17.7.10

Sweet Things

Jadi ingat, dulu di suatu tempat pernah membaca beberapa hal tentang persahabatan:

Sahabat ngga akan menertawakanmu, dan memakai sepeda barumu sebelum kau izinkan.

Sahabat punya cara untuk membuatmu tertawa saat menangis.

Seorang sahabat tahu, kejujuran lebih penting daripada pujian.

Sahabat akan membuatmu berpikir dua kali sebelum melakukan hal bodoh.

Sahabat akan membuat hukuman terasa seribu kali lebih ringan.

Sahabat tidak akan pernah membicarakanmu di belakang.

Sahabat akan lebih waras menerima masalahmu daripada para ibu.

Punya sahabat dengan tinggi dan berat badan yang sama, berarti isi lemari baju kita menjadi dua kali lipat.

Punya sahabat dengan hari lahir yang sama, berarti pengeluaran sekaligus pendapatan kita berkurang.

Sahabat tidak akan mencoba mengalah padamu saat pertandingan.

Sahabat tidak memberimu coklat saat kau sedang berdiet.

Sahabat punya seribu cara, untuk membuktikan bahwa ia seorang sahabat.

3.7.10

Mencicipi Pengetahuan: Isu Kenaikan TDL dan Pembangunan PLTSa Gede Bage!

Tidak sengaja, karena ajakan Sri Suryani, saya duduk sebagai pendengar dalam salah satu kajian mengenai kenaikan tarif dasar listrik di selasar TVST hari Kamis kemarin. Dalam kajian itu, saya mencoba menjadi pendengar yang baik, karena saya setidaknya merasa buta terhadap informasi seputar TDL ini. Sungguh kenyataan yang ironis mengingat saya adalah mahasiswi Arsitektur semester 6, seseorang yang bidangnya sangat berhubungan dengan penggunaan listrik (setiap bangunan sekarang menggunakan listrik kan?) setiap harinya. Satu-satunya informasi yang pernah saya dengar adalah berita mengenai rencana pemerintah berminggu-minggu lalu untuk menggratiskan penggunaan listrik 450 watt dengan konsekuensi penggunaan listrik dengan daya yang lebih tinggi mengalami kenaikan tarif. Dan sayangnya, saya tidak tergugah untuk menggali lebih dalam.

Kemudian dengan sedikit ketertarikan, hari Jum’at kemarin saya ikut bersama Susan Hanuningrum Krisanti dan Kania Prita Anggriany menghadiri acara (walhi jabar) screening film tentang inseminator dan rencana lama pemerintah untuk mendirikan PLTSa Gede Bage. Woo... guess what… lagi-lagi saya menjadi pendengar yang baik karena merasa buta terhadap informasi ini. Sungguh miris mengingat saya adalah salah satu warga yang tinggal di sekitar Gede Bage! Satu-satunya informasi yang pernah saya dengar adalah berita koran bertahun-tahun lalu (!) mengenai rencana PLTSa yang tak pernah terwujud ini.

Baiklah, karena saya sudah mencicipi sedikit mengenai hal ini, saya merasa setidaknya saya harus berbagi. Bukan tentang TDL, karena tidak banyak yang saya dapat dari kajian singkat hari itu, tapi tentang inseminator. Saya tidak cukup pintar untuk ingat mencatat selama diskusi, tapi ada beberapa hal yang saya ingat. Dan ada google. J

Intinya, proyek pembangunan inseminator alias pembangkit listrik tenaga sampah ini sudah diberitakan sejak beberapa tahun yang lalu. Namun warga sekitar kawasan yang direncanakan akan menjadi pabrik sampah tersebut menolak mentah-mentah, karena mengetahui dampak buruk dari pabrik pembakaran sampah ini. Tidak hanya sangat mungkin menghasilkan dioksin dalam proses pembakaran, namun juga akan menghasilkan abu sisa yang termasik golongan B3, yang kedua-duanya bersifat membahayakan keselamatan umat manusia. Dioksin adalah racun terparah kedua setelah radiasi nuklir, yang bahkan dalam pembakaran 8000°C masih mungkin terbentuk (saat cooling down). Tidak terbayang oleh saya apa yang akan terjadi pada masyarakat sekitar, jika racun dioksin dan abu B3 ini bertebaran di sekitar mereka. Bukankah kasus Minamata dan Buyat adalah contoh kasus pencemaran yang terlalu buruk untuk terulang kembali? Mengenai bahaya PLTSa ini, silakan baca lebih lanjut di http://walhijabar.wordpress.com/2010/05/15/petisi-stop-rencana-proyek-pltsa-gedebage-bandung/

