26.8.12

Coffee Cup #19: Yang saya pelajari dari Al-Faruq


Akhirnya saya berkesempatan menonton puluhan episode serial Umar bin Khattab yang katanya ditayangkan di MNC TV selama Ramadhan kemarin. Ternyata film serial ini bagus sekali, serius. Di antaranya ada hal-hal yang menggugah dan membekas, yang membuat saya semakin ngefans sama AL-Faruq, Amirul Mu'minin; di luar kisah tentang beliau yang pernah saya dengar sebelumnya. Misalnya:

*Ketika Umar bertugas bermalam menjaga unta Al-Khattab
"Aku tidak mengeluh. Di tempat terbuka ini, kehidupan memberikanmu kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni, dengan tanpa hambatan.
Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak. Kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap-tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap-tiapnya berkumpul pada kawanannya, tetapi tidak ada dua unta yng identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu kepada anak-anaknya.
Di mana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tidak akan berkembang sampai mereka mempunyai pemimpin yang mengurus urusan mereka. Barangsiapa yang memberontak akan binasa. Serigala hanya menyerang domba yang sendirian.
Jika orang-orang bersatu, orang-orang tersebut akan memiliki sifat dan pikirannya sendiri. Mereka akan mengejar langkahnya sendiri, kepentingan dan apa yang diinginkan oleh mereka. Tak ada satupun yang bisa menggantikan yang lain. Jika tidak seperti itu, manusia tidak akan butuh kepada yang lain. Tidak ada yang butuh apa yang dimiliki orang lain. Maka, bersama-sama adalah bagaimana mengatur kepribadian mereka dan perbedaan mereka sehingga mereka bersatu.

*Setelah Haji Wada:
"Aku takut aku bukan menyempurnakan Agama, tapi sebaliknya."

*Setelah Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah, dan terjadi perpecahan.
"Itu sudah biasa, Abdullah. Manusia saling berbeda pendapat, pemikiran, dan ijtihadnya. Kemudian sebagian dari mereka atau mayoritas dari mereka bersepakat atas suatu perkara yang akan dijadikan ijma'.
Mengenai perbedaan yang berhubungan dengan hawa nafsu manusia, Allah lebih mengerti akan hal itu. Dan janganlah mempertanyakan apa yang ada di hati manusia. Dan janganlah kita sombong terhadap yang lain. Dan janganlah menghukumi seseorang tanpa bukti yang jelas. Karena Allah tidak mensucikan kita dari perbuatan dosa.
Maka bersalah orang yang salah asal niatnya benar. Bisa jadi orang itu berkata benar tapi apa yang dikehendaki adalah kebatilan. Janganlah kita meninggalkan kebenaran hanya karena siapa yang berkata. Dan kita lebih utama akan kebenaran itu, barangsiapa yang mendapatkannya, maka ia berhak atasnya.
Dan ingatlah hal ini. Sesungguhnya manusia telah beranggapan salah terhadap para sahabat dengan menganggapnya suci tanpa dosa. ini telah berlebihan dalam meninggikan tingkatan manusia meskipun di balik itu muncul atas dasar ketaqwaannya. Jika demikian, ketika mereka melihat ada yang berbeda pendapat dengannya, mereka akan menjatuhkannya dan menghina agamanya. Kemudian datanglah setelahnya suatu kaum yang membenci Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka saling menjatuhkan agamanya masing-masing."

*Setelah diangkat menjadi Khalifah:
"Bagaimana pendapatmu wahai 'Atikah?" "Tentang apa?" "Tentang kecerobohanku?" (Atikah tertawa kecil) "Pada dirimu terdapat karakter yang keras tapi baik. Kau keras pada dirimu sendiri dibanding pada orang lain. Kau pergunakan sifat kerasmu itu untuk kebenaran.. dengan kembali pada kitab Allah. Dan kau mengimbanginya dengan impian dan kasih sayang dan belas kasihan kepada kami. Maka lakukan segala perbuatanmu dengan baik, Abu Hafs. Karena sesungguhnya Allah mencintaimu."

No comments:

Post a Comment