27.4.14

Jiwa-Jiwa yang Jernih

Setelah berkutat dengan tugas studio, saatnya membuka catatan tentang khutbah kemarin yang sangat menginspirasi. Apalagi saat ini, di kala jauh dari rumah, keluarga, dan saudara-saudara seiman yang biasa jadi tempat saling nasihat-menasihati. Menghadiri konferensi muslim dan mendengarkan khutbah dari para ahli ilmu dan ahli ibadah bisa jadi pengingat sekaligus ajang meluruskan niat.

Topik muslim conference kemarin mungkin tampak biasa saja: Qur'anic Inspiration in Life. Bukan topik yang terdengar canggih, tapi penting sekali untuk setiap orang yang mengaku muslim. Dan saya jadi teringat pesan Ayah dan Pakde untuk selalu dekat dengan Al-Qur'an, juga bbm Mamah beberapa hari yang lalu: "Neng, masih tadarus-an setiap hari kan?".

Saya akan mulai catatan ini dengan kata-kata penutup konferensi kemarin.
"Jiwa-jiwa yang jernih, murni, akan selalu merasa haus untuk bercakap-cakap dengan-Nya."

Sesi 1

Qur'an adalah Kalamullah. Teringat pelajaran di sekolah dulu, ini berarti bahwa Qur'an adalah perkataan Allah yang langsung ditujukan pada manusia, melalui Jibril ke Nabi Muhammad SAW. Khutbah dan diskusi sesi pertama dalam konferensi membahas hal ini. Betapapun usaha manusia untuk membuktikan bahwa Qur'an itu hasil gubahan manusia (Muhammad SAW), tidak akan pernah berhasil. Dahulu ketika Musailamah mencoba menggubah syair untuk menyaingi Qur'an, syair yang tercipta sangat jauuh dari kualitas dan karakter ayat-ayat Qur'an. Demikian pula yang ditemukan oleh Nicholason, seorang peneliti yang mempelajari teks-teks arab. Setiap teks Arab dapat diidentifikasi akarnya, dan dikenali memiliki kesamaan gaya dengan tulisan pendahulunya. Akan tetapi Qur'an memiliki karakteristik khusus yang hanya ada pada Qur'an itu sendiri. Ia sama sekali berbeda dengan teks arab lainnya.

Saya jadi teringat topik TEDtalk beberapa minggu lalu. Topiknya adalah 'Everything is a Remix'. Bahwa gubahan manusia sebenarnya bersumber dari karya manusia sebelumnya. Shakespeare, Khalil Gibran, Bob Dylan, Elvis, dan banyak artis serta 'pencipta' karya kenamaan lainnya, ternyata diusut mengambil sari-sari karyanya dari tempat lain. Coba telusuri lebih lanjut di sini. Juga mengutip pernyataan Ford:
“I invented nothing new. I simply assembled the discoveries of other men behind whom were centuries of work … progress happens when all the factors that make for it are ready and then it is inevitable.” — Henry Ford [From the book The Business of America]
Berbeda dengan Qur'an, sebab Qur'an langsung diturunkan oleh Allah SWT. Yang dibuat manusia dan dianggap benar atau terbaik saat ini bisa jadi terbukti salah di masa depan. Seperti ketika Galileo mencoba membuktikan bumi itu bulat dan Harun Yahya membuktikan Teori Evolusi Darwin itu nonsense. Sementara itu yang ada dalam Qur'an akan terjamin kebenarannya. Maka kemanakah kita harus berpegang teguh?


Sesi 2

Sesi dua ini berhasil bikin temen sebelah saya senyum-senyum sendiri. Sensitif soalnya noona ini mendengar kata marriage. Sesi ini membahas inspiring qur'an for having a great marriage. Pembahasan dimulai dengan membandingkan 'rumah' dengan qur'an dan 'rumah' tanpa qur'an. Rumah dengan qur'an akan menjadi rumah yang paling berbahagia, sebab rumah ini dibangun bukan mengikuti keinginan sang istri atau sang suami, melainkan mengikuti standar Qur'an.