Ketika kita tahu betapa PLTSa ini adalah alternatif solusi yang terburuk, lantas mengapakah pemerintah memilihnya? Dalam diskusi 2 Juli 2010 kemarin dikatakan, bahwa pemerintah memerlukan solusi jangka pendek untuk memecahkan masalah pengelolaan sampah Kota Bandung ketika kontrak TPA Sarimukti habis di tahun 2011 nanti. Solusi 3R (Reduce, Reuse, Recylce) adalah solusi ideal yang mungkin diimplementasikan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Namun solusi jangka pendek, untuk masalah yang mendesak ini, harus ada dan segera diwujudkan. Ingat peristiwa Bandung Lautan Sampah ketika TPA Leuwigajah meledak? Hal itu sangat mungkin terjadi lagi.

Masalahnya adalah sampah kita, sampah seluruh warga Bandung. Sudah bukan zamannya menggantungkan nasib pada pemerintah mengingat PLTSa inilah yang mereka tawarkan sebagai solusi. Lagipula, berdasarkan pengalaman, berapa banyak sih proyek yang benar-benar memihak kepada masyarakat kita? Ini sampah kita, yang hampir-hampir menjadi penghasil racun kedua paling berbahaya di lingkungan kita. Solusinya harus keluar dari diri kita sendiri. Ketika pemerintah beranggapan bahwa 3R adalah solusi jangka menengah, kita harus menunjukkan kalau ini adalah solusi yang bisa dibuktikan dengan cepat. Membuktikan hal tersebut tak bisa sendiri, tapi harus bersama-sama dalam satu komunitas yang luas dan terus berkembang. Kita bisa mulai melakukan pengurangan sampah dengan membawa bekal, mengurangi pembelian produk dalam kemasan, dan melakukan pemilahan serta pengelolaan sampah sendiri, dari rumah sendiri. Saya punya beban moral dengan menulis ini, yang berarti saya juga harus memulainya. Tapi hal ini adalah hal yang sangat penting dan sering kita lupakan. Di masa depan, ketika 3R ini berhasil, keberadaan TPA akan menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman. Sampah tak lagi menjadi beban, tapi sesuatu yang bisa kita berdayakan selalu. Semoga. Amin.

1.7.10

MAHASISWA MANDIRI, untuk BANGSA YANG MANDIRI

Seseorang yang bijak pernah berkata, untuk melihat seperti apa kondisi suatu bangsa 20-30 tahun ke depan, lihatlah kondisi para pemuda bangsa tersebut sekarang. Ada begitu banyak anak muda di Indonesia, puluhan juta rasanya. Namun dari sekian banyak pemuda, hanya sekitar 2 juta orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Sehingga bisa dikatakan, mahasiswa adalah pemuda pilihan bangsa yang sangat beruntung, sekaligus sangat bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Hanya ada sedikit orang dari 200 juta penduduk Indonesia ini, yang disebut mahasiswa, yang disebut sebagai pemuda pilihan bangsa. Jelas, orang-orang terpilih ini merupakan pemikul tanggung jawab atas kondisi bangsa di masa depan. Tanggung jawab yang memang terasa berat, namun demikianlah kenyataannya. Ketika pemuda pilihan bangsa saat ini sibuk besenang-senang dan berpikiran pendek, maka bangsa ini tidak akan pernah maju.

Saya pernah membaca buku anak-anak impor yang berjudul Anne of Avonlea. Kisah ini menceritakan seorang gadis muda pertama di Pulau Prince Edward, Canada, yang melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Ketika lulus, yang dilakukan gadis itu adalah kembali ke desa untuk mengajar, lalu bersama teman-temannya membentuk Kelompok Pengembangan Desa Avonlea. Kelompok ini membangun desa, dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh penduduk desa tua yang tinggal, dan menjadikan desa itu tempat terindah dan pilihan pariwisata favorit, di seluruh pulau.

