30.9.11

New Recommended Book: Saga no Gabai Baachan

Fiuuh, setelah sidang satu berakhir dengan alhamdulillah lancar, akhirnya bisa senang2 pinjam buku ke zoe lagi. Tiga buku: satu sampah (cuma baca satu halaman terakhir, ternyata jelek. walhasil rugi 5000, ampas), satu penting, dan satu buku lagi luar biasa keren. Buku yang keren ini judulnya Saga no Gabai Baachan: Nenek Hebat dari Saga karya Yoshichi Shimada. Biar kalian penasaran... nih tak kopiin prolognya ya. hehe

PROLOG

Suatu hari saat makan malam.
"Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?"
Setelah aku bertanya begitu, dengan terbahak-bahak, nenek menjawab, "Besok bahkan nasi pun takkan ada kok."
Aku dan nenek hanya bertatapan mata, kemudian kembali terbahak bersama-sama.
Kisah itu terjadi sekitar empat puluh tahun lalu.
Kalau dipikir-pikir, sejak saat itu dunia telah berubah sangat cepat.
Rencana peningkaatan pendapatan, pertumbuhan ekonomi yang melesat tinggi, persaingan ketat masuk universitas, oil shock ketika terjadi krisis energi dan harga minyak melambung. Begitu juga dengan peningkatan harga tanah, kekerasan dalam sekolah, tingginya nilai tukar yen dan jatuhnya harga dolar, masa ekonomi bubble. Kemudian masa ketika ekonomi bubble pecah, turunnya harga-harga, zaman es untuk lowongan kerja...
"Saat ini dunia sedang mengalami masa ekonomi yang buruk," demikian kata semua orang, tapi tidak ada yang mesti dibesar-besarkan.
Kita hanya kembali ke masa lalu, begitu menurutku.
Yang berubah adalah manusianya.
Karena tidak punya uang.
Karena tidak dapat makan di hotel.
Karena tidak dapat berpelesir ke luar negeri.
Karena tidak dapat membeli barang-barang yang bermerek... Bila kita berpikir tanpa semua itu kita jadi tidak bahagia, sudah jadi apa kita?
Meski mungkin ini tidak enak didengar oleh orang yang baru saja dipecat, tapi rasa berat karena kehilangan pekerjaan pastinya muncul dari pikiran-pikiran tadi.
Padahal karena pekerjaan, mereka bangun tiap jam delapan pagi, naik kereta penuh berdempet pada jam sibuk ke kantor, bekerja, lembur, duduk menemani minum sake yang sebenarnya tidak ingin ditenggak, lalu naik kereta terakhir untuk pulang... Kalau saja mereka mau melihat situasi tak lagi punya pekerjaan sebagai kesempatan untuk melepas diri dari kehidupan seperti tadi, mereka pasti mampu menghadapinya.
Belum lagi nilai tambah betapa situasi berat ini bakal melahirkan kesempatan berdiskusi mengenai "mulai hari ini bagaimana akan bertahan di masa depan" dengan pasangan atau anggota keluarga lain. Bukankah ini kesempatan untuk menghapuskan minimnya komunikasi dalam keluarga?
Tak ada uang, maka tak bahagia.
Menurutku, semua orang saat ini terlalu terikat dengan perasaan seperti itu.
Kemudian karena orang dewasa berpikir demikian, maka anak-anak pun tak ayal ikut dibesarkan dalam keadaan ini.
Karena tidak diajak ke Disneyland, karena tidak dibelikan baju tren terkini, anak-anak tidak mau menghormati orang tuanya.
Karena nilai rapor buruk, karena tidak berhasil masuk sekolah favorit, hanya masa depan suram yang terlihat.
Bila hanya anak-anak seperti ini yang kita besarkan, maka setiap hari kian tidak menyenangkan hati, tanpa ada harapan untuk masa depan, dan kenakalan remaja pun meningkat.
Padahal tanpa uang pun, cukup dengan perasaan tenang, kita dapat hidup dengan ceria.
Kenapa aku dapat begitu mempercayai ini? karena nenekku adalah orang yang seperti itu.
Waktu kecil, aku dititipkan pada nenek dari pihak ibu.
Nenek lahir pada tahun ke-33 era meiji (1900).
bia hidup sejalan dengan perkembangan abad ke-20. Bersama generasi yang lebih awal dari generasi pendahulu.
Di tahun 17 era Showa (1942), pada masa perang, suaminya meninggal dunia. Kemudian sejak saat itu dia hidup dalam masa pasca-perang yang berat sebagai tukang bersih-bersih di Universitas Saga dan SD/SMP yang terafiliasi dengannya. Nenek berhasil bertahan hidup dengan membesarkan lima orang anak perempuan dan dua anak laki-laki, total tujuh anak.
Aku mulai hidup dengan Nenek sejak tahun 33 era Showa (1958). Pada saat itu Nenek sudah berusia 58 tahun, namun masih saja tetap bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Sudah pasti hidupnya jauh dari kemewahan, tapi entah bagaimana selalu saja dia tampak sangat bersemangat dan ceria.
Kemudian seolah belajar memahami segalanya dari awal, kurasa aku belajar dari kehidupanku bersama Nenek, apakah sebenarnya kebahagiaan sejati manusia itu.
Sembilan tahun lalu, sejak Nenek meninggalkan dunia dengan tenang di usia 91 tahun, aku kian menyadari  banyak hal, terutama mengenai kebenaran nilai-nilai yang ditinggalkan olehnya.
Bahwa jangan-jangan semua orang telah teramat sangat salah paham.
Ketika kebahagiaan yang telah berhasil kita capai hingga 40 tahun lalu terhancurkan, aku merasa kita semua menuju ketidakbahagiaan dan keputusasaan.
Kita telah salah jalan!
Sebelum melangkah lebih jauh, simaklah dulu kisah nenek gabai (hebat) dari Saga ini.
Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang ditentukan oleh uang.
Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

--

Gila kan luar bisanya buku ini? Baca deh. Supaya bisa tersenyum tulus esok hari, menuju sidang 2 dan 3. Yeah!

No comments:

Post a Comment