3.2.12

Coffee Cup #8: Mother, My Language is..

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa saya tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali. Aslan. Padahal ayah berasal dari Jogja dan sepupu-sepupu saya dari pihak ayah hampir semua bisa berbahasa Jawa. Kini saya mengalami kemajuan dengan mengetahui kata "Boten". Ha.

Sudah jadi pengetahuan umum pula bahwa bahasa sunda saya sangat mengenaskan. Sedikit bicara, maka orang langsung menebak: "Sanes asli Sunda nya, Teh?" Pasalnya kosakata bahasa 'lemes' saya sangat terbatas.

Saya ingin menguasai dua bahasa itu minimal, untuk mengenal siapa diri saya dan di mana saya tinggal. Banyak literatur sunda yang telah menarik perhatian saya semenjak lama. Yang terpaksa saya tinggalkan karena tingkatan basa sunda-nya terlalu advance.

Meskipun demikian, saya bersyukur masih diizinkan memahami bahasa indonesia dan inggris.
Dengan mengerti bahasa Indonesia, saya bisa bersekolah hingga ke ITB. Dengan menguasai bahasa inggris saya bisa membaca buku-buku wordsworth classics dan buku-buku literatur. kini, kunci dunia yang manakah yang ingin kubeli? bahasa mana yang ingin saya pelajari?

Bahasa Jepang
"Konichiwa! Watashi wa Nadiya desu." adalah kalimat terpanjang yang bisa saya ucapkan dengan benar. (ampas) Banyak orang belajar bahasa jepang karena ketertarikan pada anime dan manga. Tapi saya sudah melewati masa-masa membaca komik sewaktu SMP dan kini tidak lagi menganggapnya worth it. akan berbeda ceritanya bila saya kemudian mendapat beasiswa s2 ke jepang.

Bahasa Arab.
Tentu saja bahasa Arab saya kini hanya terbatas pada "Maa haaza wan man dzaalika? Haaza miftahun wa dzaalika mudarrisun." Bahasa arab akan membuka cakrawala pada literatur Arab.Terutama memahami qur'an, hadist, dan manuskrip2 kuno. Saya penasaran mengapa bahasa ini dianggap sebagai bahasa terbaik pada zamannya.

Bahasa Jerman
Arsitektur Jerman sangat menarik, meski saya lebih tertarik pada Spanyol. Belajar di Jerman tampaknya merupakan prospek yang menarik pula. Banyak literatur arsitektur di perpustakaan yang ditulis dalam bahasa jerman dan dengan sangat menyesal saya tidak bisa memahaminya. Akankah aku belajar bahasa Jerman saja?

Satu demi satu, sobat... satu demi satu.

No comments:

Post a Comment