Kisah di atas menjadi contoh apa yang bisa dilakukan oleh para pemuda, dalam hal ini mahasiswa, untuk kemajuan suatu bangsa. Apa yang diharapkan oleh bangsa kita di masa depan, ingin menjadi seperti apa dan ingin berbuat apa, memerlukan andil dari mahasiswa di saat ini. Ketika kita ingin bangsa yang mandiri, maka dibutuhkan usaha mahasiswa saat ini untuk menjadi mandiri.

Namun, bisakah mahasiswa Indonesia ini menjadi generasi yang mandiri? Pertanyaan ini muncul dengan latar belakang harapan dan kekhawatiran. Ada kekhawatiran mahasiswa masa kini terlalu manja, terlalu nyaman dengan keadaan, terlalu mengalir bersama situasi, dan terlalu instan. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai media yang membawa gaya hidup instan dan bersenang-senang. Selain itu juga ada paradigma yang terlanjur berkembang di kalangan mahasiswa untuk bekerja di perusahaan asing demi pendapatan yang tinggi. Jika demikian, jika semua pemuda pilihan negeri memilih untuk membangun negeri orang, bisakah Indonesia menjadi negara yang mandiri?

Harapan yang juga muncul bersama pertanyaan di atas adalah perubahan sikap, yang telah dimulai oleh segelintir mahasiswa. Perubahan sikap ini didasari oleh perubahan paradigma untuk tidak mengambil jalur aman setelah lulus, namun mengambil resiko di jalur kewirausahaan.

Kewirausahaan memang tidak membawa kenyamanan hidup dan kehidupan mapan seperti ketika kita bekerja di sebuah perusahaan besar, namun kewirausahaan adalah wujud kemandirian. Dengan memilih berwirausaha, seseorang mengambil resiko kehilangan pendapatan, mengorbankan waktu, tenga, dan materi, serta mengorbankan kenyamanan hidup seperti orang kebanyakan. Tetapi dengan berwirausaha, seseorang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, menjadi pemimpin untuk orang lain, menjadi pribadi yang bertanggung jawab bukan hanya untuk alasan sederhana seperti gaji pegawai.

Wirausaha juga jawaban untuk permasalahan ekonomi yang kian melanda negeri ini. Dibutuhkan sekurang-kurangnya 1% wirausahawan untuk menjadikan sebuah negeri maju. Dan jumlah mahasiswa, yang mewakili lebih dari 1% penduduk Indonesia, adalah jumlah yang signifikan. Seandainya setiap mahasiswa Indonesia berwirausaha, tentu ada puluhan hingga ratusan juta lapangan pekerjaan untuk menghidupi masyarakat. Tak perlu lagi ada pengangguran, tak perlu lagi ada kemiskinan di setiap sudut kota.

Apakah mungkin setiap mahasiswa Indonesia berwirausaha? Tentu saja mungkin. Bukankah kekayaan bumi ini tiada habisnya? Bukankah potensi manusia ini rasanya tak pernah habis dikeluarkan? Bukankah akan selalu ada innovasi yang tiada akhir? Jelas, seandainya benar semua mahasiswa Indonesia memiliki minimal satu bentuk usaha, peluang untuk berwirausaha akan tetap terbuka lebar.

Di negara-negara maju, di universitas pilihan mereka, setiap jurusan memiliki mata kuliah wajib yang harus diambil, yaitu Kewirausahaan. Berbeda dengan apa yang ter-frame dalam pikiran lulusan-lulusan universitas terbaik negeri ini, setiap mahasiswa yang akan meraih gelar sarjana di negara-negara tersebut diharapkan untuk memiliki jiwa wirausaha.

Jiwa wirausaha ini begitu penting, sebab dengan kepribadian mandiri yang dimiliki oleh mahasiswa pada saat ini, bangsa kita akan mandiri di masa depan.