2.2.12

Coffee Cup #6: Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim tiba-tiba berpandangan bahwa aku seorang yang terlalu fanatik terhadap agama? Memangnya, apa arti fanatik itu? Mengapa kata fanatik terdengar begitu buruk belakangan ini? Benarkah berbicara tentang Al-Qur'an itu fanantik dan fanantik itu buruk?

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim bersemangat untuk mendengarkan dan menjawab lalu berbagi pemahaman, ataukah aku akan diabaikan? Karena materi tentang Al-Qur'an dianggap tidak menarik dan bukan sesuatu yang penting untuk dibahas? Padahal kami sama-sama mengaku muslim dan tahu bahwa Al-Qur'an adalah dasar dari Al-Islam?

Kadang kala hidup terasa sangat sederhana. Kadang begitu rumit. Namun perlukah kebenaran dicari? Atau mungkin biar saja menikmati dunia tanpa dengan canda dan tawa belaka. Why so serious? Lima tahun telah berlalu sekejap mata. Bukankah baru kemarin aku belajar keras untuk ujian masuk universitas? Biar saja kah?

-----

Mungkin kalian, pembaca yang baik, akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba saya menulis beberapa paragraf di atas. Penyebabnya adalah sebuah bacaan ringan, super iseng, yang tiba-tiba saya ketik pada mesin pencari google, mengenai biografi Harun Yahya.

Ah, tapi mari kita kilas balik sebentar. Mengapa tiba-tiba saya tertarik pada biografi Harun Yahya?

Hari ini hari yang panjang bagi saya. Saya sejujurnya kehilangan pegangan karena setelah TA berlalu. Saya ingin mengerjakan banyak hal namun rasanya tak ada satupun yang selesai. Saya membutuhkan teladan, mentor, idola, contoh, preseden; maka saya mencari biografi tokoh-tokoh yang menurut saya berprospek untuk saya jadikan idola. Kriterianya, mereka harus merupakan orang yang masih hidup atau setidaknya mengalami hidup di zaman ini.

Saya, tentu saja, sangat mengagumi presiden Iran yang ramai diberitakan di media masa dewasa ini, Ahmadinejad, sebagai tokoh yang masih hidup yang layak untuk dijadikan idola. Namun saya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden, sehingga meskipun telah membaca kisah hidupnya, sangat sulit bagi saya untuk menjadikannya preseden.

Kemudian saya teringat tentang Harun Yahya. Ngomong-ngomong, apakah Anda para pembaca tahu siapa Harun Yahya? Beliau adalah penulis (yang setahu saya masih hidup), yang menulis buku untuk membantah Teori Evolusi Darwin; sebuah teori yang berabad-abad memperkokoh paham Atheis-Marxis-Materialis.

Kisah hidup Harun Yahya ternyata luar biasa. Saya yang menikmati buku-buku dan film-film beliau semenjak SMP, baru kali ini tahu bahwa perjuangannya menulis buku-buku itu tidaklah semulus JK.Rowling menulis Harry Potter.

Ketika masih mahasiswa, ketika ia mulai menulis buku itu, ia di-black list oleh dosen-dosen berpaham Marxis, di kampusnya yang kala itu didominasi oleh kaum Marxis. Tempat dimana seorang muslim menyembunyikan keimanannya (padahal saya mengira Turki adalah salah satu negara bermayoritas penduduk muslim, seperti Indonesia). Ia seorang diri melakukan penelitian, membiayai penerbitan dan membagikan bukunya secara gratis dengan menjual harta warisan yang ia punya, serta mendiskusikan pandangannya dengan siapa saja yang ditemui. Ia bahkan berdebat dengan para dosen yang kala itu tengah gencarnya mengajarkan teori darwin. Banyak rekan yang saat itu setuju dengan pendapatnya, tapi tidak lantas mendukung apa yang dilakukannya. Mungkin, kalau peristiwa ini terjadi pada mahasiswa zaman sekarang kita akan berpikir: Untuk apa repot-repot? Yang penting IPK bagus dan dapat kerja bergaji 10 juta. Toh kuliah hanya sebentar.

