4.8.10

Book Review: Kakak Adik Hati Singa - Astrid Lindgren


Buku ini adalah buku anak-anak dengan gaya bahasa sederhana, dengan tutur cerita sederhana, dengan deskripsi yang sederhana pula. Tapi bayangkan, di halaman ke lima saya sudah menangis! Mengalahkan rekor The Noticer yang membuat saya menangis di halaman ke 10-12.

Kisahnya sangat unik memang, dan berani. Saya tidak akan mungkin mengarang cerita semacam ini sebab dapat membuat anak-anak berpandangan keliru tentang surga dan kematian. Tapi bagi seorang Astrid Lindgren, yang tengah menulis cerita dongeng, yang akan menghibur anak-anak yang saat ini sedang divonis meninggal tak lama lagi, tentu sah-sah saja.

Karl Hati Singa, tokoh utamanya, adalah seorang anak penakut penderita polio atau semacamnya, yang tahu bahwa hidupnya tak lama lagi. Namun ia bisa menerima kenyataan itu sebab kakaknya Jonatan Hati Singa yang tampan dan baik hati bagai pangeran telah mneghiburnya dengan cerita tentang Nangijala.

"Tahukah kamu ke mana seseorang akan pergi setelah ia meninggal?"
"Tidak, kemana?"
"Mereka ke Nangijala"

Gambaran Nangijala mirip dengan surga, tapi lebih tepatnya ia adalah dunia dongeng. Karl dan Jonathan Hati Singa mengalami petualangan hebat di Nangijala. Dan rasanya seperti hidup kedua kalinya sebab mereka juga bisa mati di Nangijala. Kalau di dunia nyata Karl menderita penyakit mematikan, di Nangijala ia sehat dan bisa melakukan banyak hal termasuk berburu dan berenang. Kalau di dunia sebelumnya ia penakut, di Nangijala Karl kecil menjadi pahlawan pemberani yang melawan Katla.

Kemanakah mereka pergi jika mereka sampai mati di Nangijala? Hm... jawabannya silahkan dibaca dalam buku kecil ini. Secara mengejutkan, ternyata ide film Inception mengenai hidup yang berlapis-lapis juga ada di dalam imajinasi Astrid Lindgren. Saya secara pribadi merasa ngeri, sebab lama kelamaan mati untuk mendapatkan kehidupan menjadi hal yang biasa. Orang jadi sengaja membunuh dirinya untuk mendapatkan kehidupan yang sebenarnya, atau yang mereka kira kehidupan yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment