1.7.10

MAHASISWA MANDIRI, untuk BANGSA YANG MANDIRI

Seseorang yang bijak pernah berkata, untuk melihat seperti apa kondisi suatu bangsa 20-30 tahun ke depan, lihatlah kondisi para pemuda bangsa tersebut sekarang. Ada begitu banyak anak muda di Indonesia, puluhan juta rasanya. Namun dari sekian banyak pemuda, hanya sekitar 2 juta orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sehingga bisa dikatakan, mahasiswa adalah pemuda pilihan bangsa yang sangat beruntung, sekaligus sangat bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Hanya ada sedikit orang dari 200 juta penduduk Indonesia ini, yang disebut mahasiswa, yang disebut sebagai pemuda pilihan bangsa. Jelas, orang-orang terpilih ini merupakan pemikul tanggung jawab atas kondisi bangsa di masa depan. Tanggung jawab yang memang terasa berat, namun demikianlah kenyataannya. Ketika pemuda pilihan bangsa saat ini sibuk besenang-senang dan berpikiran pendek, maka bangsa ini tidak akan pernah maju.

Saya pernah membaca buku anak-anak impor yang berjudul Anne of Avonlea. Kisah ini menceritakan seorang gadis muda pertama di Pulau Prince Edward, Canada, yang melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Ketika lulus, yang dilakukan gadis itu adalah kembali ke desa untuk mengajar, lalu bersama teman-temannya membentuk Kelompok Pengembangan Desa Avonlea. Kelompok ini membangun desa, dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh penduduk desa tua yang tinggal, dan menjadikan desa itu tempat terindah dan pilihan pariwisata favorit, di seluruh pulau.

Kisah di atas menjadi contoh apa yang bisa dilakukan oleh para pemuda, dalam hal ini mahasiswa, untuk kemajuan suatu bangsa. Apa yang diharapkan oleh bangsa kita di masa depan, ingin menjadi seperti apa dan ingin berbuat apa, memerlukan andil dari mahasiswa di saat ini. Ketika kita ingin bangsa yang mandiri, maka dibutuhkan usaha mahasiswa saat ini untuk menjadi mandiri.

Namun, bisakah mahasiswa Indonesia ini menjadi generasi yang mandiri? Pertanyaan ini muncul dengan latar belakang harapan dan kekhawatiran. Ada kekhawatiran mahasiswa masa kini terlalu manja, terlalu nyaman dengan keadaan, terlalu mengalir bersama situasi, dan terlalu instan. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai media yang membawa gaya hidup instan dan bersenang-senang. Selain itu juga ada paradigma yang terlanjur berkembang di kalangan mahasiswa untuk bekerja di perusahaan asing demi pendapatan yang tinggi. Jika demikian, jika semua pemuda pilihan negeri memilih untuk membangun negeri orang, bisakah Indonesia menjadi negara yang mandiri?

Harapan yang juga muncul bersama pertanyaan di atas adalah perubahan sikap, yang telah dimulai oleh segelintir mahasiswa. Perubahan sikap ini didasari oleh perubahan paradigma untuk tidak mengambil jalur aman setelah lulus, namun mengambil resiko di jalur kewirausahaan.

Kewirausahaan memang tidak membawa kenyamanan hidup dan kehidupan mapan seperti ketika kita bekerja di sebuah perusahaan besar, namun kewirausahaan adalah wujud kemandirian. Dengan memilih berwirausaha, seseorang mengambil resiko kehilangan pendapatan, mengorbankan waktu, tenga, dan materi, serta mengorbankan kenyamanan hidup seperti orang kebanyakan. Tetapi dengan berwirausaha, seseorang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, menjadi pemimpin untuk orang lain, menjadi pribadi yang bertanggung jawab bukan hanya untuk alasan sederhana seperti gaji pegawai.

Wirausaha juga jawaban untuk permasalahan ekonomi yang kian melanda negeri ini. Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1% wirausahawan untuk menjadikan sebuah negeri maju. Dan jumlah mahasiswa, yang mewakili lebih dari 1% penduduk Indonesia, adalah jumlah yang signifikan. Seandainya setiap mahasiswa Indonesia berwirausaha, tentu ada puluhan hingga ratusan juta lapangan pekerjaan untuk menghidupi masyarakat. Tak perlu lagi ada pengangguran, tak perlu lagi ada kemiskinan di setiap sudut kota.

Apakah mungkin setiap mahasiswa Indonesia berwirausaha? Tentu saja mungkin. Bukankah kekayaan bumi ini tiada habisnya? Bukankah potensi manusia ini rasanya tak pernah habis dikeluarkan? Bukankah akan selalu ada innovasi yang tiada akhir? Jelas, seandainya benar semua mahasiswa Indonesia memiliki minimal satu bentuk usaha, peluang untuk berwirausaha akan tetap terbuka lebar.

Di negara-negara maju, di universitas pilihan mereka, setiap jurusan memiliki mata kuliah wajib yang harus diambil, yaitu Kewirausahaan. Berbeda dengan apa yang ter-frame dalam pikiran lulusan-lulusan universitas terbaik negeri ini, setiap mahasiswa yang akan meraih gelar sarjana di negara-negara tersebut diharapkan untuk memiliki jiwa wirausaha.

Jiwa wirausaha ini begitu penting, sebab dengan kepribadian mandiri yang dimiliki oleh mahasiswa pada saat ini, bangsa kita akan mandiri di masa depan.

No comments:

Post a Comment