10.12.12

Coffee Cup #25: When You Need It

Tthe taste of water washing your throat will be magnificent when you are thirsty. But it will be painful when your stomach is already full with a liter of water.

Nothing will be truly enjoyable unless you need it. And sometimes, you have to take a hard time to dig what you need.

Just remember a part of Sofies Verden novel (it is an easy version of philosophy history by Jostein Gaarder) about Epicurean. One of their philosophy of life is how to avoid suffering. The interesting part is 'HOW?'. If you think eating chocolate is delicious and then you eat more and more piece of chocolate, you will suffer the side effect of eating too many chocolate. then you can't enjoy the chocolate anymore. They wanna say that: sometimes small pleasure should be hold to reach the real happiness. Passion should be controlled. Dig what you really need.
To employees, you're often not a person. You're a boss. (Kind of like when you were in school and you saw a teacher at the grocery store; it was jarring and uncomfortable because teachers weren't people. They were teachers.) -- INC

4.12.12

The Climb, written by Anita Presser, how pressing she is.

I can almost see it.
That dream I'm dreaming, but
There's a voice inside my head saying
You'll never reach it
Every step I'm takin'
Every move I make
Feels lost with no direction,
My faith is shakin'
But I, I gotta keep tryin'
Gotta keep my head held high

There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waitin' on the other side
It's the climb

The struggles I'm facing
The chances I'm taking
Sometimes might knock me down, but
No I'm not breaking
I may not know it, but
These are the moments that
I'm gonna remember most, yeah
Just gotta keep goin',
And I, I gotta be strong
Just keep pushing on, 'cause

There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waitin' on the other side
It's the climb

Yeah

There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Somebody's gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waitin' on the other side
It's the climb

12.11.12

"Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia." (QS. An-Najm: 24-25)
"Namanya jg amanah. Harus mencari peluang untuk menerima, dibandingkan mencari alasan untuk menolak." - A Friend

11.11.12

Coffee Cup #24: Game Plan

Diriwayatkan oleh Uqbah ibn Amir, bahwa Nabi SAW bersabda, "Segala sesuatu yang dimainkan oleh laki-laki adalah sia-sia kecuali melatih kudanya, melemparkan busurnya, dan bercanda dengan istrinya." - Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Buku Kelima
Permainan, atau game, adalah bentuk pengalih perhatian yang paling banyak menyita waktu dewasa ini. Game merupakan salah satu tantangan pengembangan diri yang lebih sulit ditolak daripada TV. Meskipun banyak yang berdalih bahwa game juga mengajarkan sesuatu dan memberikan nilai-nilai positif, tak dapat dipungkiri bahwa game adalah kegiatan yang konsumtif, bukan produktif.

Saya sendiri dulu adalah maniak game. Waktu SD atau SMP saya bisa begadang karena main beberapa game di komputer. Salah satunya The Sims. Tapi kalau dipikir2.. sims saya di dalam game hampir ngga pernah main game loh... Ketika 'fun'-nya sudah sampai ke titik kritis, saya suruh dia nonton TV di channel cookin' cable supaya sims saya itu meningkatkan fun-nya sekaligus menambah skill cooking. Produktif sekali bukan?

Saat memainkan manusia-manusia maya dalam The Sims, saya sadar betul kalau menambah fun sekaligus menambah skill lebih berguna dibandingkan hanya menambah fun saja. Tapi di kehidupan nyata, kenapa tidak mudah untuk menjadi seefisien itu ya?

Belakangan ini setiap kali akhir pekan, saya mencari-cari kegiatan agar bisa kembali refresh sebelum hari senin berikutnya tiba. Saya mencari kegiatan yang mendongkrak mood, dan mengira kegiatan bersenang-senang akan membuat saya refresh. Rupanya tidak. Saya senang saat berjalan-jalan dengan teman, membaca novel, menonton film, dan sebagainya tapi saya tidak sepenuhnya refresh. Bayangkan bila sepanjang minggu saya bekerja untuk perusahaan dan di akhir minggu saya hanya bersenang-senang, kapan saya mengembangkan diri? Bulan demi bulan hingga tahun demi tahun akan terlewati tanpa saya mencapai apapun.

Lihat hadist di atas: permainan yang berguna adalah permainan yang meningkatkan modal berperang kita, dan aktivitas yang mendekatkan kita dengan orang-orang terkasih.

Coffe Cup #23: Refleksi


Meskipun ingatan bisa menipu, seingat saya pernah ada sepotong hadist yang mengatakan bahwa untuk benar-benar mengenal seorang teman, kita harus melihat apa yang ia baca. Dalam kondisi teknologi masa kini, mungkin termasuk apa yang ia tonton dan apa yang ia dengar.

Dan itu berlaku pula ketika kita ingin mengenal diri kita sendiri. Ketika bercermin setiap pagi, atau ketika berbaring sesaat sebelum tidur setiap malam, saya sering bertanya: sudah jadi orang seperti apakah saya. Jawabannya adalah apa yang saya baca, lihat, dan dengar setiap hari. Tepatnya apa yang saya pilih untuk dibaca, dilihat, dan didengar. Dan ketika meninjau balik apa yang saya jadikan makanan untuk otak dan jiwa sehari-hari, saya bertanya lagi: apakah saya ingin menjadi orang seperti saya sekarang ini? apakah saya puas? apakah saya harus berubah?

Jadi benar apa yang dikatakan oleh seorang motivator: dirimu saat ini adalah apa yang kamu kerjakan kemarin.

26.8.12

Coffee Cup #22: Sekali-kali Berpikir Arsitektur


Bicara mengenai Arsitektur bukanlah perkara yang mudah. Terutama ketika kita telah mengenal berbagai bentuk kritik dan pembatasan berpikir serta perlunya kehati-hatian dalam mengungkapkan pendapat. Kurangnya ilmu, kurangnya data, dan kurangnya dukungan, bisa menyebabkan sebuah tulisan dianggap salah nan tak layak.

Teori arsitektur adalah sebuah bahasan yang panjang. Modul rangkuman kuliahnya saja yang kini tersimpan di rak, tebalnya 2 centimeter. Namun, sebagai seorang praktisi dan siswa dalam pendidikan arsitektur, saya terkadang bertanya-tanya.

Bangunan apakah yang pertama kali dibangun oleh manusia? Dan dapatkah bangunan tersebut dianggap sebagai sebuah karya arsitektur?

Jawabannya, saya kira, harus merujuk pada arti kata arsitektur-- entah itu shelter, fungsi, ruang, dan semacamnya--serta sejarah peradaban manusia.

Aha. Artinya sebuah karya arsitektur sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia, bukan? Bisakah ia disebut sebagai HASIL dari sebuah peradaban? Bisakah ia disebut sebagai CERMINAN sebuah kebudayaan?

Bila ya, maka, peradaban seperti apa yang kelak ingin saya wujudkan dalam sebuah karya arsitektur?

Dahulu kala, terdapat peradaban-peradaban kuno yang menyisakan karya arsitektur megah yang dapat kita terlisik hingga kini. Sebutlah Mesir, China, Babylon, Yunani, Romawi, Maya, Aztec, India, dan seterusnya.

Waktu berlalu, berjayalah sebuah peradaban Romawi yang mewarnai arsitektur dalam bentuk arsitektur romanesk, gothic, renaissance, baroque, rococo, hingga neoklasik.

Kemudian bangkitlah para penemu kenamaan seperti Thomas Alva Edison, James Watt, Alexander Graham Bell, dan para pesaing paten zaman dahulu hingga tercetus sebuah peristiwa bernama Revolusi Industri. Revolusi ini pun menelurkan arsitektur pasca revolusi industri, art&craft movement, art nouveau, jugendstil, dan art deco.

Kemudian muncul pula arsitektur beraliran ekspresionism, cubism, constructivism, futurism, dan suprematism.
Juga kelahiran neo-plastisism, de stijl, bauhaus, organic architecture, dan international style. Dan kemudian, muncul deconstructivism, metabolism, dan isme-isme pasca modern lainnya.



Coffee Cup #21: You can't build a reputation on what you are going to do


"You can't build a reputation on what you are going to do." - Henry Ford


Keren ya, ucapan dari seorang pekerja keras bermarga Ford ini. Saat ini tentunya mengulang kutipan-kutipan emas dari orang sukses sangat biasa dilakukan. Ada satu grup facebook yang saya ikuti, yang salah satu treadnya berisi sharing quote-quote berharga seperti: "Make today's count."-nya John Maxwell, "Barangsiapa sering menunaikan shalat malam maka wajahnya akan terlihat tampan atau cantik di siang hari." (HR. Ibnu Majah),, atau kutipan penting lain yang menggelitik. Tapi, kutipan yang satu ini penting sepenting-pentingnya penting.

Apa yang ingin dikatakan PAk Henry Ford yang ternama, adalah Kamu tidak akan pernah dinilai atas apa yang akan kamu lakukan. Misalnya kita telah membuat rencana 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan akan jadi apa. Semua itu tak akan membuatmu menjadi lebih hebat dari yang telah kamu raih saat ini.

Kamu berencana tahun 2015 ingin menjadi seorang hafidz qur'an. Tak akan ada yang menganggapmu sebagai seorang hafidz sampai kamu benar-benar menghafal 30 juz.

Kamu berencana akan menjadi pengusaha sukses dengan 50 karyawan. Semua orang tak akan menganggap kamu pengusaha sukses sampai kamu benar-benar membuka usaha, berjualan, dan mendapat keuntungan.

Kamu berencana memimpin pasukan. Tak ada yang mengakuimu sebagai pemimpin sampai kamu punya satu, dua, hingga seratus prajurit.

"You can't build a reputation on what you are going to do."

Ketika akan terlena oleh nikmatnya tidur, bersantai-santai, mengecek bbm, fb, dan update twitter yang kurang penting, serta membuang-buang waktu menonton film korea, ingatlah lagu yang digubah oleh para pendidik kita

Waktu sangat berharga
Harus selalu diisi
Belajar sungguh-sungguh
Belajar tugas kita

Dan ingatlah akan sebuah puisi cina

Belajar bukanlah persiapan untuk menghadapi hidup
Belajar adalah hidup itu sendiri

Dan ingatlah akan sebuah ayat Al-Qur'an:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu mengerti?" QS. Al-Baqoroh, 2 : 44

Na'udzubillah. Mari menjadi orang yang beruntung, yang beramal shalih, saling menasihati dalam kebaikan, saling menasihati dalam kesabaran.

