21.6.12

Amazing People #2: Karyawan Salon

Widih, mbak-mbak salon juga ternyata sangat hebat dan patut diberi acugan jempol, kawan.

Mereka, especially yang kerja di salon langganan saya, kerja dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam setiap hari, terutama weekend karena pasti salon sedang ramai-ramainya. Lalu mereka baru bisa libur bergantian antara hari senin hingga kamis.

Sehari bisa creambath berapa orang mbak? Sepuluh. Woow, masalahnya bukan cuci-cuci tempel cream dan nge-steam rambut orang; tapi pijet tangan dan pundak selama hampir satu jam tiap pelanggan-nya. Tenaga dari mana coba? Pantesan mbak-mbaknya langsing-langsing dan strong. Apalagi yang kebagian menangani lulur (bisa dua jam per orang).

Sesudah itu, yang masih saya kagumi adalah keramahan dan pelayanan total yang mereka berikan pada pelanggan. Kalau kita di kantor ngeluh-ngeluh mesem, mereka senyum dan harus berperilaku santun, menabahkan hati mendengar segala macam curhatan dan unek-unek pelanggan yang bawel. Hebat ya.

Coffee Cup #15: Produktivitas Kerja dan Liburan

Belakangan ini saya sedang membaca sebuah buku yang bakalan membuat saya tampak sangat nyolot sekali kalo saya bawa ke kantor. Judulnya "Freshgraduate Boss" dari Margareta Astaman. Ada bagian yang membahas tentang kerja vs liburan. Saya  setuju ketika dia bilang kerja itu ngga ada yang santai. Kalau mau santai kayak di pantai namanya liburan.

Ngomong-ngomong soal kerja, kali ini saya tengah fokus pada dua hal yang sama besar prioritasnya. Tiga hal sebenarnya. Loh, fokus kok pada dua-tiga hal? Yang namanya fokus itu kan pada satu hal.

Tergantung. Tergantung seberapa dalam kamu mengerjakannya, seberapa total kamu menginvestasikan waktu tenaga dan pikiran dalam hal yang kamu kerjakan, serta seberapa berkomitmen kamu terhadap agenda dan target. Kalau cuma satu kerjaan tapi lenje-lenje malas, ya sama saja dengan ngga fokus.

Sekarang perihal liburan. Mungkin sebagian orang akan menganggap saya boros bahkan cenderung hedon karena mewajibkan ada acara main setiap weekend. Tapi, beberapa penelitian --seperti yang dilakuakan oleh Marshfield Clinic Research Foundation di Wisconsin; National Heart, Lung & Blood Institute di Bethesda, Maryland; Dr Gail Saltz; dan banyak lagi yang bisa Anda google sepuasnya-- liburan berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas kerja, berkorelasi positif terhadap kesehatan, hingga mempertahankan keselarasan hubungan sosial dengan sesama (keluarga maupun teman).

Liburan bukan melulu buang-buang uang dalam bentuk karaoke, makan, nonton, blanja-blanji ke mall; tapi bertemu keluarga dan sahabat untuk ngobrol, berbagi, dan tertawa. Liburan yang lebih efektif lagi adalah mencari udara segar dan keindahan alam yang jarang kita temui di kota. Esensi liburan, menurut hemat saya, adalah memberi jeda di antara rutinitas kehidupan serta menggali lebih dalam tujuan hidup dan rencana masa depan.

16.6.12

Beat My Self

"What will you be doing in the next ten years?"

Some answers i keep privately, but i want to share others. In the next ten years, i will have my own 'island', my own farm, field, and garden. I will spread my hand like His Highness Aga Khan. I will build school and mosque. Then in my free time, I could read a book to those children in IGD, I could practice archery, and swimming. I could teach my junior and accompany them through the exams. I could inspire other to give more and act more.

Coffee Cup #14: Talking To My... Friend?

I said, "You can do it, i think you should start a serious program, consult with a real nutritionist or a doctor, and boom! reach your target." But I never really did it. -_-"

I said, "When u want it, and feel that you can get it, you'll get it." but i failed in trustin' my self.

Belajar memang tak pernah berhenti.

11.6.12

Coffee Cup #13: Berteman Dengan Lapar

Saya saat ini tengah membaca sebuah buku menarik. Judulnya "Selimut Debu" karya Agustinus Wibowo, seorang jurnalis-fotografer-penulis yang pergi menjelajahi sebagian besar pelosok negeri medan perang Aghanistan. Semakin saya jauh membaca, semakin saya kagum pada penulis dan rakyat Afghanistan.

Pada penulis, saya memberikan ucapan salut atas perjalanannya yang luar biasa melelahkan dan pelik. Serta niatnya yang kuat untuk menjelajah Afghanistan sampai-sampai menyiapkan diri belajar bahasa Farsi, Dari, Rusia, hingga bahasa Urdu.Selain itu, tulisan-tulisannya juga seringkali netral tanpa menghakimi sehingga perbedaan keyakinan dan pandangan penulis tidak terlalu menghalangi saya menyerap nilai-nilai yang universal. Terimakasih juga karena telah membuat saya tertawa, bergidik ngeri, hingga menangis di beberapa sudut halaman.

Lapar, lelah, panas, dan debu nampaknya merupakan keseharian negeri Afghan yang tak kunjung usai. Perjalanan puluhan kilometer sering ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau ingin sedikit mewah pun, mereka hanya bisa menggunakan keledai dan truk tua buatan Jepang yang berkecepatan 15 kilometer per jam. Keledai! Saya melihat foto-foto pengelana yang duduk di atas keledai. Benar-benar seperti dalam cerita Abu Nawas saja. Dan seperti yang dikatakan Agustinus Wibowo, ia boleh bersyukur karena hanya merasakan semua kepayahan itu dalam perjalanan ini saja, sementara warga Afghannistan harus sabar menerima keadaan sedemikian selama hidupnya. Bagaimanakah rasanya?

Ngomong-ngomong soal lapar. Sudah saatnya bagi saya untuk berteman lebih dekat lagi dengan lapar. Perut kenyang membuat otak tumpul dan produktivitas berkurang, menurut hemat saya. Lapar akan membuat kita terjepit memang, tapi memacu diri untuk tidak berpuas diri dan terus maju. Dulu sebelum saya mencoba berteman dengan lapar, saya sempat bertanya-tanya, seperti apa sih rasanya lapar? Karena biasanya, sekalipun puasa sehari penuh saya tidak merasa lapar. Kini saya sedikit-sedikit telah mengetahui rasanya lapar dan tanda-tanda memang sudah saatnya harus makan. Untunglah maag saya sudah sembuh hingga saya bisa lebih leluasa berteman dengan lapar.

Berteman dengan lapar bukan berarti menyiksa diri, sungguh. Bukan berteman hingga anoreksia begitu, bukan, tapi sesuai tuntunan Nabi "makanlah ketika lapar, berhenti sebelum kenyang" dan "cukuplah beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggung". Bukankah orang yang dibenci Allah adalah mereka yang mengisi perut penuh-penuh dan tidur dalam keadaan kekenyangan?

Oh ya, satu hal yang juga penting. Berteman dengan lapar bukan berarti berteman dengan kemiskinan. Seorang muslim wajib memanfaatkan potensinya, serta berhak untuk mencari nafkah di muka bumi. Sahabat Rosul yang paling rajin melakukan shaum adalah mereka-mereka yang kaya raya; seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Mereka tidak kaya untuk mengisi perut, tapi untuk menafkahkan di jalan Allah. Bukankah kedengarannya hebat? Mari berteman lebih dekat lagi dengan lapar dan terus maju! :)