2.1.12

Coffee Cup #2: Bola

Ada berbagai jenis bola di dunia ini. Salah satunya yang telah menjadi bintang di lapangan-lapangan seharga miliaran dolar serta menjadi bagian dari drama dunia entertainment. Tapi bukan bola yang terkenal itu yang ingin saya bicarakan. Semalam, saya pergi ke Gramedia dan membeli komik Throbbing Tonight #9 dengan harga seribu rupiah. Benar. Coba dibaca ulang: seribu rupiah. Setiap kali ada diskon semacam ini saya selalu menemukan satu seri dari serial ini sehingga lama kelamaan koleksi saya menjadi lengkap. Tapi apa hubungannya komik ini dengan bola?

Dalam seri nomor sembilan ini, ada cerita mengenai kemunculan Sang Pemberani di Dunia Setan. (dunia setan dalam buku ini maksudnya dunia hantu, sungguh manusiawi dan lucu, sama sekali tidak menyeramkan. Dan komik ini juga kadang terlalu cheesy, sebelum Anda terlalu berminat). Sayangnya seseorang yang mengaku sebagai Sang Pemberani ini rupanya adalah Raja Kegelapan, yang menipu seluruh rakyat dan keluarga kerajaan Dunia Setan dengan sosoknya yang menghibur hati. Ia muncul di media-media (tepatnya menguasai media), memberikan janji-janji yang indah, memberikan makanan instan yang tidak bergizi, dan membodohi masyarakat dengan kesenangan hidup sembari menjadi idola masyarakat. Nah, apa hubungannya kisah ini dengan bola?

Mari kita tinggalkan makanan ringan saya dan menuju pada buku-buku lainnya di pesta diskon. Begitu banyak buku-buku mengenai sejarah Indonesia yang saya rasa, entah mengapa, tiba-tiba menjadi banyak dan muncul di mana-mana. Terutama mengenai bagian kritis sejarah kita di mana terjadi pergantian masa dari Orde Lama menuju Orde Baru. Tentu saja buku-buku ini terselip di antara tumpukan Teenlit, buku resep, buku belajar bahasa inggris, dan buku mengenai rahasia sholat yang khusyu'. Intinya buku-buku ini ada di antara semua tumpukan.
Buku-buku ini mungkin tidak akan bisa beredar seperti ini beberapa tahun yang silam. Apa hubungannya semua ini dengan bola?

Hidup saya saat ini jauh dari TV. Tapi pernah suatu hari saat mengerjakan tugas akhir di ruang tengah rumah Dhila, kami menyalakan televisi sepanjang hari. Apa yang kami dapatkan dari TV selama 24 jam hasil kerja keras dunia pertelevisian, akan dapat dirangkum dalam setengah halaman A4 saja! Apa yang kita dengar pada malam hari, telah di ulang pada berita jam 6 malam, berita jam 12 siang, berita jam 6 pagi dan semua acara gosip yang memenuhi jam-jam di antaranya. Dan kami saya merasa TV memang tidak diciptakan untuk membuat orang berpikir. Apa yang mereka sajikan membuat saya bersyukur telah memilih untuk jauh dari TV.

Lagi-lagi apa hubungannya dengan bola. Tentu saja ada hubungannya dengan bola dunia dalam arti luas dan di mana kita berada. Kemana kita semua sedang digiring dan apakah kita berada dalam tabir penipuan Sang Pemberani. Setiap hari berlalu dan terus berlalu saja dan sungguh mengganggu memikirkan kita berada dalam bola yang ditendang kesana kemari. Semua terasa absurd. Ada istilah yang layak untuk diingat: "Kebenaran itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing."


No comments:

Post a Comment