Orang yang paling dicintai adalah yang paling bermanfaat bagi umatnya.

Coffee Cup #20: Roda Indonesia


Indonesia. Bahkan saya lupa ini perayaan dirgahayu Indonesia ke berapa, sampai-sampai saya harus googling dulu sebelum 'ngeh' bahwa usia RI kini 67 tahun. Ah, Indonesia, benarkah namamu Indonesia? siapakah yang memberi nama? Namun, tentu saja, apalah arti sebuah nama.

Seorang bijak pernah berkata:
"Seribu tahun yang lalu, seribu tahun yang akan datang, itulah waktu. Dan, kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi!"-Asy-Syibli-

Ya,
Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi. Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi.

Jika saat ini Indonesia telah melalui 67 tahun pasca apa yang disebut dengan 'merdeka', lantas, kemajuan apa yang telah kita capai? Apa yang telah kita raih? Dan ke manakah negeri ini menuju?

Dalam pandangan seorang kacung muda bau kencur yang baru saja jadi sarjana, rasanya kita hanya berjalan di tempat. Bak berlari di atas roda yang berputar. Bahkan bisa di katakan roda sejarah kita tersendat dan berhenti berputar. Perubahan demi perubahan, peristiwa demi peristiwa, tahun demi tahun, serta pemilu demi pemilu yang silih berganti tidak membawa kita kemana-mana. Seolah tak ada gunanya mengikuti berita terkini karena toh mayoritas masyarakat pun menyadari bahwa kasus-kasus sepenting apapun tak pernah 'selesai' di negeri ini. Korupsi, bencana industri, pembunuhan dan hak asasi manusia, kecurangan, serta kasus ketidakadilan. Sebutkan satu saja kasus yang terungkap penyelesaiannya di negeri ini, maka saya akan bertepuk tangan.

Tapi, ah, tahu apa bayi berusia 22 tahun ini soal negara.

Saya jadi teringat sebuah kutipan novel karangan penulis Maroko:
"Lelucon-lelucon terus mengalir, Hammu," jawabnya, "tetapi berbagai problem sejarah akan tetap ada. Jumlah orang yang berpikir serius tentang nasib dan masa depan sangat sedikit. Oleh karena itu, aku tidak boleh meninggalkan mereka sendirian, terutama ketika aku menyaksikan para penguasa sekarang, para pemuja egoisme yang merajalela, memberikan kebebasan untuk melakukan apapun, dan tidak peduli dengan bencana-bencana besar yang mereka sebabkan. Aku harus meneliti berbagai masalah secara tekun dan mendalam. Aku harus melatih pikiranku agar bersabar dan tidak tergesa-gesa, seraya beranggapan bahwa pastilah ada jalan keluar di ujung lorong dan sambil mengulang-ulang di pagi dan sore hari: "Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia." Engkau tidak menciptakan kami dengan sia-sia! Namun sebelum kita mulai beranggapan dan berharap, Hammu, catatlah kenyataan yang ada. Tulislah karakteristik-karakteristiknya yang tidak menjanjikan. Tulislah dengan mengingatkan semua orang bahwa mengetahui masalah-masalah seperti ini wajib bagi setiap pembaharu."-- Bensalem Himmish dalam Ibnu Khaldun Sang Mahaguru

Siapakah sejarawan yang tengah menuliskan detik-detik yang bergulir di negeri ini saat ini? Saya ingin bertemu. Saya bosan mendapat berita-berita simpang siur yang tak jelas asal-usulnya. Setiap pagi kotak kaca bernama televisi membesar-besarkan peristiwa, mengundang narasumber ini dan itu, serta mengulang-ulang narasi berita yang telah diputar sejak hari sebelumnya. Namun setiap kali muncul peristiwa yang menarik, kasus yang lama dengan mudah terlupakan dan tak muncul bahkan di bagian tengah koran sekalipun. Saya penasaran jika memang ada sejarawan yang tengah mencatat, bagian mana dari berita yang dicatatnya ketika kebenaran tak pula nampak? Anak cucu negeri beberapa dekade mendatang akan mempertanyakan apa yang terjadi hari ini seperti kita mempertanyakan beberapa dekade yang lalu. Apakah yang akan kita beri?

Ah, lagi-lagi, bayi tahu apa. Cukup belajar sungguh-sungguh, terus dan terus dan terus hingga bisa membuahkan karya yang layak.

Tapi, Indonesia, izinkan saya bertanya. Jika sampai usiamu hingga seabad, apakah yang akan telah kau capai kelak?

Coffee Cup #19: Yang saya pelajari dari Al-Faruq


Akhirnya saya berkesempatan menonton puluhan episode serial Umar bin Khattab yang katanya ditayangkan di MNC TV selama Ramadhan kemarin. Ternyata film serial ini bagus sekali, serius. Di antaranya ada hal-hal yang menggugah dan membekas, yang membuat saya semakin ngefans sama AL-Faruq, Amirul Mu'minin; di luar kisah tentang beliau yang pernah saya dengar sebelumnya. Misalnya:

*Ketika Umar bertugas bermalam menjaga unta Al-Khattab
"Aku tidak mengeluh. Di tempat terbuka ini, kehidupan memberikanmu kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni, dengan tanpa hambatan.
Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak. Kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap-tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap-tiapnya berkumpul pada kawanannya, tetapi tidak ada dua unta yng identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu kepada anak-anaknya.
Di mana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tidak akan berkembang sampai mereka mempunyai pemimpin yang mengurus urusan mereka. Barangsiapa yang memberontak akan binasa. Serigala hanya menyerang domba yang sendirian.
Jika orang-orang bersatu, orang-orang tersebut akan memiliki sifat dan pikirannya sendiri. Mereka akan mengejar langkahnya sendiri, kepentingan dan apa yang diinginkan oleh mereka. Tak ada satupun yang bisa menggantikan yang lain. Jika tidak seperti itu, manusia tidak akan butuh kepada yang lain. Tidak ada yang butuh apa yang dimiliki orang lain. Maka, bersama-sama adalah bagaimana mengatur kepribadian mereka dan perbedaan mereka sehingga mereka bersatu.

*Setelah Haji Wada:
"Aku takut aku bukan menyempurnakan Agama, tapi sebaliknya."

*Setelah Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah, dan terjadi perpecahan.
"Itu sudah biasa, Abdullah. Manusia saling berbeda pendapat, pemikiran, dan ijtihadnya. Kemudian sebagian dari mereka atau mayoritas dari mereka bersepakat atas suatu perkara yang akan dijadikan ijma'.
Mengenai perbedaan yang berhubungan dengan hawa nafsu manusia, Allah lebih mengerti akan hal itu. Dan janganlah mempertanyakan apa yang ada di hati manusia. Dan janganlah kita sombong terhadap yang lain. Dan janganlah menghukumi seseorang tanpa bukti yang jelas. Karena Allah tidak mensucikan kita dari perbuatan dosa.
Maka bersalah orang yang salah asal niatnya benar. Bisa jadi orang itu berkata benar tapi apa yang dikehendaki adalah kebatilan. Janganlah kita meninggalkan kebenaran hanya karena siapa yang berkata. Dan kita lebih utama akan kebenaran itu, barangsiapa yang mendapatkannya, maka ia berhak atasnya.
Dan ingatlah hal ini. Sesungguhnya manusia telah beranggapan salah terhadap para sahabat dengan menganggapnya suci tanpa dosa. ini telah berlebihan dalam meninggikan tingkatan manusia meskipun di balik itu muncul atas dasar ketaqwaannya. Jika demikian, ketika mereka melihat ada yang berbeda pendapat dengannya, mereka akan menjatuhkannya dan menghina agamanya. Kemudian datanglah setelahnya suatu kaum yang membenci Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka saling menjatuhkan agamanya masing-masing."

*Setelah diangkat menjadi Khalifah:
"Bagaimana pendapatmu wahai 'Atikah?" "Tentang apa?" "Tentang kecerobohanku?" (Atikah tertawa kecil) "Pada dirimu terdapat karakter yang keras tapi baik. Kau keras pada dirimu sendiri dibanding pada orang lain. Kau pergunakan sifat kerasmu itu untuk kebenaran.. dengan kembali pada kitab Allah. Dan kau mengimbanginya dengan impian dan kasih sayang dan belas kasihan kepada kami. Maka lakukan segala perbuatanmu dengan baik, Abu Hafs. Karena sesungguhnya Allah mencintaimu."

21.8.12

"Banyak orang cerdas.. dirantai oleh berbagai pemikiran, tindakan, dan hasil. Mereka tidak pernah berkembang melampaui batasan-batasan yang mereka tetapkan sendiri." - John Maxwell

12.8.12

Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan,” (HR Thabrani)

Coffee Cup #18: Design Your Life

This post titled in a very very universal state. But i'm not going to talk about my career, or my plan continuing my study to higher degree. Really, it's all about the most important thing in the world: A Family.
"Harta yang paling berharga, adalah keluarga.  Istana yang paling indah, adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga." -Keluarga Cemara-
 In the end, Charlie Bucket won a chocolate factory. But Willy Wonka had something even better, a family. And one thing was absolutely certain - life had never been sweeter. -Roald Dahl-
 A part of designing my life is dreaming an ideal future family. It starts with choosing the right one as a partner. I'm not in a state of 'labil' or 'galau' condition, truly. I've already moved on from that stage. Exactly I gathered this thought from several conversation with friends which are currently in that kind of conditions. I'm  not starting my findings in a rush way, too. But reaching 22, getting my bachelor degree, and experiencing the  office makes me think about life over and over and over and over.

Have you read "The Glass Castle" pals? I suggested the book to my friends, because it gives a good example on how a family starts with choosing the right person. Red, the husband, the father, is the one who responsible on the harsh family life in the story. He's a charismatic man, which made her wife crazy in love. But unfortunately he has not any good quality for a husband, has several bad habits like drinking, only serve the family with empty hopes, giving strict rules and orders, hot-headed, and most of it: runaway from the responsibility. Someone said that "you can't really change a man, so choose carefully while you can."

