11.11.11

Hebat

Siang ini ketika saya usai melakukan perjalanan jauh di tengah hari tanpa awan menuju rumah, ketika saya tengah melakukan pekerjaan sangat biasa berupa menyatap mie goreng dengan sumpit sembari mengamati komposisi lengkungan garis mie serta asap-asapnya yang cantik, saya tiba-tiba berpikir: ah... damainya menjadi orang biasa.

Tiba-tiba pikiran itu meloncat pada bola pikiran lain mengenai cita-cita akan kesuksesan. Betapa banyak orang yang tidak mau jadi orang biasa dan berpikir 'Saya harus menjadi orang yang hebat!'

Sebagian orang mengaitkan kata Hebat itu dengan Pendidikan. Di Jerman, menurut seorang teman yang memang berkebangsaan Jerman, anak-anak harus menetukan seberapa tinggi pendidikannya semenjak ia memilih SMP. SMP mereka menentukan apakah mereka bisa S1 atau hanya bisa sampai SMA saja, atau masuk college saja. Kemudian pilihan SMA dan kelas pada SMA juga menentukan universitas serta jurusan apa yang bisa mereka masuki. Bayangkan bila anak-anak itu, misalnya, baru menentukan akan masuk jurusan arsitektur pada detik terakhir pendaftaran ujian masuk kuliah, sementara ia hanya bisa memilih jurusan ekonomi. Atau seorang anak ingin kuliah, ternyata ia berada di jalur 'SMA saja'. Betapa rumit nampaknya jalan menuju cita-cita itu.

Kemudian saya teringat salah satu maestro Arsitek dari Jepang yang menjadi kiblat beberapa dosen saya: Tadao Ando. Bukankah beliau meraih citanya melalui jalur yang lain dari pada yang lain? Bukannya menghadiri kuliah dan jungkir balik mempersiapkan sidang tugas akhir seperti saya sekarang, Tadao Ando muda malah keliling dunia mendapangi satu per satu bangunan terkenal yang dirancang para maestro terdahulu. Yang dilakukannya adalah mencatat, merasakan, membuat sketsa, menginap, berpikir, melihat, meraba, mungkin menyelami pesan para maestro dan berguru pada mereka melalui karyanya.

Ketika saya berpikir-pikir mengenai kata 'Hebat' ini, saya jadi lebih optimis, terlepas dari pengertian hebat itu sendiri. Karena buktinya ada sangat banyak jalan menuju Roma. Lagipula kita adalah bagian dari rencana besar-Nya. Kita hanya bisa berusaha, sementara Ia yang menetukan. Apa yang bisa kita lakukan ialah berusaha dan berdo'a. Apa yang bisa kita lakukan, lagi lagi, ialah berusaha dan berdo'a. Mari, kawan, berusaha lebih baik lagi. Dan berdo'a. Fighting! :D

No comments:

Post a Comment