3.7.10

Mencicipi Pengetahuan: Isu Kenaikan TDL dan Pembangunan PLTSa Gede Bage!

Tidak sengaja, karena ajakan Sri Suryani, saya duduk sebagai pendengar dalam salah satu kajian mengenai kenaikan tarif dasar listrik di selasar TVST hari Kamis kemarin. Dalam kajian itu, saya mencoba menjadi pendengar yang baik, karena saya setidaknya merasa buta terhadap informasi seputar TDL ini. Sungguh kenyataan yang ironis mengingat saya adalah mahasiswi Arsitektur semester 6, seseorang yang bidangnya sangat berhubungan dengan penggunaan listrik (setiap bangunan sekarang menggunakan listrik kan?) setiap harinya. Satu-satunya informasi yang pernah saya dengar adalah berita mengenai rencana pemerintah berminggu-minggu lalu untuk menggratiskan penggunaan listrik 450 watt dengan konsekuensi penggunaan listrik dengan daya yang lebih tinggi mengalami kenaikan tarif. Dan sayangnya, saya tidak tergugah untuk menggali lebih dalam.

Kemudian dengan sedikit ketertarikan, hari Jum’at kemarin saya ikut bersama Susan Hanuningrum Krisanti dan Kania Prita Anggriany menghadiri acara (walhi jabar) screening film tentang inseminator dan rencana lama pemerintah untuk mendirikan PLTSa Gede Bage. Woo... guess what… lagi-lagi saya menjadi pendengar yang baik karena merasa buta terhadap informasi ini. Sungguh miris mengingat saya adalah salah satu warga yang tinggal di sekitar Gede Bage! Satu-satunya informasi yang pernah saya dengar adalah berita koran bertahun-tahun lalu (!) mengenai rencana PLTSa yang tak pernah terwujud ini.

Baiklah, karena saya sudah mencicipi sedikit mengenai hal ini, saya merasa setidaknya saya harus berbagi. Bukan tentang TDL, karena tidak banyak yang saya dapat dari kajian singkat hari itu, tapi tentang inseminator. Saya tidak cukup pintar untuk ingat mencatat selama diskusi, tapi ada beberapa hal yang saya ingat. Dan ada google. J

Intinya, proyek pembangunan inseminator alias pembangkit listrik tenaga sampah ini sudah diberitakan sejak beberapa tahun yang lalu. Namun warga sekitar kawasan yang direncanakan akan menjadi pabrik sampah tersebut menolak mentah-mentah, karena mengetahui dampak buruk dari pabrik pembakaran sampah ini. Tidak hanya sangat mungkin menghasilkan dioksin dalam proses pembakaran, namun juga akan menghasilkan abu sisa yang termasik golongan B3, yang kedua-duanya bersifat membahayakan keselamatan umat manusia. Dioksin adalah racun terparah kedua setelah radiasi nuklir, yang bahkan dalam pembakaran 8000°C masih mungkin terbentuk (saat cooling down). Tidak terbayang oleh saya apa yang akan terjadi pada masyarakat sekitar, jika racun dioksin dan abu B3 ini bertebaran di sekitar mereka. Bukankah kasus Minamata dan Buyat adalah contoh kasus pencemaran yang terlalu buruk untuk terulang kembali? Mengenai bahaya PLTSa ini, silakan baca lebih lanjut di http://walhijabar.wordpress.com/2010/05/15/petisi-stop-rencana-proyek-pltsa-gedebage-bandung/

Ketika kita tahu betapa PLTSa ini adalah alternatif solusi yang terburuk, lantas mengapakah pemerintah memilihnya? Dalam diskusi 2 Juli 2010 kemarin dikatakan, bahwa pemerintah memerlukan solusi jangka pendek untuk memecahkan masalah pengelolaan sampah Kota Bandung ketika kontrak TPA Sarimukti habis di tahun 2011 nanti. Solusi 3R (Reduce, Reuse, Recylce) adalah solusi ideal yang mungkin diimplementasikan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Namun solusi jangka pendek, untuk masalah yang mendesak ini, harus ada dan segera diwujudkan. Ingat peristiwa Bandung Lautan Sampah ketika TPA Leuwigajah meledak? Hal itu sangat mungkin terjadi lagi.

Masalahnya adalah sampah kita, sampah seluruh warga Bandung. Sudah bukan zamannya menggantungkan nasib pada pemerintah mengingat PLTSa inilah yang mereka tawarkan sebagai solusi. Lagipula, berdasarkan pengalaman, berapa banyak sih proyek yang benar-benar memihak kepada masyarakat kita? Ini sampah kita, yang hampir-hampir menjadi penghasil racun kedua paling berbahaya di lingkungan kita. Solusinya harus keluar dari diri kita sendiri. Ketika pemerintah beranggapan bahwa 3R adalah solusi jangka menengah, kita harus menunjukkan kalau ini adalah solusi yang bisa dibuktikan dengan cepat. Membuktikan hal tersebut tak bisa sendiri, tapi harus bersama-sama dalam satu komunitas yang luas dan terus berkembang. Kita bisa mulai melakukan pengurangan sampah dengan membawa bekal, mengurangi pembelian produk dalam kemasan, dan melakukan pemilahan serta pengelolaan sampah sendiri, dari rumah sendiri. Saya punya beban moral dengan menulis ini, yang berarti saya juga harus memulainya. Tapi hal ini adalah hal yang sangat penting dan sering kita lupakan. Di masa depan, ketika 3R ini berhasil, keberadaan TPA akan menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman. Sampah tak lagi menjadi beban, tapi sesuatu yang bisa kita berdayakan selalu. Semoga. Amin.

No comments:

Post a Comment