The MOM, in this story, is also responsible because she is weak, can not say 'no' to the husband, self-pity, and again... weak. How can you lead and educate the whole family while you're weak? While reading this book I found a fact when parents can be loving and evil at once as you mix step-parents and biological parents as one.

After reading the book, I came to this:
 "Impure women are for impure men, and impure men for impure women. Good women are for good men, and good men are for good women; such are innocent of that which they say: For them is forgiveness and a bountiful provision." QS. An-Nur (24):26
 So, while thinking about choosing the right one, I think I should prepare my self to meets my own criteria of a partner. Hahaha, I think everybody knows that ordinary state. Here the more interesting part: my own criteria.
  1. Simply imagine, I want to arouse a good habit in my family: liven up maghrib prayer together with the whole family... everyday. Which means all the family members should be at home before sunset. Which also sets me apart from working too hard that leading to the lack of communication. While other family talk all the things that matters during dinner, I prefer to talk after shalat. I found it works in many wonderful family that I know.
  2. Comfortable to talk, and good communication. It's a glorious relationship when you can talk about everything, never avoid difficult conversations, and be honest to each other. Everybody wants that.
  3. Then, an ordinary one: tighten in one vision and mission. It doesn't need any explanation, does it?
Well, that's the main idea of my future family. Someone inspire me, and I just wanna say something to this particular friend of mine.

Girl, you deserve the best! Don't waste your time with that lad... Maybe I don't really understand how it feel when love becomes so irrational. But I know that you have your own dream of your future family, and --as you said-- he has no prospect in there. Your intention is pure, but light and guidance are His authority. I still advice you to let it go now. His plan sometimes unimaginable. While we try to understand it, we know that His plan is the best for us. Moreover, that's the sweetest way He made to make us closer to Him.

You know, Girl, by saying this I start to tremble..


7.8.12

If and When

there was a little grown up who said: "If, If I happen fallin in love with a man, I will fall completely."

then there is a young woman stands up and think:
when someone comes while your heart belongs to another
when there's laughter and jokes in waiting
when you realize that life is a mystery, and you know that you're not always know what the best
when you seems finding a solution but it comes with another problem

you unfortunately realize that
to fall completely
is not relevant anymore

dear sun, i know that you are fighting to be the best version of you.
that's what i do here. so we're not alone even now.

--Jamessonii--

2.8.12

Coffee Cup #17: Dari NOL

Seorang Ali bin Abi Thalib saja membaca satu surat berulang-ulang sebelum memahaminya betul, membaca buku berkali-kali sebelum menguasai, dan menghadiri majlis lagi dan lagi sebelum berkata, 'yeah, i got it'. Tentunya kalau saya ingin sehebat beliau, saya harus meneladani jalannya.

Saya suka belajar, sejak SD, TK malah. Saya ngga ragu untuk mengulang belajar arsitektur lagi dan lagi sebelum berpuas diri. Tak hanya arsitektur, tapi semua: belajar berhubungan dengan orang lain, belajar terorganisir, belajar bercanda yang pas, belajar mengapresiasi dan empati, serta belajar untuk menjadi kekasih terdekat di sisi-Nya.

Belajar, seperti dalam sebuah puisi cina, bukanlah persiapan untuk hidup. Kalau mau hidup ya harus belajar. Bukan begitu kawan? :)


31.7.12

Falling Light



'Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepandai-pandai siasat"
-H.O.S Tjokroaminoto
 
Reblog from Fulki

Becoming Jane

Beberapa hari yang lalu saya menonton film biografi Jane Austin yang berjudul Becoming Jane. Pemerannya Anne Hathaway. Entah kenapa semenjak menonton film ini, sampai hari ini, saya masih ikut terbawa suasana mendung. Mungkin karena ironis, sang penulis novel romantis paling terkenal sedunia, yang bukunya dibaca-baca oleh para wanita sejagat hingga dibahas di sekolah-sekolah, pada akhirnya memutuskan untuk tidak menikah. Alasannya? tanggung jawab moral.

Kadang saya berpikir mungkin ga sih endingnya berubah kalo mereka, Jane and Tom, mengambil keputusan yang berbeda...

30.7.12

Coffee Cup #16: Umur

Semakin berrtambah usia kita, waktu akan semakin cepat berlalu. demikian nasihat dari guru-guru SD tercinta. Kini ketika sudah kepala dua, saya mulai merasakan betapa cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin saya gajian, eh sekarang udah akhir bulan lagi. Sewaktu kecil dulu rasanya kejadian di pagi hari saja sudah terasa lama.

Seringkali saya  merinding karena cepatnya waktu berlalu. Literally merinding. Bukankah semakin cepat waktu berlalu, semakin dekat pula kita dengan saatnya tutup usia? Bisa hari ini bisa besok, tak ada yang tau. Tapi sudah siapkah saya?

Seorang guru, pada beberapa Ramadhan yang lalu, pernah menjelaskan perbedaan antara usia dan umur. Usia atau age, adalah ukuran lamanya manusia hidup sejak lahir hingga saat ini. Tapi Umur, yang berasal dari bahasa Arab, adalah berapa lama waktu kita digunakan untuk beribadah pada-Nya, mengingat-Nya, berdzikir pada-Nya.

Jika kini usia saya 22, berapakah umur saya?

20.7.12

101%

Cara orang iseng mempengaruhi kecintaan manusia terhadapNya:
KEAJAIBAN MATEMATIKA

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Hebatkan?
Coba lihat simetri ini :

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

kurang hebat,,,,
Sekarang lihat ini

Jika 101% dilihat dari sudut pandangan Matematika, apakah ia sama dengan 100%, atau ia LEBIH dari 100%?
Kita selalu mendengar orang berkata dia bisa memberi lebih dari 100%, atau kita selalu dalam situasi dimana seseorang ingin kita memberi 100% sepenuhnya.
Bagaimana bila ingin mencapai 101%?
Apakah nilai 100% dalam hidup?
Mungkin sedikit formula matematika dibawah ini dapat membantu memberi
jawabannya.

Jika ABCDEFGHIJKLMNO PQRSTUVWXYZ

Disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G -E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

atau, SAYANG ALLAH
19 + 1 + 25 + 1 + 14 + 7 + 1 + 12 + 12 + 1 + 8 = 101%

Jadi jangan meragukan ALLAH ,
#coppas dari Teman

21.6.12

Amazing People #2: Karyawan Salon

Widih, mbak-mbak salon juga ternyata sangat hebat dan patut diberi acugan jempol, kawan.

Mereka, especially yang kerja di salon langganan saya, kerja dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam setiap hari, terutama weekend karena pasti salon sedang ramai-ramainya. Lalu mereka baru bisa libur bergantian antara hari senin hingga kamis.

Sehari bisa creambath berapa orang mbak? Sepuluh. Woow, masalahnya bukan cuci-cuci tempel cream dan nge-steam rambut orang; tapi pijet tangan dan pundak selama hampir satu jam tiap pelanggan-nya. Tenaga dari mana coba? Pantesan mbak-mbaknya langsing-langsing dan strong. Apalagi yang kebagian menangani lulur (bisa dua jam per orang).

Sesudah itu, yang masih saya kagumi adalah keramahan dan pelayanan total yang mereka berikan pada pelanggan. Kalau kita di kantor ngeluh-ngeluh mesem, mereka senyum dan harus berperilaku santun, menabahkan hati mendengar segala macam curhatan dan unek-unek pelanggan yang bawel. Hebat ya.

Coffee Cup #15: Produktivitas Kerja dan Liburan

Belakangan ini saya sedang membaca sebuah buku yang bakalan membuat saya tampak sangat nyolot sekali kalo saya bawa ke kantor. Judulnya "Freshgraduate Boss" dari Margareta Astaman. Ada bagian yang membahas tentang kerja vs liburan. Saya  setuju ketika dia bilang kerja itu ngga ada yang santai. Kalau mau santai kayak di pantai namanya liburan.

Ngomong-ngomong soal kerja, kali ini saya tengah fokus pada dua hal yang sama besar prioritasnya. Tiga hal sebenarnya. Loh, fokus kok pada dua-tiga hal? Yang namanya fokus itu kan pada satu hal.

Tergantung. Tergantung seberapa dalam kamu mengerjakannya, seberapa total kamu menginvestasikan waktu tenaga dan pikiran dalam hal yang kamu kerjakan, serta seberapa berkomitmen kamu terhadap agenda dan target. Kalau cuma satu kerjaan tapi lenje-lenje malas, ya sama saja dengan ngga fokus.

Sekarang perihal liburan. Mungkin sebagian orang akan menganggap saya boros bahkan cenderung hedon karena mewajibkan ada acara main setiap weekend. Tapi, beberapa penelitian --seperti yang dilakuakan oleh Marshfield Clinic Research Foundation di Wisconsin; National Heart, Lung & Blood Institute di Bethesda, Maryland; Dr Gail Saltz; dan banyak lagi yang bisa Anda google sepuasnya-- liburan berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas kerja, berkorelasi positif terhadap kesehatan, hingga mempertahankan keselarasan hubungan sosial dengan sesama (keluarga maupun teman).

Liburan bukan melulu buang-buang uang dalam bentuk karaoke, makan, nonton, blanja-blanji ke mall; tapi bertemu keluarga dan sahabat untuk ngobrol, berbagi, dan tertawa. Liburan yang lebih efektif lagi adalah mencari udara segar dan keindahan alam yang jarang kita temui di kota. Esensi liburan, menurut hemat saya, adalah memberi jeda di antara rutinitas kehidupan serta menggali lebih dalam tujuan hidup dan rencana masa depan.

16.6.12

Beat My Self

"What will you be doing in the next ten years?"

Some answers i keep privately, but i want to share others. In the next ten years, i will have my own 'island', my own farm, field, and garden. I will spread my hand like His Highness Aga Khan. I will build school and mosque. Then in my free time, I could read a book to those children in IGD, I could practice archery, and swimming. I could teach my junior and accompany them through the exams. I could inspire other to give more and act more.

Coffee Cup #14: Talking To My... Friend?

