10.7.13

Coffee Cup #28: Beasiswa

Kegiatan yang satu ini telah tumbuh menjadi semacam hobi: googling beasiswa - lomba - hibah dan semacamnya. Minimal satu jam dalam sehari saya habiskan untuk ini. Bahkan lebih lama dari menamatkan 1 juz Al-Qur'an atau menyelesaikan makan.

Penemuan saya: ternyata beasiswa itu amat sangat banyak dan beragam. Banyak yang menggiurkan dan  saya di sana termasuk kategori ''eligible applicants''. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ternyata beasiswa itu tidak terlalu relevan dengan cita-cita saya.

Misalnya beasiswa kursus Bahasa Arab ke Kuwait selama satu tahun. Syaratnya lulusan Madrasah Aliyah (saya termasuk), maksimal 30 tahun (saya termasuk), dan sudah pernah belajar Bahasa Arab selama minimal 4 tahun (saya termasuk). Dari dulu saya pengeeeen banget bisa belajar Bahasa Arab sungguhan. Awalnya gara-gara ada teman yang bilang begini: "Jadi seorang muslim itu harusnya wajib bisa Bahasa Arab ya, Nad. Karena sumber ilmunya pun diturunkan dalam Bahasa Arab. Kita (di Indonesia) beruntung dahulu berhasil mengetahui pemalsuan kitab-kitab kuning karena pendahulu kita mengerti betul Bahasa Arab. Coba kita sekarang, bisa jadi kalau dikasih selebaran yang isinya ayat atau hadist palsu kita ngga akan ngeh."

Hanya ada beberapa kendala:
1. Kursusnya harus di Kuwait. Entah kenapa kalau kursus Bahasa Jepang di Jepang atau kursus Bahasa Jerman di Jerman kesannya oke-oke saja. Tapi kalau kursus Bahasa Arab di Kuwait kok serem ya kesannya. Apalagi untuk cewek.
2. Baru sebatas keinginan pribadi. Beasiswa umumnya diharapkan bisa memberi manfaat ke lebih banyak orang. Alangkah baiknya bila penerima beasiswa bisa meneruskan manfaat yang dia terima dari beasiswa tersebut ke lingkungan di sekitarnya. Sementara saya tidak berniat jadi guru Bahasa Arab. Saya mau jadi arsitek loh. Apakah beasiswa ini relevan?

Sama seperti memilih hobi, banyak hobi menyenangkan yang tidak relevan tapi boleh-boleh saja dilakukan untuk mengisi kegiatan di waktu luang. Satu dua hobi oke. Tapi kalau sepuluh, bisa-bisa ketika semuanya disatukan malah menghabiskan waktu yang sama dengan pekerjaan utama.

Akhirnya, saya menjadi agen beasiswa saja lah. Kalau ketemu dan nampaknya bukan bagian saya, saya transfer ke orang lain yang menurut saya cocok.Semoga yang lain bisa memanfaatkannya dengan lebih optimal. Amin

3 comments:

  1. Mbak gmana proses mendapatkan beasiswa kursus bahasa arab di kuwait

    ReplyDelete
  2. Mbak gmana proses mendapatkan beasiswa kursus bahasa arab di kuwait

    ReplyDelete
  3. baiasanya untuk pendaftaran kapan ya dibuka ?

    ReplyDelete