2.2.12

Coffee Cup #7: Eyang

Eyang Putri-ku dari pihak Ayah bernama Supiyati, sementara Eyang Kakung-ku bernama Sonosejati. Namun karena Eyang Kakung memiliki tujuh saudara yang sebagiannya masih hidup dan masih sering ditemui oleh kami-kami para cucu, maka kedua eyangku dipanggil dengan nama Eyang Sono (Nama dari 'Yang 'Kung).

Bisa dikatakan aku punya banyak pasangan eyang karenanya: Eyang Sri, Eyang Drajat, Eyang Pur, Eyang Burhan, dan lain-lain (termasuk sepupu-sepupu jauh yang sangat banyak sekali). Setelah aku tanya pada ayahku, rupanya nama kakek buyut-ku dari pihak Eyang Kakung bernama KH.Khasan dan kakek buyutku dari pihak Eyang Putri bernama Praptohartono.

Mama (panggilan untuk ayah dalam adat Cirebon, yang digunakan untuk menyebut kakekku dari pihak Ibu) bernama H.Djubaedi, dan Mimi (panggilan untuk nenek dari pihak Ibu) bernama Asfah. Ketika aku mencoba bertanya pada ibuku, ibu sendiri mengaku tidak tahu nama kakek-neneknya, sehingga aku tidak bisa menuliskan nama kakek buyut-ku dari pihak ibu. Tapi ibuku pernah berkata bahwa Mama adalah keturunan saudagar Arab-Cina. Hmm.. mungkin itu bisa menjelaskan kenapa kini kebanyakan anaknya (Pakde-Bude-Pakle-Bule-ku bahkan sepupu-sepupu-ku) berbakat menjadi pedagang juga.

Bisa disimpulkan bahwa ayah dan ibuku keturunan kyai, meskipun Eyang Putri-ku tidak mengenakan jilbab.

Dari ke-empat kakek nenek kandungku, sekarang hanya ada Eyang Putri. Eyang putri berusia 76 tahun (menurut Ibu) dan kini tubuhnya sudah lemah sekali. Eyang begitu mungil dan kurus, hanya bisa berbaring di tempat tidur dan di sebagian waktunya Eyang benar-benar tidur. Bahkan Eyang bisa tiba-tiba tertidur di tengah-tengah waktu makan atau minum, atau di tengah percakapan.

Aku sebelumnya sangat jarang bertemu Eyang karena kami lebih sering berkunjung ke Cirebon setiap lebaran. Malahan, dulu sewaktu Eyang bugar dan sehat, Eyang lebih sering berkunjung ke Bandung dan menetap di Bandung bersama Eyang Sri dan Eyang Burhan. Aku ingat Eyang dulu suka membawakan kami berkaleng-kaleng susu Dancow yang berhadiah gelas kristal, serta roti zaman dahulu yang bentuknya tidak serapi Sari Roti atau Holland Bakery. Kini Eyang dan Eyang Sri keduanya tinggal di Yogyakarta di dekat eyang-eyang yang lain.

Beberapa kali pasca Tugas Akhir ini aku pergi ke Yogyakarta bersama Ibu untuk menemani Eyang. Sejujurnya, aku ingin mendengar cerita Eyang semasa muda, atau kisah Eyang sewaktu kecil, yang aku yakin sangat menarik karena begitu berbeda dengan masa kini. Tetapi berbicara panjang lebar sepertinya terlalu melelahkan untuk Eyang. Ketika eyang berbicarapun kini bagaikan bisikan. Jadi aku hanya duduk saja di samping sementara Eyang menggenggam tanganku erat-erat. Rasanya sayang, dulu aku belum berhasil mengorek lebih banyak tentang cerita masa lalu Eyang.

Ibuku sangat telaten saat mengurus Eyang. Dibandingkan aku, Ibu lebih tau bagaimana menyuapi Eyang, mengganti pakaian, mengubah posisi tidur, dan lain sebagainya. Kadang-kadang aku berpikir aku lebih banyak melakukan kesalahan yang merepotkan daripada membantu, sehingga aku memilih duduk dan membaca.

Masa tua, kelak ayah ibuku akan tua juga. Jika umurku sampai aku pun akan tua juga. Aku mencoba membayangkan seperti apa aku kelak jika aku menjadi tua seperti Eyang. Apakah aku akan kuat dan ceria? Seperti seorang kakek berbaju hitam garis-garis khas jogja yang kami temui di kereta? Kalau boleh memilih aku ingin terus sehat saja. Agar bisa terus membawakan susu dan roti seperti yang dilakukan Eyang. Oh, Eyang.

No comments:

Post a Comment