I said, "You can do it, i think you should start a serious program, consult with a real nutritionist or a doctor, and boom! reach your target." But I never really did it. -_-"

I said, "When u want it, and feel that you can get it, you'll get it." but i failed in trustin' my self.

Belajar memang tak pernah berhenti.

11.6.12

Coffee Cup #13: Berteman Dengan Lapar

Saya saat ini tengah membaca sebuah buku menarik. Judulnya "Selimut Debu" karya Agustinus Wibowo, seorang jurnalis-fotografer-penulis yang pergi menjelajahi sebagian besar pelosok negeri medan perang Aghanistan. Semakin saya jauh membaca, semakin saya kagum pada penulis dan rakyat Afghanistan.

Pada penulis, saya memberikan ucapan salut atas perjalanannya yang luar biasa melelahkan dan pelik. Serta niatnya yang kuat untuk menjelajah Afghanistan sampai-sampai menyiapkan diri belajar bahasa Farsi, Dari, Rusia, hingga bahasa Urdu.Selain itu, tulisan-tulisannya juga seringkali netral tanpa menghakimi sehingga perbedaan keyakinan dan pandangan penulis tidak terlalu menghalangi saya menyerap nilai-nilai yang universal. Terimakasih juga karena telah membuat saya tertawa, bergidik ngeri, hingga menangis di beberapa sudut halaman.

Lapar, lelah, panas, dan debu nampaknya merupakan keseharian negeri Afghan yang tak kunjung usai. Perjalanan puluhan kilometer sering ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau ingin sedikit mewah pun, mereka hanya bisa menggunakan keledai dan truk tua buatan Jepang yang berkecepatan 15 kilometer per jam. Keledai! Saya melihat foto-foto pengelana yang duduk di atas keledai. Benar-benar seperti dalam cerita Abu Nawas saja. Dan seperti yang dikatakan Agustinus Wibowo, ia boleh bersyukur karena hanya merasakan semua kepayahan itu dalam perjalanan ini saja, sementara warga Afghannistan harus sabar menerima keadaan sedemikian selama hidupnya. Bagaimanakah rasanya?

Ngomong-ngomong soal lapar. Sudah saatnya bagi saya untuk berteman lebih dekat lagi dengan lapar. Perut kenyang membuat otak tumpul dan produktivitas berkurang, menurut hemat saya. Lapar akan membuat kita terjepit memang, tapi memacu diri untuk tidak berpuas diri dan terus maju. Dulu sebelum saya mencoba berteman dengan lapar, saya sempat bertanya-tanya, seperti apa sih rasanya lapar? Karena biasanya, sekalipun puasa sehari penuh saya tidak merasa lapar. Kini saya sedikit-sedikit telah mengetahui rasanya lapar dan tanda-tanda memang sudah saatnya harus makan. Untunglah maag saya sudah sembuh hingga saya bisa lebih leluasa berteman dengan lapar.

Berteman dengan lapar bukan berarti menyiksa diri, sungguh. Bukan berteman hingga anoreksia begitu, bukan, tapi sesuai tuntunan Nabi "makanlah ketika lapar, berhenti sebelum kenyang" dan "cukuplah beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggung". Bukankah orang yang dibenci Allah adalah mereka yang mengisi perut penuh-penuh dan tidur dalam keadaan kekenyangan?

Oh ya, satu hal yang juga penting. Berteman dengan lapar bukan berarti berteman dengan kemiskinan. Seorang muslim wajib memanfaatkan potensinya, serta berhak untuk mencari nafkah di muka bumi. Sahabat Rosul yang paling rajin melakukan shaum adalah mereka-mereka yang kaya raya; seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Mereka tidak kaya untuk mengisi perut, tapi untuk menafkahkan di jalan Allah. Bukankah kedengarannya hebat? Mari berteman lebih dekat lagi dengan lapar dan terus maju! :)

31.5.12

Amazing People #1: Doctor

Sekarang setelah sedikiiit saja mencicipi dunia kerja, saya ingin memberi standing ovation buat para dokter yang benar-benar profesional di pekerjaan mereka. Pulang jam dua malam untuk kembali ke rumah sakit pukul tujuh pagi sepertinya adalah hal yang biasa. Berkali-kali saya lihat parkiran rumah sakit di pagi buta terisi kendaraan milik para dokter yang ngga mau terlambat/ terjebak kemacetan. Belum lagi pekerjaan mondar-mandir keliling rumah sakit dan ketegangan ketika menangani pasien yang kritis. *prok prok prok prok...

Saya sangat kagum soal ketelitian. Ketika saya di pekerjaan dituntut untuk sangat teliti namun tangkas dan cepat tanggap, saya sebagai anak baru--yang dulunya mahasiswa tea--lumayan harus menyesuaikan diri. Namun untungnya ketika saya melakukan kesalahan, masih ada toleransi. Selain itu resiko pekerjaan saya juga hanya berkaitan dengan bangunan. Lah seorang dokter? Resikonya manusia men. Tubuh dan nyawa manusia.
Saya kagum sama mbak-mbak lulusan akademi kebidanan di Jogja yang kemaren bertugas menangani Eyang. Saya sendiri asa kagok kumaha gitu kalo bantuin eyang ganti baju atau bahkan sekedar bantuin eyang duduk karena takut malah bikin eyang kesakitan. Tapi waktu si mbak ini datang dan harus melakukan check up jantung, yooi doi mantap banget tek tek tek selesai.

Tentu perihal ketelitian ini adalah persoalan besar bagi para dokter. Ayah saya termasuk salah satu yang anti banget sama dunia kedokteran modern--walaupun sepupu ada juga yang jadi dokter dan bude saya seorang bidan. Pasalnya ini layaknya dendam keluarga. Pakle saya (adeknya Ayah) pernah kasus salah diagnosa dan salah penanganan hingga akhirnya kembali ke rahmatullah. Innalillahi.. Lalu baru-baru ini adik sepupu saya yang kelas 4 SD juga mengalami salah diagnosa dan salah penanganan.

Sepupu saya ini menderita kanker otot yang pertama kali disadari setelah muncul benjolan di bawah telinga. Setelah benjolan ini semakin membesar dan mulai menghawatirkan, keluarganya berkonsultasi dengan dokter dan disarankan untuk melakukan biopsi. Keluarga besar kurang setuju dengan biopsi ini karena sering memicu pertumbuhan sel-sel tumor sehingga semakin parah. Entah bagaimana akhirnya dilakukanlah biopsi ini dan benar pula pertumbuhan benjolan yang diduga tumor ini semakin besar. Ingin nangis rasanya kalau mengingat bagaimana doi ngapa-ngapain salah melulu. Tidur sakit, bangun lebih sakit lagi. Hebatnya dia, anak kecil yang masih kelas 4 SD ini jarang sekali mengatakan sakit. "Mamah telinganya ngga enakeun!" Fazi biasa mengeluh, padahal mamanya dan semua orang tau maksudnya dia sedang kesakitan. Bayangkan ini terjadi setiap hari selama berbulan-bulan.

Suatu hari benjolan ini pernah menjadi sebesar bola voli--Fazi luar biasa, mamanya juga luar biasa kuat--lalu tanpa sengaja 'kesenggol' hingga luka dan pendarahan parah sehingga doi dilarikan ke UGD. Setelahnya Fazi pun dirawat selama lebih dari sebulan di rumah sakit. Ketika saya datang menjenguk, mamanya bercerita, di kamar tempat Fazi di rawat isinya adalah anak-anak yang terkena kanker darah--leukeumia dan semacamnya. Mereka adalah 'penghuni tetap' rumah sakit, kata Bude, yang kalaupun pulang ke rumah mungkin hanya untuk seminggu hingga sebulan dan kemudian balik lagi. Makanya IGD rumah sakit itu selalu penuh. Bagaimana para dokter menyemangati mereka terus ya? Apalagi ketika penyakit yang ditangani ini bukan termasuk yang cepat disembuhkan. Kalau fazi, dia suka dibacakan cerita, main uno, dan makan kue sus kering. Tapi kalau dokter juga harus membacakan cerita juga, kerja eksta sekali ya mereka. Memang kerabat yang suportif juga penting.

Fazi bertahan di rumah sakit dengan hebatnya. Bahkan dia bisa ramah dan sopan terhadap mereka-mereka yang datang berkunjung. Rasanya anak ini lebih dewasa dari saya :). Sekarang setelah kemo, benjolan di telinganya sudah mengecil (hampir hilang). Fazi masih sangat kurus setelah berjuang keras melawan penyakit, tapi kuat dan bersemangat melakukan banyak hal. Dia sudah bersekolah kembali--meskipun tetap di kelas 4. Semoga cepat sehat seperti sedia kala yaaa Fazi.

Nah luar biasa hebat kan kerja para dokter? Dan yang ditangani bukan satu Fazi saja, tapi baanyak. Pernah baca buku "Better" karya Atul Gawande? Baca deh, supaya ngga gampang menyalahkan dokter dan supaya kalau kamu dokter atau berminat jadi dokter bisa selalu menguatkan iman untuk menjadi dokter yang berintegritas. :)

11.5.12

Bahasa Non Verbal

Terima kasih kepada CR yang memunculkan istilah ini dalam sebuah kesempatan. Entah bagaimana, istilah ini nempel dalam ruang pikiran saya selama seminggu, sehingga banyak obrolan saya dengan teman-teman saya berkisar tentang bahasa non verbal ini.

Bahasa non verbal termasuk bahasa yang sulit. Sangat beruntung orang yang dianugrahi kemampuan berkomunikasi non verbal dengan baik dan lancar. Soalnya, bahasa ini termasuk cabang bahasa yang multi tafsir dan paling berpeluang menghasilkan kesalahpahaman.Saya sendiri beberapa kali dalam waktu dekat ini dipusingkan oleh bahasa non verbal.

Ketika menemukan kesulitan, Sherlock Holmes akan menganggapnya tantangan. Saya, yah... saya tetap menganggap kesulitan itu sebagai sebuah kesulitan sih.. tapi saya berusaha juga coba-coba menghadapinya. Nah ternyata setelah googling dan diskusi dengan temen, saya menemukan bahwa bahasa non verbal itu sangat menarik. Apalagi ketika mencoba membandingkan pandangan kita (hasil tafsiran kita terhadap suatu bentukan bahasa non verbal) dengan pandangan orang lain. Terkadang bisa sepakat seratus persen, namun tak jarang juga berbeda sangat jauh.

