26.8.12

Coffee Cup #20: Roda Indonesia


Indonesia. Bahkan saya lupa ini perayaan dirgahayu Indonesia ke berapa, sampai-sampai saya harus googling dulu sebelum 'ngeh' bahwa usia RI kini 67 tahun. Ah, Indonesia, benarkah namamu Indonesia? siapakah yang memberi nama? Namun, tentu saja, apalah arti sebuah nama.

Seorang bijak pernah berkata:
"Seribu tahun yang lalu, seribu tahun yang akan datang, itulah waktu. Dan, kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi!"-Asy-Syibli-

Ya,
Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi. Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi.

Jika saat ini Indonesia telah melalui 67 tahun pasca apa yang disebut dengan 'merdeka', lantas, kemajuan apa yang telah kita capai? Apa yang telah kita raih? Dan ke manakah negeri ini menuju?

Dalam pandangan seorang kacung muda bau kencur yang baru saja jadi sarjana, rasanya kita hanya berjalan di tempat. Bak berlari di atas roda yang berputar. Bahkan bisa di katakan roda sejarah kita tersendat dan berhenti berputar. Perubahan demi perubahan, peristiwa demi peristiwa, tahun demi tahun, serta pemilu demi pemilu yang silih berganti tidak membawa kita kemana-mana. Seolah tak ada gunanya mengikuti berita terkini karena toh mayoritas masyarakat pun menyadari bahwa kasus-kasus sepenting apapun tak pernah 'selesai' di negeri ini. Korupsi, bencana industri, pembunuhan dan hak asasi manusia, kecurangan, serta kasus ketidakadilan. Sebutkan satu saja kasus yang terungkap penyelesaiannya di negeri ini, maka saya akan bertepuk tangan.

Tapi, ah, tahu apa bayi berusia 22 tahun ini soal negara.

Saya jadi teringat sebuah kutipan novel karangan penulis Maroko:
"Lelucon-lelucon terus mengalir, Hammu," jawabnya, "tetapi berbagai problem sejarah akan tetap ada. Jumlah orang yang berpikir serius tentang nasib dan masa depan sangat sedikit. Oleh karena itu, aku tidak boleh meninggalkan mereka sendirian, terutama ketika aku menyaksikan para penguasa sekarang, para pemuja egoisme yang merajalela, memberikan kebebasan untuk melakukan apapun, dan tidak peduli dengan bencana-bencana besar yang mereka sebabkan. Aku harus meneliti berbagai masalah secara tekun dan mendalam. Aku harus melatih pikiranku agar bersabar dan tidak tergesa-gesa, seraya beranggapan bahwa pastilah ada jalan keluar di ujung lorong dan sambil mengulang-ulang di pagi dan sore hari: "Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia." Engkau tidak menciptakan kami dengan sia-sia! Namun sebelum kita mulai beranggapan dan berharap, Hammu, catatlah kenyataan yang ada. Tulislah karakteristik-karakteristiknya yang tidak menjanjikan. Tulislah dengan mengingatkan semua orang bahwa mengetahui masalah-masalah seperti ini wajib bagi setiap pembaharu."-- Bensalem Himmish dalam Ibnu Khaldun Sang Mahaguru

Siapakah sejarawan yang tengah menuliskan detik-detik yang bergulir di negeri ini saat ini? Saya ingin bertemu. Saya bosan mendapat berita-berita simpang siur yang tak jelas asal-usulnya. Setiap pagi kotak kaca bernama televisi membesar-besarkan peristiwa, mengundang narasumber ini dan itu, serta mengulang-ulang narasi berita yang telah diputar sejak hari sebelumnya. Namun setiap kali muncul peristiwa yang menarik, kasus yang lama dengan mudah terlupakan dan tak muncul bahkan di bagian tengah koran sekalipun. Saya penasaran jika memang ada sejarawan yang tengah mencatat, bagian mana dari berita yang dicatatnya ketika kebenaran tak pula nampak? Anak cucu negeri beberapa dekade mendatang akan mempertanyakan apa yang terjadi hari ini seperti kita mempertanyakan beberapa dekade yang lalu. Apakah yang akan kita beri?

Ah, lagi-lagi, bayi tahu apa. Cukup belajar sungguh-sungguh, terus dan terus dan terus hingga bisa membuahkan karya yang layak.

Tapi, Indonesia, izinkan saya bertanya. Jika sampai usiamu hingga seabad, apakah yang akan telah kau capai kelak?

No comments:

Post a Comment