29.1.15

Coffee Cup #41: Tentang Rizqi

Awalnya akan saya beri judul "Tentang Hoki", tapi, dikemanakan iman yang ada di dalam hati ini bila saya malah meyakini apa-apa yang saya dapatkan ini karena keberuntungan semata.

"Kok kamu beruntung terus sih.."
"Dapet doorprize lagi? Kamu mah juragan doorprize ih"
"Pas banget ya, untung aja."

Banyak sekali peristiwa yang jika bukan karena rahmat-Nya saya tidak mungkin berhasil. Terlambat ujian hingga satu jam lamanya dan masih diberi A (saya sujud syukur sungguh). Tiba-tiba deadline sidang maju seminggu namun kemudian dosennya baik hati semua dan karya saya terpilih untuk dipamerkan. Jerawatan parah yang sembuh tepat di hari penting (penting!). Dapat tiket gratis saat uang tinggal selembar. Salah hari saat wawancara beasiswa LPDP, namun kini di sinilah saya berada: melanjutkan pendidikan.

Alhamdulillahirabbil'alamin...

Pasalnya, seringkali saya maluuuuu sekali karena belum merasa cukup beramal untuk mendapatkan A B C D dan E. (Berarti cukup amal untuk dapat F? Haha)

Tidak bisa saya menyombong mengatakan ini karena kemampuan saya. No.

Sungguh benar perkataan 'Laa Haula Wa Laa Quwata Illa Billah'. Karena untuk bisa beramal, untuk bisa menyadari karunia Allah, dan untuk bisa bersyukur, semuanya pemberian Dia juga.

Ya Rabb, ajarilah kami untuk pandai bersyukur.

1 comment:

  1. Tambahan:
    بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم. 
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ  

    Imam di sebuah Masjid dalam renungannya berkata:

    "Mungkin kau tak tahu di mana Rizqimu. Tapi Rizqimu tahu di mana Engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.
     
    Allah SWT berjanji menjamin Rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
     
    Tugas kita bukan mengkhawatirkan Rizqi atau bermuluk Cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap karuniaNYA.
     
    Betapa banyak orang bercita menggenggam Dunia; dia LUPA bahwa Hakikat Rizqi bukanlah yang tertulis dalam Angka; tapi apa yang diNikmatinya.
     
    Betapa banyak orang bekerja membanting Tulangnya, memeras Keringatnya; demi Angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya MATI.
     
    Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan Rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari Ibadah. Sedang Rizqi itu urusanNya.
     
    Kita bekerja untuk berSyukur, menegakkan Taat & berbagi Manfaat. Tapi Rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah SWT taruh sekehendakNya.

    Rasulullah SAW bersabda : 
    "Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram."
    (HR. Bukhari)

    Semangat Pagi, Jumat Mubarak 💐

    Sumber: grup WA via line sesama anak LPDP

    ReplyDelete