Oke, dimulai dari ajang pencarian jodoh. Tiga hal, menurut Ustadz Utsman yang bisa dijadikan pedoman: 
1. A common higher purpose in life. Bukan materi, bukan kedudukan, tapi sama-sama tujuan untuk berkualitas di hadapan Allah.
2. Love is important. 
3. Mercy is also important. Bahwa setiap orang melakukan kesalahan. Lovingly focus on the positive and have mercy, otherwise the marriage will be a rotten one.

Menurut syeikh yang lain:
1. Carilah orang yang baik dan berakhlak mulia, berbuat baik pada keluarganya.
2. Man enough to talk directly to your father.

Di sesi ini kemudian muncul pertanyaan dari audience: If we wait until after marriage to find love, what if we just can not love him/her? Pertanyaan standar terutama dari mereka yang takjub bahwa muslim bisa menikah tanpa pacaran atau tunangan dulu. Jawaban para panelis singkatnya begini: "Siapa bilang kita harus membeli kucing dalam karung? Siapa bilang tidak boleh saling mengenal?" Justru proses berkenalan adalah hal yang dianjurkan dalam Islam, asalkan sesuai dengan tuntunan Qur'an dan sunnah. Ingatlah untuk mencintai dengan standar Allah, bukan keinginan pribadi semata. Dan sampai di sini, saya jadi teringat pesan salah satu sobat saya (yang akan menikah September ini), bahwa Allah itu maha pembolak-balik hati.

Setelah berbicara tentang para calon orang tuanya, sampai juga ke pembicaraan tentang anak yang sholeh. Jika ingin mendapatkan anak yang sholeh, menurut Umar bin Khattab ra., ada tiga hal yang harus diperhatikan: give him a good mother, give him a good name, and teach him Qur'an. Juga, orang tua sangat bertanggung jawab untuk menjadi role model bagi anak-anak. Untuk mengharapkan sang anak menjadi ahli Qur'an, misalnya, tak cukup dengan mengirimnya ke madrasah. Dua kesalahan orang tua yang paling umum (menurut Syeikh Aslam) adalah tidak mendidik dengan teladan (lead by example) dan tidak memulai pendidikan Al-Qur'an sejak dini (''Ah.. they are still children").

Hal-hal yang pertama kali harus diajarkan pada anak-anak adalah:
1. Manners. Karena itulah yang paling sulit diubah ketika dewasa, serta menentukan karakter dan jalan hidup sang anak.
2. Stories from Qur'an. Anak-anak sangat suka cerita, so tell them stories from Qur'an. Serta jangan lupa untuk memperhatikan apa yang mereka tonton, apa yang mempengaruhi mereka, sekalipun cerita atau film khusus anak yang terlihat innocent namun ternyata bertentangan dengan Al-Qur'an.

Tak hanya anak-anak sebenarnya dalam hal ini. Siapapun, termasuk kita para orang dewasa, harus punya filter ketika membiarkan apapun masuk melalui indra kita. You are what you eat. You are what you let your eyes watch, your ears listen, your brain thinks. Nasihat dari Imam Hasan Al-Banna, untuk mengenali seorang teman maka kenalilah buku-buku bacaannya. So, you are what you read as well.

Penutup

Qur'an adalah bagian dari seorang muslim. Tak mungkin seorang bisa menjadi muslim bila tidak senantiasa dekat dengan Al-Qur'an serta mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan dari Ibnu Khaldun: bacalah Qur'an setiap hari! Jika mampu meluangkan waktu 9 jam untuk bekerja, atau 12 jam untuk belajar, maka luangkan pula waktu untuk mengkaji Al-Qur'an. Bagi seorang muslim, harus ada porsi khusus bersama Al-Quran setiap harinya.

Bismillah..

Brisbane,
27042014

No comments:

Post a Comment