23.5.10

Pikiran Kita Bisa Saja Melayang Kemana-Mana, bahkan Tidak Terduga

23 Mei 2010

Kemarin siang, ditengah terik matahari yang membuat pengap dan kewalahan, dan di dalam sebuah angkot bagai oven yang berwarna pink menuju kampus, saya membaca sebuah buku berjudul 'the wonder spot'.

Bukan tentang wonder spot-nya sih yang ingin dibicarakan. Tapi tentang bagaimana buku itu membuat saya semakin pengap dan mual, semacam mabuk perjalanan.

Oh, lengkap sudah. Panas, pengap, oven... dan kehabisan nafas. Kalau sudah begini tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain berdo'a dan bersabar. Selagi saya menghentikan membaca dan berpikir seperti itu, saya menyadari angkot saya justru semakin lambat. Kami harus bersabar ketika jalanan dua jalur harus dilalui bergantian oleh kedua arah karena menyempit diisi oleh mobil yang parkir sembarangan dan gerobak sampah di masing2 sisi jalan. Kami juga harus bersabar karena tepat berada di belakang sebuah traktor penggiling aspal yang berbunyi bagai kaleng, yang dengan susah payah harus dibelokan pengemudinya karena menghindari truk pasir. Kami juga harus bersabar karena angkot harus berhenti setiap dua puluh meter atas permintaan penumpang. Dan saya, merasa semakin kehabisan nafas.

Sabar, sabar.

Saya tiba-tiba melirik tangan saya yang mengelupas terdorong bagian belakang cutter saat membuat maket. Perih memang, tapi saya jadi teringat film the last samurai, dan merinding membayangkan orang2 yang luka akibat berperang. Ngomong-ngomong soal the last samurai... saya sungguh ketinggalan zaman yaaa.

Mencoba mengatasi pengap dan kekurangan oksigen ini, saya teringat lagu 'My Favorite Things'...

....
snowflakes that stay on my nose and eyelashes
silver white winter that melt into spring

these are a few of my favorite things

when the dogs bite
when the bee stings
when i'm feeling sad...

i simply remember my favorite things
and then i don't feel
sooo baaaaaaaad
....

Hm... saya jadi mencari2 benda favorit saya sendiri. Koleksi kerang di botol creamcheese, amplop uang, topi pantai, sepatu cantik warna putih dnegan kerut di depannya, bukit kecil di bawah pohon di lapangan SR, pohon mahoni, minuman coklat dingin, dan ehehehee... buku diary saya semasa sma.

Heey! Rasa pengapnya tiba-tiba hilang!
ahahaha... rupanya benar saya masih anak-anak.

Setelah itu, ketika turun dari angkot, dan berjalan menuju galeri arsi, saya merasa banyak hal yang nampak lebih baik. Suara kecapi terdengar lucu, pohon pertama di tempat parkir motor bentuknya terasa lebih sempurna, dan langit kelihatan cerah.. *memang cerah sih...*

Rasa pengap, dan angkot oven saya, rasanya konyol untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi entah kenapa saya ingin menulis tentang ini dan sekarang, saya merasa senang telah menulisnya.

---badai renungan #2---

No comments:

Post a Comment