MENARIK... :)

Saat Nganggur di Kantor

Adalah waktu yang sangat jarang ditemukan. When it cones, what do you do? Berkat Nadhila Ireddyna Adha saya nge-9gag... haha. Berkat Pak Mark saya nge-fb. Berkat hardis eksternal saya nonton filem.

22.4.12

Coffee Cup #12 First Impression

Berlebihan ngga sih kalau ingin membuat first impression yang terbaik di hari pertama bekerja? Besok hari pertama saya di kantor pertama, pasca secara resmi dilantik menjadi Sarjana Teknik. Seharusnya saya tidur cepat dan bangun cepat juga. Tapi rasanya ada yang kurang sebelum menuangkan kopi pikiran ini ke dalam blog.

Dunia freshgrad arsitektur.
Entah bagaimana dunia ini identik dengan gaji tipis dan kerja kuli. Kacung, menurut istilah teman saya. Kebanyakan belum diberi tanggung jawab merancang karena kami dianggap masih bayi. (Betul lho, istilah 'bayi' ini betul-betul keluar saat saya wawancara di suatu tempat). Banyak teman saya yang berkata: inilah masanya kita memilih: "mau duit? atau pengalaman?". "Kalau mau pengalaman ya di biro arsitek tapi gaji seadanya, kalau mau duit di developer." Hmm... mengapakah gaji kami para S1 arsitektur bisa setipis ini? (lirik jurusan tetangga yang bisa 5 kali lipat) Para mama dan emak dan ibu sampai syok ketika tau prospek awal sarjana arsitektur tidak sedemikian 'basah'.

Jenjang karir arsitektur.
Barusan saya kepergok lewat depan rumah Pakde dan diajak ngobrol. Rupanya pakde saya ini bercerita--berhubung beliau ini juga bersinggungan dengan dunia konstruksi--bahwa di Bandung jumlah arsitek ahli bersertifikasi sangat sedikit (sekitar 60an, benarkah? itu banyak atau sedikit?). Tak jarang, menurut beliau, kalau dicermati di Pemda, pada banyak proyek dan perusahaan berbeda nama yang dicantumkan sebagai tenaga ahli bersertifikasi ya yang itu-itu saja. Saya pernah intip sih di salah satu kantor tempat magang saya, brosur penjenjangan IAI. Saya baca, wuooow.. strata-stratanya banyak sekali dan nampak rumit. Benarkah ada sistem poin bagi setiap sarjana arsitektur untuk bisa meraih gelar IAI? Dan bila saya muncul di seminar-seminar arsitektur saya bisa mendapat poin? Berapa poin yang saya butuhkan untuk naik 'level'? Siapa yang menghitung poinnya? Website IAI private banget... hanya member yang bisa mengakses kontennya. Mungkin bagus juga kalau ada konten yang terbuka untuk 'calon IAI'.

Back to work.
Kembali ke persiapan hari pertama saya besok. Hmm... konstum, alat tulis+gambar, flashdisk, modem, mukena, dan bekal. Teman saya Raras berkata, "Percayalah, di biro arsitektur itu yang penting hati daripada duit." Mari berdoa.

22.3.12

“A man is success if he gets up in the morning and gets to bed at night, and in between he does what he wants to do.” - Bob Dylan

Coffee Cup #11: Belajar

Semalam saya iseng-iseng bacain pertanyaan untuk Layyina karena besok masih minggu UTS. Kali ini pelajaran Bahasa Inggris, Sains, dan IPS. Sebenarnya, ketika membacakan pertanyaan untuk Layyina, saya sendiri yang banyak belajar. Misalnya semalam, saya baru menyadari kalau anak SD seperti adik saya diajari tentang semangat bekerja. Ada satu bab khusus tentang itu, yang seingat saya tidak pernah lagi disebutkan pada pelajaran IPS di tingkat SMP maupun SMA.

Salah satunya tentang disiplin. Dengan sederhana, buku panduan IPS Layyina mengatakan bahwa disiplin berarti mampu mengendalikan diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ketika kamu disiplin untuk belajar setiap malam, maka kamu akan selalu belajar setiap malam. Lalu disiplin itu ada dua, disiplin yang berasal dari dalam dan disiplin dari luar. Alangkah lebih baik bila disiplin itu datang dari dalam diri. Sebab dengan demikian artinya kamu tidak perlu disuruh atau dipaksa melakukan sesuatu untuk berdisiplin. Dengan demikian, tandanya kamu sudah dewasa.

Kemudian, pikiran saya melayang pada hal lain terlepas dari soal IPS untuk Layyina. Saya ingat pelajaran dari salah seorang mentor saya, bahwa di balik disiplin ada sesuatu yang bernama motif. Ketika seseorang telah mampu mengendalikan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tentu ada alasan mengapa ia berbuat dan tidak berbuat. Mengapa kamu belajar bahasa Jerman? Mengapa kamu perlu memperbaiki bacaan qur'an? Mengapa kamu harus bangun setiap pagi pukul 04.00 dan lari pagi pukul 06.00? Semua ada motifnya. Dan uniknya di dunia ini, suatu pekerjaan bernilai berdasarkan motifnya.

"Innamal a'malu binniyyat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Segala perbuatan amal itu tergantung pada niatnya. Jika kita ingin pujian, dunia, dan harta, sebatas itu sajalah yang akan kita dapat. Namun semua upaya keras kita tidak akan bernilai di sisiNya. Alangkah sedihnya ketika lupa meluruskan niat. Hidup di dunia ini melelahkan bukan? Bill Gates yang sedemikian beruntungnya saja (yang bisa menyumbangkan 2 miliar dolar untuk kemanusiaan) dalam kuliahnya sering berkata bahwa hidup itu tidak adil. Lantas, setelah melalui hari-hari yang berat dan berusaha keras, dan esok hari masih harus menjalani kehidupan, namun lupa meluruskan niat? Sungguh merugi.

Mungkin tulisan ini menjadi semacam renungan pagi. Bagi saya, menjadi pengingat untuk kembali menilik apa-apa yang saya lakukan dan ingin saya lakukan. Benarkah dua puluh empat jam setiap harinya telah saya lalui dengan niat yang benar? Benarkah rencana-rencana saya, mimpi-mimpi saya, juga diniatkan dengan niat yang benar?

21.2.12

"Investing ultimately begins and ends with taking control on yourself." - Kiyosaki

17.2.12

'Anyone can learn to draw, just as anyone can learn to speak or write. Drawing is a perfectly ordinary way of communicating information.'- Ian Simpson from 'Drawing, Seeing and Observation.', again.
Yes, it does. If i have any intention to be consistent!

15.2.12

Brownies Kukus

Cara terbaik makan brownies kukus adalah dengan membekukannya dalam freezer terlebih dahulu. Dijamin. Yum! :D

Coffee Cup #10: Bedtime Stories

Dongeng Sebelum Tidur adalah momen-momen yang menyenangkan. Saya masih ingat kisah-kisah yang dibacakan ibu saya sewaktu saya kecil, kebanyakan dari majalah Aku Anak Sholeh. Ada cerita Cici (kucing warna kuning) dan Koko (burung kakak tua putih berparuh merah), ada cerita Petualangan Bahari, ada cerita Annisa, Fahri, dan Bahri; ada cerita mimi, kisah Nabi Muhammad SAW (dibuat komik loooh, seru), ada cerita dinosaurus berwarna pink yang ramah (lupa siapa namanya), dan bahkan salah satu cerita yang paling diingat adalah cerpen berjudul Sepatu Merah Jambu. Jadi ingin langganan lagi... masih sama seperti dulu ngga yaa majalahnya...

Sedikit lebih besar, ketika SD dan SMP, saya membaca dongeng-dongeng sebelum tidur dari Mizan. Saya ingat sekali kisah tentang Layang-Layang Bulan, Kisah Setetes Air, Al-Fushilat, dan lain-lain. Terutama yang paling melekat adalah kisah Layang-Layang Bulan. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan toko layang-layang yang dipenuhi oleh layang-layang berbagai bentuk; mulai dari bentuk elang sampai yang paling sederhana layang-layang bertotol biru. Layang-layang bertotol biru inilah tokoh utamanya. Karena ia sederhana dan tidak terlalu mahal, atau karena takdir, jadilah Si Totol Biru ini layang-layang milik seorang anak laki-laki bernama Farhan.

Farhan adalah anak laki-laki dari keluarga sederhana, yang kala itu ragu dengan cita-citanya untuk menjadi Insinyur Penerbangan. Si Totol Biru yang naive, percaya bahwa semua mimpi itu mungkin jika kita berusaha. Ia pun mengemukakan mimpinya untuk terbang tinggi hingga ke bulan. Jika dipikir dengan logika, pertama: Farhan akan kehilangan layangan barunya jika ia membiarkan Si Totol Biru pergi ke bulan; kedua: Bumi memiliki lapisan Stratosfer, yang bahkan akan melelehkan meteor menjadi ukuran sangat kecil sebelum berhasil menembusnya, apalagi meloloskan sebuah layangan. Tentu saja saya sebagai anak kecil dahulu tidak mempertimbangkan lapisan Stratosfer, tapi bahkan saya pun dulu yakin bahwa bulan itu jauh sekali.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Farhan melepaskan Si Totol Biru ke angkasa. Ia melakukannya di malam hari, di saat sang Bulan nampak bersinar. Saat itu sedang purnama dan semuanya tampak sangat meyakinkan. Si Totol Biru naik, naik, naik, dan teruus naik hingga hanya terlihat sebagai titik. Farhan yang tak lagi bisa mengawasi si Totol Biru, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan melakukan shalat tahajud (sweet ya).

Tak lama kemudian datang angin besar menerpa Si Totol Biru sehingga hampir-hampir ia tidak bisa naik lebih tinggi lagi. Ia berusaha dan terus berusaha. burung-burung yang ia lewati terkejut melihat Si Totol Biru, dan dengan skeptis menertawakan usaha Si Totol Biru menuju bulan. Tapi Si Totol Biru terus berusaha. Bagian paling sedih dari kisah ini adalah setelah sekian lama naik dan naik, sang Bulan tak kunjung mendekat.

