1.1.12

Coffee Cup #1: Apa yang Layak Dirayakan?

Suatu hari saat berlari-lari pagi di Pantai Sanur yang indah dan sepi, saya terpikir seandainya saya tinggal di Bali selama setahun, saya akan membuat kalender matahari terbit. Akan sangat menyenangkan memiliki proyek pribadi semacam itu. Namun, setelah dipikir-pikir kembali, saya tidak ingin tinggal di sana lagi, apalagi selama setahun. Dan karena di Panghegar sini tidak ada pantai, saya tidak bisa membuat kalender semacam itu selama tahun 2012. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah proyek lain, yang saya namakan Coffe Cup, untuk mengisi pagi saya setiap hari sepanjang tahun.

Proyek ini bukan proyek buku harian yang dipersembahkan untuk umum, bukan. Tujuan saya adalah melakukan pemanasan otak dengan membuka cakrawala dan menuangkan pemikiran setiap pagi.

Pagi ini saya berpikir mengenai perayaan malam tahun baru yang terjadi semalam. Saya tentu saja seperti biasa tidur di rumah dan dengan terpaksa mendengarkan keriuhan dunia. Meskipun di lingkungan sekitar rumah saya petasan sudah mulai dinyalakan satu demi satu pada pukul sembilan malam, sekitar pukul dua belas kurang 10 keriuhan yang sesungguhnya baru dimulai. Saya sebagai seorang pendengar yang terganggu tidurnya, merasa suara petasan-petasan ini laksana air yang mendidih. Sampai-sampai saya merasa harus ke dapur untuk memastikan tidak ada panci berisi air yang menggelegak. Pikiran saya membayangkan dunia saat ini memang bagaikan air mendidih, dengan kembang api yang meletup bersahut-sahutan di permukaannya.

Berapa banyakah uang yang terbakar dalam perayaan semalam? Tanya bagian keuangan dalam otak saya. Mungkin bagi seseorang yang bekerja keras sepanjang tahun, yang akhirnya bisa memiliki alasan untuk merayakan tahun yang telah berlalu, pesta ini akan menjadi wajar dan layak. Akan tetapi apakah pencapaian Indonesia yang bisa dirayakan pada tahun yang lalu? Atau tak usah jauh-jauh, apakah pencapaian Kota Bandung yang bisa dirayakan dengan padatnya Jalan Dago semalam? Jika benar masterplan transportasi bandung metropolitan area yang kabarnya akan rampung akhir 2011 itu sudah bisa diperlihatkan kepada warga kota, maka itu prestasi. Apalagi jika benar direalisasikan. Sungguh miris merayakan sesuatu ketika kita bahkan belum punya trotoar yang layak.

Mungkin tak layak bagi saya, seseorang yang saat ini hanya berupa nama dan wajah di antara kerumunan warga kota di mata pemerintah kota, untuk mengkritisi seperti itu. Tapi saya memang berhak mengatakan ini. Saya jadi teringat salah satu kisah yang terkenal dari Khalifah Umar bin Khattab yang tengah melakukan patroli rahasia pada malam hari dan mendengar keluhan seorang ibu mengenai pemerintahannya. Bisa di katakan beliau saat itu memimpin pemerintahan yang sangat baik, yang dibuktikan dengan kemajuan di berbagai aspek. Tapi seorang ibu, yang terpaksa harus merebus batu mengelabui anaknya yang tengah menangis kelaparan, saat itu tidak puas dengan kepemimpinan Khalifah Umar. Dan seperti yang semua orang tahu, Khalifah Umar segera pergi ke baitul mal mengambil sekarung gandum dan memberikannya pada sang ibu tanpa memberitahu siapa dirinya. Padahal mungkin sebagian orang akan menganggap kemiskikan keluarga itu bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah. Tapi yang namanya pemerintah yang baik, harus menjamin kesejahteraan rakyatnya, bukan? Intinya, saya sebagai warga kota juga berhak menyatakan harapan saya pada Kota Bandung.

Terlepas dari itu, saya ingin membicarakan resolusi yang saya tulis semalam. Setiap poin dari resolusi itu adalah hal yang tidak mudah untuk dijalani. Saya sadar ketika menulisnya dan ketika mengkritisi Kota Bandung, saya juga mulai mengkritisi diri sendiri. Pertanyaannya, apa yang akan saya rayakan pada akhir 2012 ini? Apakah pencapaian seluruh poin resolusi? Apakah pemenuhan target yang pernah saya tulis? Apakah, justru, senyum yang tersungging pada wajah-wajah anggota keluarga saya? Ya, mari berdo'a untuk semua pencapaian yang kita inginkan.

No comments:

Post a Comment