9.7.13

Coffee Cup #27: Dalam Pencarian

Kalau sekedar baca judulnya, nampak sangat galau sekali ya kata ''Pencarian'' ini. Untungnya sama sekali tidak saudara-saudara. Pencarian ini justru sangat sangat tercerahkan.

Hari ini tanggal satu Ramadhan. Asyik sekali, ada satu bulan khusus di mana kita bisa memulai kebiasaan-kebiasaan baru (atau kebiasaan-kebiasaan lama yang terlupakan) untuk kembali lebih mencintai diri sendiri. Hey, saya rajin loh, misalnya, dibuktikan dengan sahur, shalat subuh tepat waktu, dan bekerja sejak fajar menyingsing. Hey, saya kuat loh, misalnya, dengan menahan hal-hal yang boleh tapi melenakan dan memilih mengerjakan hal yang jauh lebih bermanfaat. Hey, saya memilih dekat dengan Allah loh, misalnya, dengan meluangkan waktu mengkhatamkan Qur'an dibanding menamatkan novel atau komik online. Sungguh Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan manfaat.

Ngomong-ngomong soal pencarian, saya teringat motto seorang teman yaitu "Selalu menjadi versi no.1 diri  sendiri daripada menjadi versi no.2 orang lain." Menjadi unik adalah memberi manfaat di kolam yang masih sepi, katanya. Tapi memberi manfaat tidak harus selalu unik. Saya kemarin membaca tulisan dari mentor-mentor di Indonesia Mengglobal tentang beasiswa. Salah satu peluang agar seseorang lolos untuk menerima beasiswa adalah keterlibatannya di kegiatan sosial. Misalnya dengan ikut aktif di kegiatan lingkungan tempat tinggal dengan menjadi penyelenggara kegiatan olah raga, pengawas pemilu, kerja bakti, dan lain sebagainya. Bukan karena dengan terlibat di kegiatan sosial berarti dia berhati malaikat, tapi dengan begitu berarti dia terpikir dan telah terbukti melangkah untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.

Ada sebuah film menarik berjudul "The Letter Writer" tentang seorang kakek bernama pena Sam, yang memutuskan untuk menjadi seorang 'penulis surat' agar bisa memberi manfaat di akhir hidupnya. Surat yang ditulisnya berhasil mengubah hidup seorang remaja bernama Maggie, yang tadinya hanya memikirkan cita-citanya untuk menjadi penyanyi band, menjadi orang yang lebih peka terhadap lingkungan dan memutuskan untuk menggunakan suaranya untuk memberi manfaat. Maggie menulis lagu dan menjadi penyanyi solo, membuat rekaman story telling untuk tetangganya yang kanker, memimpin paduan suara orang-orang tua di panti jompo untuk kejutan ulang tahun Sam, dan menjadi bersungguh-sungguh di sekolah demi ibunya.

Maggie terinspirasi oleh Sam. Kita bisa saja terinspirasi oleh seorang teman, tetangga, kakak, adik, ibu, ayah, yang selama ini ternyata memberi banyak manfaat bagi sekitar. Saya misalnya terinspirasi oleh Ibu, yang memberi banyak untuk anak-anaknya yang padahal sudah cukup umur ini. Saya juga terinspirasi oleh Boim Zahra dan Budhe Eha. Memastikan rumahnya selalu bersih dan nyaman dihuni bukan pekerjaan mudah, tapi mereka melakukannya hampir secara otomatis. Saya juga terinspirasi oleh para reader sukarelawan di Ummi Maktum. Saya terinspirasi oleh Maggie, Quentin Blake, Enid Blyton, dan lain-lain. Karenanya, saya tidak masalah menjadi follower yang mengikuti jejak inspirasi mereka. Saya hanya ingin menyatukan yang terbaik dan menjadi versi terbaik diri saya sendiri.

Bismillah. Selamat datang Ramadhan. :)

No comments:

Post a Comment