Selama tiga tahun is seorang diri, hingga kemudian muncul pemuda-pemuda yang mendukungnya secara penuh.

Ia pernah dipenjara dengan tuduhan yang dibuat2. Seperti di buku Ayat-Ayat Cinta itu. Tapi, yang dilakukan Harun Yahya terhitung layak untuk sampai mendapat musuh sedemikian rupa, bukannya hanya karena kisah cinta dangkal dan cemburu buta dari salah satu pengagum wanita seperti Ayat-Ayat Cinta.

Harun Yahya pernah disiksa dalam rumah sakit jiwa. Percaya?
Adnan Oktar (nama asli Harun Yahya) mula-mula ditahan dan ditempatkan dalam sebuah penjara. Lalu, beliau dipindahkan ke rumah sakit jiwa Bakirköy dan ditempatkan di bawah pengawasan dengan alasan yang dibuat-buat, yakni bahwa secara mental beliau tidak sehat. Dalam rumah sakit tersebut beliau di tempatkan di ruang 14A, sebuah bagian khusus tempat tinggal pasien-pasien yang sangat berbahaya dan orang-orang yang kebal hukuman. Pembunuhan adalah kejadian biasa bagi para pasien sakit jiwa ini, sehingga Oktar diperkirakan akan menjadi korban dari salah seorang di antara mereka. Untuk beberapa lama kaki beliau dirantai ke sebuah tempat tidur dan beliau diperlakukan secara biadab. Secara paksa, beliau diberi obat yang mengganggu kesadarannya.
Secara keseluruhan beliau dipenjara dan disiksa di ruamh sakit jiwa selam 19 bulan, yang saya yakin akan saya rasakan sebagai waktu yang sangat, sangat lama. Kemudian Harun Yahya dibebaskan oleh pengadilan karena pernyataannya diangga tidak bersifat ofensif. Dua tahun setelah itu beliau mendirikan lembaga riset sains untuk mendukung usaha penulisan buku-bukunya, dengan tujuan membuka wajah sebenarnya dari Teori Evolusi.

Harun Yahya juga pernah mengalami tuduhan serius dengan ditemukannya kokain dalam penggerebekan rumahnya di Istanbul. Beliau ditahan selama 62 jam dan harus melakukan tes darah. Tes darah yang dilakukan pun menunjukkan adanya kadar kokain yang sangat tinggi dalam darah beliau! Namun pengadilan dan penelitian ilmiah membongkar hasil tes darah yang palsu itu. Bahwa jika terdapat kadar kokain dalam darah sebanyak itu setelah 62jam mengkonsumsi kokain, maka jumlah kokain yang dikonsumsi pasti akan membawa pada kematian. Sementara beliau masih hidup.

Tentu saja, segala macam makar yang dialami Harun Yahya, terlepas dari mana datangnya (dunia begitu rumit dan penuh kebohongan, seperti yang kita tahu, sulit mecari siapa dibalik apa, apalagi di Indonesia kita tercinta), malah membuat jumlah pendukungnya bertambah banyak. Pandangannya mulai didengar dan diterima oleh masyarakat luas. Kini buku-buku itu tersebar di seluruh dunia.

Buku-bukunya, selain membantah Teori Evolusi, juga membahas topik-topik Freemason, Yahudi, dan lain-lain. Tapi yang paling menggugah saya secara pribadi adalah buku-buku beliau yang mengungkap kebenaran al-Qur'an secara ilmiah. Saya ingin kita memahami Qur'an. Saya ingin aku, kamu, kita, yang mengaku Islam, berbicara mengenai Al-Qur'an. Minimal untuk membawa diri sendiri kepada kebenaran. Jika kemudian jalan yang dihadapi begitu sulit, seperti Harun Yahya, maka kita tak ragu lagi tengah melakukan sesuatu yang benar.
Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-harun-yahya.html

No comments:

Post a Comment