutan telah DIEKSPLOITASI secara besar-besaran untuk diambil kayunya.

EKPLOITASI hutan menyebabkan berkurangnya luasan hutan dengan sangat cepat. Keadaan semakin diperburuk dengan adanya KONVERSI LAHAN HUTAN secara besar-besaran untuk lahan pertambangan, pemukiman, perindustrian, pertanian, perkebunan, peternakan serta KEBAKARAN HUTAN yang selalu terjadi di sepanjang tahun.

Dampak dari eksploitasi hutan adalah terjadinya BANJIR pada musim penghujan dan KEKERINGAN pada musim kemarau. Dengan demikian jelas bahwa fungsi HUTAN SEBAGAI PENGATUR TATA AIR telah terganggu dan telah mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada didalamnya।HUTAN SEBAGAI EKOSISTEM harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara KONSERVASI dalam pengelolaan ekosistem.

Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan KEHADIRAN KESELURUHAN FUNGSINYA. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan.


Laju Kerusakan Hutan

Menurut World Resource Institute, 1997, luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 %.
Laju kerusakan hutan:

1985-1997 : 1,6 juta Ha/Th,

1997-2000 : 3,8 juta Ha/Th.

Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia.

Berdasarkan Badan Planologi Dephut, 2003, Indonesia - menurut hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan.
Pada abad ke-16 s/d abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, hanya tinggal 0,5 juta Ha atau kurang 4 %.


Sumber: Slide Kuliah Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan, Semester 5

No comments:

Post a Comment