27.1.12

Coffee Cup #5: Mendengarkan Sang Waktu

Beberapa hari yang lalu saya mengirimkan beberapa pesan singkat pada seorang teman melalui telepon genggam. Saat itu saya berniat untuk membuat janji bertemu di kampus. Tak lama setelah pesan itu terkirim, teman saya membalas dengan sebuah pesan yang berbunyi:
"Jam 1 siang ketemunya? Dimana? Terus nanti bertemu aku-nya berapa menit?" diiringi dengan titik-titik dan smiley.
Saya tersenyum. Sekilas pesan ini terasa kurang sopan karena seolah menuduh saya sebagai orang sangat sibuk atau justru mengatakan bahwa dirinya sibuk. Padahal ini adalah pertanyaan wajar yang keluar dari seorang yang menghargai waktu. Kadang bila saya janji bertemu dengan teman yang lain, satu hari saya akan habis hanya untuk bertemu dengannya, sementara mungkin tidak perlu begitu. Saya jadi teringat kisah dosen wali saya Bu Dhian tentang seseorang yang saking sibuknya bisa melakukan rapat hanya dalam 15 menit atau bahkan 10 menit. Bila 10 menit sudah cukup, mengapa harus berlama-lama layaknya sidang paripurna DPR?

Saya merenung. Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih di tingkat dua atau tiga, saya pernah berkata saya tidak ingin menjadi orang yang sibuk. Sampai saat inipun saya masih berpikir demikian. Saya tidak ingin menjadi orang yang sibuk sehingga tidak bisa menunjungi teman yang sedang punya masalah, menjenguk teman yang melahirkan, mengunjungi keluarga yang sakit, ataupun memberi selamat pada kerabat. Akan tetapi saya juga tidak mau menjadi seseorang yang 'nganggur' sehingga punya waktu untuk dibuang-buang. Lalu lima atau sepuluh tahun kemudian baru tersadar belum melakukan apa-apa. Na'udzubillah.

Ada sebuah buku yang sangat menggelitik. Saya belum baca isinya, karena saya hanya melihat buku itu terpajang di rak-rak Gramedia ketika saya berjalan-jalan tanpa ada niatan berbelanja. Judul bukunya: "Jika Datang Pagi Hari, Jangan Tunggu Hingga Sore Hari." Sungguh ungkapan dan nasihat yang tepat bagi saya agar memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Agar tidak lagi menunda-nunda dan membiarkan kesempatan demi kesempatan lewat begitu saja. Bukankah semua orang sudah tahu bahwa waktu tak pernah kembali?
Menghargai waktu mungkin awalnya terasa melelahkan, tapi jika tidak dilakukan, tak butuh waktu lama untuk menyesalinya.

No comments:

Post a Comment