3.5.14

Coffee Cup #29: Tempat Bergantung

Yang sering terjadi ketika sibuk dengan banyak kegiatan tanpa adanya refleksi, adalah adegan ‘terbawa suasana’. Terbawa keadaan yang menuntut kita dan tak pernah puas. Terbawa dengan pola kehidupan tertentu tanpa mengingat perbaikan. Atau terlalu ‘attached’ dengan orang disekitar kita sehingga terbawa lingkungan pertemanan dan bergantung pada sesama.

Kadang jadi lupa bahwa pada awalnya kita ini sendiri, dan punya tujuan sendiri, yang tidak sama dengan orang lain. That’s what I want to write here. Setelah dua bulan berkecimpung di UQ, hampir saya terjebak dengan apa yang orang lain lakukan dan apa yang mereka pikirkan.

Yup. Sebagai orang yang tergolong sibuk belajar dan main kesana kemari, saya sering memiliki jadwal yang beda dengan kebanyakan teman-teman yang lain. Saat mereka main saya belajar, saat saya mau main mereka belajar. Seringkali saya tidak bisa menikmati duduk-duduk lama setelah makan untuk sekedar ngobrol berkepanjangan, atau jalan-jalan, atau nongkrong. Gemas rasanya ingin bangkit dari meja makan, atau tempat nongkrong, dan kembali bekerja. Sebagai gantinya saya akan merencanakan main yang benar-benar ‘main’, yang benar-benar total dan memorable. Getaway from all this crazy stuff. Bagi sebagian orang, kebiasaan ini mungkin kelihatan aneh ya.

Tapi semakin saya renungi, saya wajib bersyukur setiap kali berhasil membuat pilihan yang berbeda dengan orang lain di sekitar saya. Karena di situlah saatnya saya kembali mengingat-ingat tujuan pribadi dan mempertanyakan arah langkah yang sedang ditempuh. Sering kali hal ini mengingatkan saya bahwa saya tidak akan pernah bisa bergantung pada orang lain. Sering kali ini jadi pengingat bahwa hanya Dia satu-satunya tempat bergantung.

No comments:

Post a Comment