21.6.12

Coffee Cup #15: Produktivitas Kerja dan Liburan

Belakangan ini saya sedang membaca sebuah buku yang bakalan membuat saya tampak sangat nyolot sekali kalo saya bawa ke kantor. Judulnya "Freshgraduate Boss" dari Margareta Astaman. Ada bagian yang membahas tentang kerja vs liburan. Saya  setuju ketika dia bilang kerja itu ngga ada yang santai. Kalau mau santai kayak di pantai namanya liburan.

Ngomong-ngomong soal kerja, kali ini saya tengah fokus pada dua hal yang sama besar prioritasnya. Tiga hal sebenarnya. Loh, fokus kok pada dua-tiga hal? Yang namanya fokus itu kan pada satu hal.

Tergantung. Tergantung seberapa dalam kamu mengerjakannya, seberapa total kamu menginvestasikan waktu tenaga dan pikiran dalam hal yang kamu kerjakan, serta seberapa berkomitmen kamu terhadap agenda dan target. Kalau cuma satu kerjaan tapi lenje-lenje malas, ya sama saja dengan ngga fokus.

Sekarang perihal liburan. Mungkin sebagian orang akan menganggap saya boros bahkan cenderung hedon karena mewajibkan ada acara main setiap weekend. Tapi, beberapa penelitian --seperti yang dilakuakan oleh Marshfield Clinic Research Foundation di Wisconsin; National Heart, Lung & Blood Institute di Bethesda, Maryland; Dr Gail Saltz; dan banyak lagi yang bisa Anda google sepuasnya-- liburan berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas kerja, berkorelasi positif terhadap kesehatan, hingga mempertahankan keselarasan hubungan sosial dengan sesama (keluarga maupun teman).

Liburan bukan melulu buang-buang uang dalam bentuk karaoke, makan, nonton, blanja-blanji ke mall; tapi bertemu keluarga dan sahabat untuk ngobrol, berbagi, dan tertawa. Liburan yang lebih efektif lagi adalah mencari udara segar dan keindahan alam yang jarang kita temui di kota. Esensi liburan, menurut hemat saya, adalah memberi jeda di antara rutinitas kehidupan serta menggali lebih dalam tujuan hidup dan rencana masa depan.

No comments:

Post a Comment