20.1.15

Coffee Cup #39: Jauh

Bukan sekali atau dua kali saja kita mengalami kejadian yang sama. Dan bukan pula berarti de javu, karena kita yakin hal itu pernah terjadi. Mungkin itu yang namanya sejarah yang berulang.

Kemarin hari yang amat bersejarah. Saya pergi mengunjungi para eyang di kota cantik Yogyakarta. Saudara-saudara tentu saja menawarkan untuk tur keliling kota: ke alun-alun, monumen, benteng-benteng, dan belanja oleh-oleh. Tapi liburan kali ini saya hanya ingin menemani eyang.

Jarang-jarang bisa berlama-lama menemani Eyang Sri ngobrol dan mengomentari segala yang ada di TV. Atau bermonolog dengan Eyang Putri dan membacakan tilawah. Atau duduk bersama Eyang Lasno merumpikan si Mbok dan para cucu. Jarang-jarang pula rasanya saya bisa merasa begitu rindu, meskipun telah bertemu.

Tiba-tiba teringat masa kecil piknik bersama dan pengalaman jatuh ke kolam. Haha. Juga tur pribadi ke landasan udara di bandara Husein bersama almarhum Eyang Burhan. Yang unik, kenangan berfoto di teras berkeramik kuning (persis keramik di teras perpustakaan Sipil ITB) yang entah di mana fotonya kini berada. Kenangan ini terasa paling menyentuh. Mengingatkan saya akan waktu yang terus berlalu. Rasanya masa itu begitu jauh. Begitu lama.

Dan saya ingat pernah merasa begini, beberapa waktu lalu. Di kondisi serupa.

No comments:

Post a Comment