Angin semakin membesar dan datanglah hujan badai. Tak bisa dihindari lagi, Si Totol Biru menjadi basah dan selayaknya kertas yang basah dan diterpa angin, ia menjadi sobek. Esok paginya Farhan menemukan kerangka dan sisa-sisa Si Totol Biru di depan rumahnya. Kau tahu apa yang dilakukannya? Ia memberi Si Totol Biru kertas pelapis yang baru dan melukiskan bulan purnama di atasnya. Kini ia menjadi si Layang-Layang Bulan. Ketika ia mengangkasa lagi, burung-burung, angin, dan semua layang-layang lain tahu bahwa ia telah mencapai Bulan jauh di lubuk hatinya sejak lama. Dan Farhan, setiap malam seusai shalat tahajud ia belajar untuk menggapai citanya. Kemudian di masa depan, ia pun menjadi seorang Insinyur Penerbangan yang hebat.

Kisah ini melekat begitu erat di dalam ingatan saya. Salah satu kisah yang mengajarkan tentang cita dan realitas. Dan lagi, mengajarkan saya untuk menghidupkan shalat malam... :)

Satu kisah lagi yang menarik perhatian saya sewaktu kecil adalah Heidi. Waktu itu, kisah Heidi diterbitkan dalam beberapa seri, sementara seri yang kami punya di rumah hanya ada satu. Satu buku itu menceritakan bagian ketika Heidi menemani Clara, bertemu dengan Grandmama-nya Clara, hingga ia mengalami berjalan dalam tidur (sleepwalking) saking rindunya dengan Grandmother yang buta di pegunungan alpen, yang menunggunya untuk pulang membawakan roti putih.

Bagian kisah itu sangat menyentuh. Di akhir membaca seri itu saya selalu mengharapkan Heidi bisa segera pulang ke Alpen dan bahagia. Baru belakangan ini saya berkesempatan membaca kisah aslinya dan tahu bahwa Heidi akhirnya bisa kembali ke Alpen, membawakan berlusin-lusin roti putih untuk neneknya, bahkan mendapat kujungan Clara. Dengan bantuan kakeknya, Heidi berhasil membantu Clara untuk berjalan lagi.

See? Bedtime stories is magic. Kini, adik-adik daya dengan senang tengah membaca The Magic of Ruby Valley bab 5 dan The Little Prince bab 7. Tentu saja saya, sebagai pecinta imajinasi, senang-senang saja membacakan dongeng sebelum tidur dengan lantang...
'Anyone can learn to draw, just as anyone can learn to speak or write. Drawing is a perfectly ordinary way of communicating information.'- Ian Simpson from 'Drawing, Seeing and Observation.'

11.2.12

IT - WILL - DO

Experts tell us that 90% of all brain development occurs by the age of five. If we don't begin thinking about education in the early years, our children are at risk of falling behind by the time they start Kindergarten.
Robert. L. Ehrlich


3.2.12

Coffee Cup #9: Bekerja

Hari ini saya mengerjakan laporan seharian. Setelah demam, muntah-muntah, dan diare reda, saya memutuskan pergi ke McD mencari suasana baru. Saya duduk dan menyesap Nestea, membuka laptop, lalu mulai bekerja. Rupanya seseorang yang duduk di samping saya adalah seorang 'Branch Manager', tepatnya branch manager mcd setempat. Tak lama kemudian datang dua rekannya dan mereka duduk di samping saya selama dua jam sambil rapat membicarakan profit margin dan costumer suggestion di samping salah seorang costumernya (saya). haha. Pilihan tempat yang kurang bijaksana saya rasa.

Beberapa jam kemudian, tempat mereka digantikan oleh segerombolan mahasiswa kelas internasional yang berbicara dengan bahasa tiongkok dan english selama 2 jam. Kemudian saya sadar, saya telah bekerja sanagt-sangat lama di McD ini dan laporan saya masih belum juga selesai! Rasanya ingin segera bebas dari urusan lapor-melapor ini dan mulai mengerjakan penelitian!

Coffee Cup #8: Mother, My Language is..

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa saya tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali. Aslan. Padahal ayah berasal dari Jogja dan sepupu-sepupu saya dari pihak ayah hampir semua bisa berbahasa Jawa. Kini saya mengalami kemajuan dengan mengetahui kata "Boten". Ha.

Sudah jadi pengetahuan umum pula bahwa bahasa sunda saya sangat mengenaskan. Sedikit bicara, maka orang langsung menebak: "Sanes asli Sunda nya, Teh?" Pasalnya kosakata bahasa 'lemes' saya sangat terbatas.

Saya ingin menguasai dua bahasa itu minimal, untuk mengenal siapa diri saya dan di mana saya tinggal. Banyak literatur sunda yang telah menarik perhatian saya semenjak lama. Yang terpaksa saya tinggalkan karena tingkatan basa sunda-nya terlalu advance.

Meskipun demikian, saya bersyukur masih diizinkan memahami bahasa indonesia dan inggris.
Dengan mengerti bahasa Indonesia, saya bisa bersekolah hingga ke ITB. Dengan menguasai bahasa inggris saya bisa membaca buku-buku wordsworth classics dan buku-buku literatur. kini, kunci dunia yang manakah yang ingin kubeli? bahasa mana yang ingin saya pelajari?

Bahasa Jepang
"Konichiwa! Watashi wa Nadiya desu." adalah kalimat terpanjang yang bisa saya ucapkan dengan benar. (ampas) Banyak orang belajar bahasa jepang karena ketertarikan pada anime dan manga. Tapi saya sudah melewati masa-masa membaca komik sewaktu SMP dan kini tidak lagi menganggapnya worth it. akan berbeda ceritanya bila saya kemudian mendapat beasiswa s2 ke jepang.

Bahasa Arab.
Tentu saja bahasa Arab saya kini hanya terbatas pada "Maa haaza wan man dzaalika? Haaza miftahun wa dzaalika mudarrisun." Bahasa arab akan membuka cakrawala pada literatur Arab.Terutama memahami qur'an, hadist, dan manuskrip2 kuno. Saya penasaran mengapa bahasa ini dianggap sebagai bahasa terbaik pada zamannya.

Bahasa Jerman
Arsitektur Jerman sangat menarik, meski saya lebih tertarik pada Spanyol. Belajar di Jerman tampaknya merupakan prospek yang menarik pula. Banyak literatur arsitektur di perpustakaan yang ditulis dalam bahasa jerman dan dengan sangat menyesal saya tidak bisa memahaminya. Akankah aku belajar bahasa Jerman saja?

Satu demi satu, sobat... satu demi satu.

2.2.12

Coffee Cup #7: Eyang

Eyang Putri-ku dari pihak Ayah bernama Supiyati, sementara Eyang Kakung-ku bernama Sonosejati. Namun karena Eyang Kakung memiliki tujuh saudara yang sebagiannya masih hidup dan masih sering ditemui oleh kami-kami para cucu, maka kedua eyangku dipanggil dengan nama Eyang Sono (Nama dari 'Yang 'Kung).

Bisa dikatakan aku punya banyak pasangan eyang karenanya: Eyang Sri, Eyang Drajat, Eyang Pur, Eyang Burhan, dan lain-lain (termasuk sepupu-sepupu jauh yang sangat banyak sekali). Setelah aku tanya pada ayahku, rupanya nama kakek buyut-ku dari pihak Eyang Kakung bernama KH.Khasan dan kakek buyutku dari pihak Eyang Putri bernama Praptohartono.

Mama (panggilan untuk ayah dalam adat Cirebon, yang digunakan untuk menyebut kakekku dari pihak Ibu) bernama H.Djubaedi, dan Mimi (panggilan untuk nenek dari pihak Ibu) bernama Asfah. Ketika aku mencoba bertanya pada ibuku, ibu sendiri mengaku tidak tahu nama kakek-neneknya, sehingga aku tidak bisa menuliskan nama kakek buyut-ku dari pihak ibu. Tapi ibuku pernah berkata bahwa Mama adalah keturunan saudagar Arab-Cina. Hmm.. mungkin itu bisa menjelaskan kenapa kini kebanyakan anaknya (Pakde-Bude-Pakle-Bule-ku bahkan sepupu-sepupu-ku) berbakat menjadi pedagang juga.

Bisa disimpulkan bahwa ayah dan ibuku keturunan kyai, meskipun Eyang Putri-ku tidak mengenakan jilbab.

Dari ke-empat kakek nenek kandungku, sekarang hanya ada Eyang Putri. Eyang putri berusia 76 tahun (menurut Ibu) dan kini tubuhnya sudah lemah sekali. Eyang begitu mungil dan kurus, hanya bisa berbaring di tempat tidur dan di sebagian waktunya Eyang benar-benar tidur. Bahkan Eyang bisa tiba-tiba tertidur di tengah-tengah waktu makan atau minum, atau di tengah percakapan.

Aku sebelumnya sangat jarang bertemu Eyang karena kami lebih sering berkunjung ke Cirebon setiap lebaran. Malahan, dulu sewaktu Eyang bugar dan sehat, Eyang lebih sering berkunjung ke Bandung dan menetap di Bandung bersama Eyang Sri dan Eyang Burhan. Aku ingat Eyang dulu suka membawakan kami berkaleng-kaleng susu Dancow yang berhadiah gelas kristal, serta roti zaman dahulu yang bentuknya tidak serapi Sari Roti atau Holland Bakery. Kini Eyang dan Eyang Sri keduanya tinggal di Yogyakarta di dekat eyang-eyang yang lain.

Beberapa kali pasca Tugas Akhir ini aku pergi ke Yogyakarta bersama Ibu untuk menemani Eyang. Sejujurnya, aku ingin mendengar cerita Eyang semasa muda, atau kisah Eyang sewaktu kecil, yang aku yakin sangat menarik karena begitu berbeda dengan masa kini. Tetapi berbicara panjang lebar sepertinya terlalu melelahkan untuk Eyang. Ketika eyang berbicarapun kini bagaikan bisikan. Jadi aku hanya duduk saja di samping sementara Eyang menggenggam tanganku erat-erat. Rasanya sayang, dulu aku belum berhasil mengorek lebih banyak tentang cerita masa lalu Eyang.

