11.6.12

Coffee Cup #13: Berteman Dengan Lapar

Saya saat ini tengah membaca sebuah buku menarik. Judulnya "Selimut Debu" karya Agustinus Wibowo, seorang jurnalis-fotografer-penulis yang pergi menjelajahi sebagian besar pelosok negeri medan perang Aghanistan. Semakin saya jauh membaca, semakin saya kagum pada penulis dan rakyat Afghanistan.

Pada penulis, saya memberikan ucapan salut atas perjalanannya yang luar biasa melelahkan dan pelik. Serta niatnya yang kuat untuk menjelajah Afghanistan sampai-sampai menyiapkan diri belajar bahasa Farsi, Dari, Rusia, hingga bahasa Urdu.Selain itu, tulisan-tulisannya juga seringkali netral tanpa menghakimi sehingga perbedaan keyakinan dan pandangan penulis tidak terlalu menghalangi saya menyerap nilai-nilai yang universal. Terimakasih juga karena telah membuat saya tertawa, bergidik ngeri, hingga menangis di beberapa sudut halaman.

Lapar, lelah, panas, dan debu nampaknya merupakan keseharian negeri Afghan yang tak kunjung usai. Perjalanan puluhan kilometer sering ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau ingin sedikit mewah pun, mereka hanya bisa menggunakan keledai dan truk tua buatan Jepang yang berkecepatan 15 kilometer per jam. Keledai! Saya melihat foto-foto pengelana yang duduk di atas keledai. Benar-benar seperti dalam cerita Abu Nawas saja. Dan seperti yang dikatakan Agustinus Wibowo, ia boleh bersyukur karena hanya merasakan semua kepayahan itu dalam perjalanan ini saja, sementara warga Afghannistan harus sabar menerima keadaan sedemikian selama hidupnya. Bagaimanakah rasanya?

Ngomong-ngomong soal lapar. Sudah saatnya bagi saya untuk berteman lebih dekat lagi dengan lapar. Perut kenyang membuat otak tumpul dan produktivitas berkurang, menurut hemat saya. Lapar akan membuat kita terjepit memang, tapi memacu diri untuk tidak berpuas diri dan terus maju. Dulu sebelum saya mencoba berteman dengan lapar, saya sempat bertanya-tanya, seperti apa sih rasanya lapar? Karena biasanya, sekalipun puasa sehari penuh saya tidak merasa lapar. Kini saya sedikit-sedikit telah mengetahui rasanya lapar dan tanda-tanda memang sudah saatnya harus makan. Untunglah maag saya sudah sembuh hingga saya bisa lebih leluasa berteman dengan lapar.

Berteman dengan lapar bukan berarti menyiksa diri, sungguh. Bukan berteman hingga anoreksia begitu, bukan, tapi sesuai tuntunan Nabi "makanlah ketika lapar, berhenti sebelum kenyang" dan "cukuplah beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggung". Bukankah orang yang dibenci Allah adalah mereka yang mengisi perut penuh-penuh dan tidur dalam keadaan kekenyangan?

Oh ya, satu hal yang juga penting. Berteman dengan lapar bukan berarti berteman dengan kemiskinan. Seorang muslim wajib memanfaatkan potensinya, serta berhak untuk mencari nafkah di muka bumi. Sahabat Rosul yang paling rajin melakukan shaum adalah mereka-mereka yang kaya raya; seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Mereka tidak kaya untuk mengisi perut, tapi untuk menafkahkan di jalan Allah. Bukankah kedengarannya hebat? Mari berteman lebih dekat lagi dengan lapar dan terus maju! :)

No comments:

Post a Comment