5.8.11

Dobrak Diri

Salah satu guru SMP/SMA yang paling berkesan bagi saya adalah guru olahraga: Pak Edi tercinta. Beliau selalu selalu dan selaluuu memberi pelajaran olah raga yang sulit2. Seperti lompat harimau, handstand tanpa alas dan tanpa menyentuh dinding, salto, dll. Selain itu semua murid harus mencoba bergantian dan ngga boleh ada satupun yang mengatakan "ngga bisa". Sekali waktu ada temen yang saking takutnya mengkerut dan bilang "ngga bisa", langsung beliau beri hukuman push up 50 kali. Ck ck...

Sekarang saya merasakan dampaknya. Rasanya gatel sekali kalau mendengar ada seseorang yang menyerah dan berkata "ngga bisa" sebelum mencoba. Dan gatel pula kalau diri saya sendiri yang berkata "ngga bisa". Saya inget temen2 seangkatan saya pernah berujar "dobrak diri, dobrak diri" (Tag Marsya) sewaktu memikirkan usulan hukuman buat temen2 yang kurang disiplin. Dan jeng jeng jeng... rasa gatal yang bersemayam dalam diri itu seolah-olah mendapat salep menyembuh.

Itu jawabannya bos: Dobrak diri.

Kamu yang pemalu: banyak-banyaklah tampil di muka umum. Kamu yang kurang supel: banyak-banyaklah ketemu orang, basa-basi, dan ngobrol. Kamu yang kaku: banyak-banyaklah tertawa (menertawakan diri sendiri juga boleh) dan becanda. Kamu yang terlalu tegas: banyak-banyaklah menolerir dan memaafkan. Kamu yang keras kepala: banyak-banyak menurunkan dagu dan mendengar saran orang lain. Kamu yang takut ketinggian: sering2 naik gedung tinggi, jembatan, dan lain-lain. Kamu yang takut gelap: sering-sering mematikan lampu saat tidur. Kamu yang takut hantu: hahaha... ngga usah deh nonton film horror atau dengerin Ardan tiap malam jum'at, tapi perdalam keyakinan pada Allah dan dekatkan diri pada Al-Qur'an.

Apa sih yang paling buruk yang mungkin terjadi kalau kita melakukan hal-hal menakutkan itu? Malu? Gengsi? Harga diri jatuh? Hilang kharisma? Aah... ingatlah kawan, ada nasihat baik dari seorang penyair yang patut kita perhatikan:
Barangsiapa tidak tahan merasakan kehinaan sesaat,
Maka dia melalui seluruh hidupnya dalam keadaan hina.
Lagipula perasaan malu/gengsi atau perasaan dipermalukan saat kita melakukan hal-hal yang tadinya tidak berani kita lakukan adalah perasaan yang relatif. Kita sendiri yang menentukan apakah hal tersebut memalukan atau tidak. Yang penting kita tidak melanggar syari'at.. Iya 'kan?

Tujuan dari dobrak diri bukan untuk membuat malu. Memang sih, misalnya kita mencoba melucu dan garing lalu kita malu adalah hal yang wajar. Menyapa orang trus ngga diwaro dan malu juga wajar. Tapi kita adalah pembelajar. Pembelajar boleh melakukan kesalahan, bahkan ketika kita sudah tua sekalipun.

Dari kebodohan kita berbuat salah, dan dari kesalahan kita belajar. (Anonim)

Sekian.
PS. Seluruh isi artikel ini murni untuk nasihat kepada diri saya sendiri :D

No comments:

Post a Comment