Ibuku sangat telaten saat mengurus Eyang. Dibandingkan aku, Ibu lebih tau bagaimana menyuapi Eyang, mengganti pakaian, mengubah posisi tidur, dan lain sebagainya. Kadang-kadang aku berpikir aku lebih banyak melakukan kesalahan yang merepotkan daripada membantu, sehingga aku memilih duduk dan membaca.

Masa tua, kelak ayah ibuku akan tua juga. Jika umurku sampai aku pun akan tua juga. Aku mencoba membayangkan seperti apa aku kelak jika aku menjadi tua seperti Eyang. Apakah aku akan kuat dan ceria? Seperti seorang kakek berbaju hitam garis-garis khas jogja yang kami temui di kereta? Kalau boleh memilih aku ingin terus sehat saja. Agar bisa terus membawakan susu dan roti seperti yang dilakukan Eyang. Oh, Eyang.
"Akan datang suatu waktu pada umat ketika orang akan membaca Al Qur'an, tetapi tidak akan lebih jauh dari tenggorokan (tidak masuk ke dalam hati mereka)" (HR Bukhari).

Coffee Cup #6: Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim tiba-tiba berpandangan bahwa aku seorang yang terlalu fanatik terhadap agama? Memangnya, apa arti fanatik itu? Mengapa kata fanatik terdengar begitu buruk belakangan ini? Benarkah berbicara tentang Al-Qur'an itu fanantik dan fanantik itu buruk?

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim bersemangat untuk mendengarkan dan menjawab lalu berbagi pemahaman, ataukah aku akan diabaikan? Karena materi tentang Al-Qur'an dianggap tidak menarik dan bukan sesuatu yang penting untuk dibahas? Padahal kami sama-sama mengaku muslim dan tahu bahwa Al-Qur'an adalah dasar dari Al-Islam?

Kadang kala hidup terasa sangat sederhana. Kadang begitu rumit. Namun perlukah kebenaran dicari? Atau mungkin biar saja menikmati dunia tanpa dengan canda dan tawa belaka. Why so serious? Lima tahun telah berlalu sekejap mata. Bukankah baru kemarin aku belajar keras untuk ujian masuk universitas? Biar saja kah?

-----

Mungkin kalian, pembaca yang baik, akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba saya menulis beberapa paragraf di atas. Penyebabnya adalah sebuah bacaan ringan, super iseng, yang tiba-tiba saya ketik pada mesin pencari google, mengenai biografi Harun Yahya.

Ah, tapi mari kita kilas balik sebentar. Mengapa tiba-tiba saya tertarik pada biografi Harun Yahya?

Hari ini hari yang panjang bagi saya. Saya sejujurnya kehilangan pegangan karena setelah TA berlalu. Saya ingin mengerjakan banyak hal namun rasanya tak ada satupun yang selesai. Saya membutuhkan teladan, mentor, idola, contoh, preseden; maka saya mencari biografi tokoh-tokoh yang menurut saya berprospek untuk saya jadikan idola. Kriterianya, mereka harus merupakan orang yang masih hidup atau setidaknya mengalami hidup di zaman ini.

Saya, tentu saja, sangat mengagumi presiden Iran yang ramai diberitakan di media masa dewasa ini, Ahmadinejad, sebagai tokoh yang masih hidup yang layak untuk dijadikan idola. Namun saya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden, sehingga meskipun telah membaca kisah hidupnya, sangat sulit bagi saya untuk menjadikannya preseden.

Kemudian saya teringat tentang Harun Yahya. Ngomong-ngomong, apakah Anda para pembaca tahu siapa Harun Yahya? Beliau adalah penulis (yang setahu saya masih hidup), yang menulis buku untuk membantah Teori Evolusi Darwin; sebuah teori yang berabad-abad memperkokoh paham Atheis-Marxis-Materialis.

Kisah hidup Harun Yahya ternyata luar biasa. Saya yang menikmati buku-buku dan film-film beliau semenjak SMP, baru kali ini tahu bahwa perjuangannya menulis buku-buku itu tidaklah semulus JK.Rowling menulis Harry Potter.

Ketika masih mahasiswa, ketika ia mulai menulis buku itu, ia di-black list oleh dosen-dosen berpaham Marxis, di kampusnya yang kala itu didominasi oleh kaum Marxis. Tempat dimana seorang muslim menyembunyikan keimanannya (padahal saya mengira Turki adalah salah satu negara bermayoritas penduduk muslim, seperti Indonesia). Ia seorang diri melakukan penelitian, membiayai penerbitan dan membagikan bukunya secara gratis dengan menjual harta warisan yang ia punya, serta mendiskusikan pandangannya dengan siapa saja yang ditemui. Ia bahkan berdebat dengan para dosen yang kala itu tengah gencarnya mengajarkan teori darwin. Banyak rekan yang saat itu setuju dengan pendapatnya, tapi tidak lantas mendukung apa yang dilakukannya. Mungkin, kalau peristiwa ini terjadi pada mahasiswa zaman sekarang kita akan berpikir: Untuk apa repot-repot? Yang penting IPK bagus dan dapat kerja bergaji 10 juta. Toh kuliah hanya sebentar.

Selama tiga tahun is seorang diri, hingga kemudian muncul pemuda-pemuda yang mendukungnya secara penuh.

Ia pernah dipenjara dengan tuduhan yang dibuat2. Seperti di buku Ayat-Ayat Cinta itu. Tapi, yang dilakukan Harun Yahya terhitung layak untuk sampai mendapat musuh sedemikian rupa, bukannya hanya karena kisah cinta dangkal dan cemburu buta dari salah satu pengagum wanita seperti Ayat-Ayat Cinta.

Harun Yahya pernah disiksa dalam rumah sakit jiwa. Percaya?
Adnan Oktar (nama asli Harun Yahya) mula-mula ditahan dan ditempatkan dalam sebuah penjara. Lalu, beliau dipindahkan ke rumah sakit jiwa Bakirköy dan ditempatkan di bawah pengawasan dengan alasan yang dibuat-buat, yakni bahwa secara mental beliau tidak sehat. Dalam rumah sakit tersebut beliau di tempatkan di ruang 14A, sebuah bagian khusus tempat tinggal pasien-pasien yang sangat berbahaya dan orang-orang yang kebal hukuman. Pembunuhan adalah kejadian biasa bagi para pasien sakit jiwa ini, sehingga Oktar diperkirakan akan menjadi korban dari salah seorang di antara mereka. Untuk beberapa lama kaki beliau dirantai ke sebuah tempat tidur dan beliau diperlakukan secara biadab. Secara paksa, beliau diberi obat yang mengganggu kesadarannya.
Secara keseluruhan beliau dipenjara dan disiksa di ruamh sakit jiwa selam 19 bulan, yang saya yakin akan saya rasakan sebagai waktu yang sangat, sangat lama. Kemudian Harun Yahya dibebaskan oleh pengadilan karena pernyataannya diangga tidak bersifat ofensif. Dua tahun setelah itu beliau mendirikan lembaga riset sains untuk mendukung usaha penulisan buku-bukunya, dengan tujuan membuka wajah sebenarnya dari Teori Evolusi.

Harun Yahya juga pernah mengalami tuduhan serius dengan ditemukannya kokain dalam penggerebekan rumahnya di Istanbul. Beliau ditahan selama 62 jam dan harus melakukan tes darah. Tes darah yang dilakukan pun menunjukkan adanya kadar kokain yang sangat tinggi dalam darah beliau! Namun pengadilan dan penelitian ilmiah membongkar hasil tes darah yang palsu itu. Bahwa jika terdapat kadar kokain dalam darah sebanyak itu setelah 62jam mengkonsumsi kokain, maka jumlah kokain yang dikonsumsi pasti akan membawa pada kematian. Sementara beliau masih hidup.

Tentu saja, segala macam makar yang dialami Harun Yahya, terlepas dari mana datangnya (dunia begitu rumit dan penuh kebohongan, seperti yang kita tahu, sulit mecari siapa dibalik apa, apalagi di Indonesia kita tercinta), malah membuat jumlah pendukungnya bertambah banyak. Pandangannya mulai didengar dan diterima oleh masyarakat luas. Kini buku-buku itu tersebar di seluruh dunia.

Buku-bukunya, selain membantah Teori Evolusi, juga membahas topik-topik Freemason, Yahudi, dan lain-lain. Tapi yang paling menggugah saya secara pribadi adalah buku-buku beliau yang mengungkap kebenaran al-Qur'an secara ilmiah. Saya ingin kita memahami Qur'an. Saya ingin aku, kamu, kita, yang mengaku Islam, berbicara mengenai Al-Qur'an. Minimal untuk membawa diri sendiri kepada kebenaran. Jika kemudian jalan yang dihadapi begitu sulit, seperti Harun Yahya, maka kita tak ragu lagi tengah melakukan sesuatu yang benar.
Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-harun-yahya.html

27.1.12

Coffee Cup #5: Mendengarkan Sang Waktu

Beberapa hari yang lalu saya mengirimkan beberapa pesan singkat pada seorang teman melalui telepon genggam. Saat itu saya berniat untuk membuat janji bertemu di kampus. Tak lama setelah pesan itu terkirim, teman saya membalas dengan sebuah pesan yang berbunyi:
"Jam 1 siang ketemunya? Dimana? Terus nanti bertemu aku-nya berapa menit?" diiringi dengan titik-titik dan smiley.
Saya tersenyum. Sekilas pesan ini terasa kurang sopan karena seolah menuduh saya sebagai orang sangat sibuk atau justru mengatakan bahwa dirinya sibuk. Padahal ini adalah pertanyaan wajar yang keluar dari seorang yang menghargai waktu. Kadang bila saya janji bertemu dengan teman yang lain, satu hari saya akan habis hanya untuk bertemu dengannya, sementara mungkin tidak perlu begitu. Saya jadi teringat kisah dosen wali saya Bu Dhian tentang seseorang yang saking sibuknya bisa melakukan rapat hanya dalam 15 menit atau bahkan 10 menit. Bila 10 menit sudah cukup, mengapa harus berlama-lama layaknya sidang paripurna DPR?

