15.2.12

Coffee Cup #10: Bedtime Stories

Dongeng Sebelum Tidur adalah momen-momen yang menyenangkan. Saya masih ingat kisah-kisah yang dibacakan ibu saya sewaktu saya kecil, kebanyakan dari majalah Aku Anak Sholeh. Ada cerita Cici (kucing warna kuning) dan Koko (burung kakak tua putih berparuh merah), ada cerita Petualangan Bahari, ada cerita Annisa, Fahri, dan Bahri; ada cerita mimi, kisah Nabi Muhammad SAW (dibuat komik loooh, seru), ada cerita dinosaurus berwarna pink yang ramah (lupa siapa namanya), dan bahkan salah satu cerita yang paling diingat adalah cerpen berjudul Sepatu Merah Jambu. Jadi ingin langganan lagi... masih sama seperti dulu ngga yaa majalahnya...

Sedikit lebih besar, ketika SD dan SMP, saya membaca dongeng-dongeng sebelum tidur dari Mizan. Saya ingat sekali kisah tentang Layang-Layang Bulan, Kisah Setetes Air, Al-Fushilat, dan lain-lain. Terutama yang paling melekat adalah kisah Layang-Layang Bulan. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan toko layang-layang yang dipenuhi oleh layang-layang berbagai bentuk; mulai dari bentuk elang sampai yang paling sederhana layang-layang bertotol biru. Layang-layang bertotol biru inilah tokoh utamanya. Karena ia sederhana dan tidak terlalu mahal, atau karena takdir, jadilah Si Totol Biru ini layang-layang milik seorang anak laki-laki bernama Farhan.

Farhan adalah anak laki-laki dari keluarga sederhana, yang kala itu ragu dengan cita-citanya untuk menjadi Insinyur Penerbangan. Si Totol Biru yang naive, percaya bahwa semua mimpi itu mungkin jika kita berusaha. Ia pun mengemukakan mimpinya untuk terbang tinggi hingga ke bulan. Jika dipikir dengan logika, pertama: Farhan akan kehilangan layangan barunya jika ia membiarkan Si Totol Biru pergi ke bulan; kedua: Bumi memiliki lapisan Stratosfer, yang bahkan akan melelehkan meteor menjadi ukuran sangat kecil sebelum berhasil menembusnya, apalagi meloloskan sebuah layangan. Tentu saja saya sebagai anak kecil dahulu tidak mempertimbangkan lapisan Stratosfer, tapi bahkan saya pun dulu yakin bahwa bulan itu jauh sekali.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Farhan melepaskan Si Totol Biru ke angkasa. Ia melakukannya di malam hari, di saat sang Bulan nampak bersinar. Saat itu sedang purnama dan semuanya tampak sangat meyakinkan. Si Totol Biru naik, naik, naik, dan teruus naik hingga hanya terlihat sebagai titik. Farhan yang tak lagi bisa mengawasi si Totol Biru, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan melakukan shalat tahajud (sweet ya).

Tak lama kemudian datang angin besar menerpa Si Totol Biru sehingga hampir-hampir ia tidak bisa naik lebih tinggi lagi. Ia berusaha dan terus berusaha. burung-burung yang ia lewati terkejut melihat Si Totol Biru, dan dengan skeptis menertawakan usaha Si Totol Biru menuju bulan. Tapi Si Totol Biru terus berusaha. Bagian paling sedih dari kisah ini adalah setelah sekian lama naik dan naik, sang Bulan tak kunjung mendekat.

Angin semakin membesar dan datanglah hujan badai. Tak bisa dihindari lagi, Si Totol Biru menjadi basah dan selayaknya kertas yang basah dan diterpa angin, ia menjadi sobek. Esok paginya Farhan menemukan kerangka dan sisa-sisa Si Totol Biru di depan rumahnya. Kau tahu apa yang dilakukannya? Ia memberi Si Totol Biru kertas pelapis yang baru dan melukiskan bulan purnama di atasnya. Kini ia menjadi si Layang-Layang Bulan. Ketika ia mengangkasa lagi, burung-burung, angin, dan semua layang-layang lain tahu bahwa ia telah mencapai Bulan jauh di lubuk hatinya sejak lama. Dan Farhan, setiap malam seusai shalat tahajud ia belajar untuk menggapai citanya. Kemudian di masa depan, ia pun menjadi seorang Insinyur Penerbangan yang hebat.

Kisah ini melekat begitu erat di dalam ingatan saya. Salah satu kisah yang mengajarkan tentang cita dan realitas. Dan lagi, mengajarkan saya untuk menghidupkan shalat malam... :)

Satu kisah lagi yang menarik perhatian saya sewaktu kecil adalah Heidi. Waktu itu, kisah Heidi diterbitkan dalam beberapa seri, sementara seri yang kami punya di rumah hanya ada satu. Satu buku itu menceritakan bagian ketika Heidi menemani Clara, bertemu dengan Grandmama-nya Clara, hingga ia mengalami berjalan dalam tidur (sleepwalking) saking rindunya dengan Grandmother yang buta di pegunungan alpen, yang menunggunya untuk pulang membawakan roti putih.

Bagian kisah itu sangat menyentuh. Di akhir membaca seri itu saya selalu mengharapkan Heidi bisa segera pulang ke Alpen dan bahagia. Baru belakangan ini saya berkesempatan membaca kisah aslinya dan tahu bahwa Heidi akhirnya bisa kembali ke Alpen, membawakan berlusin-lusin roti putih untuk neneknya, bahkan mendapat kujungan Clara. Dengan bantuan kakeknya, Heidi berhasil membantu Clara untuk berjalan lagi.

See? Bedtime stories is magic. Kini, adik-adik daya dengan senang tengah membaca The Magic of Ruby Valley bab 5 dan The Little Prince bab 7. Tentu saja saya, sebagai pecinta imajinasi, senang-senang saja membacakan dongeng sebelum tidur dengan lantang...

No comments:

Post a Comment