Saya merenung. Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih di tingkat dua atau tiga, saya pernah berkata saya tidak ingin menjadi orang yang sibuk. Sampai saat inipun saya masih berpikir demikian. Saya tidak ingin menjadi orang yang sibuk sehingga tidak bisa menunjungi teman yang sedang punya masalah, menjenguk teman yang melahirkan, mengunjungi keluarga yang sakit, ataupun memberi selamat pada kerabat. Akan tetapi saya juga tidak mau menjadi seseorang yang 'nganggur' sehingga punya waktu untuk dibuang-buang. Lalu lima atau sepuluh tahun kemudian baru tersadar belum melakukan apa-apa. Na'udzubillah.

Ada sebuah buku yang sangat menggelitik. Saya belum baca isinya, karena saya hanya melihat buku itu terpajang di rak-rak Gramedia ketika saya berjalan-jalan tanpa ada niatan berbelanja. Judul bukunya: "Jika Datang Pagi Hari, Jangan Tunggu Hingga Sore Hari." Sungguh ungkapan dan nasihat yang tepat bagi saya agar memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Agar tidak lagi menunda-nunda dan membiarkan kesempatan demi kesempatan lewat begitu saja. Bukankah semua orang sudah tahu bahwa waktu tak pernah kembali?
Menghargai waktu mungkin awalnya terasa melelahkan, tapi jika tidak dilakukan, tak butuh waktu lama untuk menyesalinya.

10.1.12

Coffee Cup #4: Home

I always want to design a sweet home. Not just a house. Where can I find any kind of design sample like that? #lookingaworkplacetolearn

Just what I thought about home. It can created by light, smell, wind, stone, fur, metal, wood, cloth, plants, and personal touch. I want to work in detail... #isitinteriordesign?

4.1.12

Cofee Cup #3: I'm in a hurry!

Writing my report is really fun. I have to finish it before 11. Crazy!

2.1.12

"Just living is not enough. One must have sunshine, freedom, and a little flower." ~Hans Christian Anderson in The Little Prince

Coffee Cup #2: Bola

Ada berbagai jenis bola di dunia ini. Salah satunya yang telah menjadi bintang di lapangan-lapangan seharga miliaran dolar serta menjadi bagian dari drama dunia entertainment. Tapi bukan bola yang terkenal itu yang ingin saya bicarakan. Semalam, saya pergi ke Gramedia dan membeli komik Throbbing Tonight #9 dengan harga seribu rupiah. Benar. Coba dibaca ulang: seribu rupiah. Setiap kali ada diskon semacam ini saya selalu menemukan satu seri dari serial ini sehingga lama kelamaan koleksi saya menjadi lengkap. Tapi apa hubungannya komik ini dengan bola?

Dalam seri nomor sembilan ini, ada cerita mengenai kemunculan Sang Pemberani di Dunia Setan. (dunia setan dalam buku ini maksudnya dunia hantu, sungguh manusiawi dan lucu, sama sekali tidak menyeramkan. Dan komik ini juga kadang terlalu cheesy, sebelum Anda terlalu berminat). Sayangnya seseorang yang mengaku sebagai Sang Pemberani ini rupanya adalah Raja Kegelapan, yang menipu seluruh rakyat dan keluarga kerajaan Dunia Setan dengan sosoknya yang menghibur hati. Ia muncul di media-media (tepatnya menguasai media), memberikan janji-janji yang indah, memberikan makanan instan yang tidak bergizi, dan membodohi masyarakat dengan kesenangan hidup sembari menjadi idola masyarakat. Nah, apa hubungannya kisah ini dengan bola?

Mari kita tinggalkan makanan ringan saya dan menuju pada buku-buku lainnya di pesta diskon. Begitu banyak buku-buku mengenai sejarah Indonesia yang saya rasa, entah mengapa, tiba-tiba menjadi banyak dan muncul di mana-mana. Terutama mengenai bagian kritis sejarah kita di mana terjadi pergantian masa dari Orde Lama menuju Orde Baru. Tentu saja buku-buku ini terselip di antara tumpukan Teenlit, buku resep, buku belajar bahasa inggris, dan buku mengenai rahasia sholat yang khusyu'. Intinya buku-buku ini ada di antara semua tumpukan.
Buku-buku ini mungkin tidak akan bisa beredar seperti ini beberapa tahun yang silam. Apa hubungannya semua ini dengan bola?

Hidup saya saat ini jauh dari TV. Tapi pernah suatu hari saat mengerjakan tugas akhir di ruang tengah rumah Dhila, kami menyalakan televisi sepanjang hari. Apa yang kami dapatkan dari TV selama 24 jam hasil kerja keras dunia pertelevisian, akan dapat dirangkum dalam setengah halaman A4 saja! Apa yang kita dengar pada malam hari, telah di ulang pada berita jam 6 malam, berita jam 12 siang, berita jam 6 pagi dan semua acara gosip yang memenuhi jam-jam di antaranya. Dan kami saya merasa TV memang tidak diciptakan untuk membuat orang berpikir. Apa yang mereka sajikan membuat saya bersyukur telah memilih untuk jauh dari TV.

Lagi-lagi apa hubungannya dengan bola. Tentu saja ada hubungannya dengan bola dunia dalam arti luas dan di mana kita berada. Kemana kita semua sedang digiring dan apakah kita berada dalam tabir penipuan Sang Pemberani. Setiap hari berlalu dan terus berlalu saja dan sungguh mengganggu memikirkan kita berada dalam bola yang ditendang kesana kemari. Semua terasa absurd. Ada istilah yang layak untuk diingat: "Kebenaran itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing."


1.1.12

Coffee Cup #1: Apa yang Layak Dirayakan?

Suatu hari saat berlari-lari pagi di Pantai Sanur yang indah dan sepi, saya terpikir seandainya saya tinggal di Bali selama setahun, saya akan membuat kalender matahari terbit. Akan sangat menyenangkan memiliki proyek pribadi semacam itu. Namun, setelah dipikir-pikir kembali, saya tidak ingin tinggal di sana lagi, apalagi selama setahun. Dan karena di Panghegar sini tidak ada pantai, saya tidak bisa membuat kalender semacam itu selama tahun 2012. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah proyek lain, yang saya namakan Coffe Cup, untuk mengisi pagi saya setiap hari sepanjang tahun.

Proyek ini bukan proyek buku harian yang dipersembahkan untuk umum, bukan. Tujuan saya adalah melakukan pemanasan otak dengan membuka cakrawala dan menuangkan pemikiran setiap pagi.

Pagi ini saya berpikir mengenai perayaan malam tahun baru yang terjadi semalam. Saya tentu saja seperti biasa tidur di rumah dan dengan terpaksa mendengarkan keriuhan dunia. Meskipun di lingkungan sekitar rumah saya petasan sudah mulai dinyalakan satu demi satu pada pukul sembilan malam, sekitar pukul dua belas kurang 10 keriuhan yang sesungguhnya baru dimulai. Saya sebagai seorang pendengar yang terganggu tidurnya, merasa suara petasan-petasan ini laksana air yang mendidih. Sampai-sampai saya merasa harus ke dapur untuk memastikan tidak ada panci berisi air yang menggelegak. Pikiran saya membayangkan dunia saat ini memang bagaikan air mendidih, dengan kembang api yang meletup bersahut-sahutan di permukaannya.

Berapa banyakah uang yang terbakar dalam perayaan semalam? Tanya bagian keuangan dalam otak saya. Mungkin bagi seseorang yang bekerja keras sepanjang tahun, yang akhirnya bisa memiliki alasan untuk merayakan tahun yang telah berlalu, pesta ini akan menjadi wajar dan layak. Akan tetapi apakah pencapaian Indonesia yang bisa dirayakan pada tahun yang lalu? Atau tak usah jauh-jauh, apakah pencapaian Kota Bandung yang bisa dirayakan dengan padatnya Jalan Dago semalam? Jika benar masterplan transportasi bandung metropolitan area yang kabarnya akan rampung akhir 2011 itu sudah bisa diperlihatkan kepada warga kota, maka itu prestasi. Apalagi jika benar direalisasikan. Sungguh miris merayakan sesuatu ketika kita bahkan belum punya trotoar yang layak.

Mungkin tak layak bagi saya, seseorang yang saat ini hanya berupa nama dan wajah di antara kerumunan warga kota di mata pemerintah kota, untuk mengkritisi seperti itu. Tapi saya memang berhak mengatakan ini. Saya jadi teringat salah satu kisah yang terkenal dari Khalifah Umar bin Khattab yang tengah melakukan patroli rahasia pada malam hari dan mendengar keluhan seorang ibu mengenai pemerintahannya. Bisa di katakan beliau saat itu memimpin pemerintahan yang sangat baik, yang dibuktikan dengan kemajuan di berbagai aspek. Tapi seorang ibu, yang terpaksa harus merebus batu mengelabui anaknya yang tengah menangis kelaparan, saat itu tidak puas dengan kepemimpinan Khalifah Umar. Dan seperti yang semua orang tahu, Khalifah Umar segera pergi ke baitul mal mengambil sekarung gandum dan memberikannya pada sang ibu tanpa memberitahu siapa dirinya. Padahal mungkin sebagian orang akan menganggap kemiskikan keluarga itu bukan sepenuhnya kesalahan pemerintah. Tapi yang namanya pemerintah yang baik, harus menjamin kesejahteraan rakyatnya, bukan? Intinya, saya sebagai warga kota juga berhak menyatakan harapan saya pada Kota Bandung.

Terlepas dari itu, saya ingin membicarakan resolusi yang saya tulis semalam. Setiap poin dari resolusi itu adalah hal yang tidak mudah untuk dijalani. Saya sadar ketika menulisnya dan ketika mengkritisi Kota Bandung, saya juga mulai mengkritisi diri sendiri. Pertanyaannya, apa yang akan saya rayakan pada akhir 2012 ini? Apakah pencapaian seluruh poin resolusi? Apakah pemenuhan target yang pernah saya tulis? Apakah, justru, senyum yang tersungging pada wajah-wajah anggota keluarga saya? Ya, mari berdo'a untuk semua pencapaian yang kita inginkan.