18.11.13

Orang berakal, yang dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaanNya, bukan mereka yang ditinggikan karena sistem bernama sekolah. Tetapi orang yang memenuhi perjanjian Allah dan tidak melanggar perjanjian. Serta yang pandangannya dan pendengarannya dibersihkan dengan Al-Qur'an.

25.10.13

TEras #5: Fasad, Sebuah Catatan

Fasad masih merupakan elemen terpenting yang mampu menyuarakan fungsi dan makna suatu bangunan (Krier, 2001) Fasad berasal dari kata Latin 'facies' yang berarti 'wajah' atau 'penampilan'. Maka istilah 'fasad bangunan' dapat diartikan sebagai 'wajah bangunan', yang meliputi bagian-bagian bangunan yang menghadap ke jalan.

Fasad dapat terbentuk dan mewakili beberapa hal berikut:
1. Keadaan budaya saat bangunan dibangun.
2. Kriteria penatanan dan tatanan.
3. Peluang terhadap ornamen dan dekorasi.
4. Karakter penghuni.
5. Representasi identitas kolektif dari pengguna bangunan kepada publik.
6. Kemajuan teknologi dan pendekatan perancangan yang digunakan.

RUMAH TINGGAL
Dalam perancangan rumah tinggal, sentuhan karakter pada fasad amatlah penting. Penggunaan bahan kodian dengan bentuk dan ukuran yang populer akan mengurangi diferensiasi estetika pada fasad tersebut. Penggunaan bukaan sebanyak-banyaknya dengan rangka kayu ataupun alumunium, misalnya, menyebabkan desain rumah tersebut menjadi rapuh, terlalu transparan, dan pasaran. Fasad rumah tinggal seharusnya berkesan masif, tertutup, dan tersembunyi dari jalan. Sebab bagaimanapun rumah tinggal adalah bangunan yang bersifat privat.

Khusus di Indonesia, fasad yang masif untuk rumah tinggal menjadi lebih tepat karena beberapa alasan:
1. Konteks geografis yang berpengaruh apabila wajah bangunan menghadap timur, barat, ataupun utara (untuk jawa bali dan sejajarnya) dan selatan (untuk kalimantan sulawesi dan sejajarnya) menyebabkan perlunya perlindungan ekstra dari matahari.
2. Budaya yang membutuhkan privasi lebih dalam rumah tinggal, ditunjukan dengan penggunaan tirai pada semua jendela.
3. Keberadaan Ruang Tamu dan Teras yang khusus untuk penerima tamu, serta pagar. Menunjukan bahwa rumah adalah ruang yang sangat privat, yang jarang disentuh oleh orang luar.
4. Isu keamanan yang dipicu dari kondisi Indonesia di mana kesenjangan ekonomi dan sosial masih menjadi permasalahan utama.

Komposisi suatu fasad adalah materi yang penting untuk dikuasai oleh arsitek, sebab kemampuan mengolah komposisi adalah nilai tambah arsitek yang tidak mudah ditiru orang awam. Nilai desain suatu fasad, seperti halnya pada karya seni lainnya, bertitik berat pada komposisinya: apakah ia harmonis atau tidak. Sebelum masuk dalam persoalan komposisi, pertama-tama perlu dikenali terlebih dahulu elemen-elemen  apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan fasad rumah tinggal:
1. Pintu masuk utama.

2. Pintu tambahan / servis
3. Jendela beserta awning (bila ada).

4. Dinding Eksterior
5. Tangga masuk / Ramp
6. Teras dan balkon.

7. Parapet dan Railing
8. Atap
9. Pagar dan Gerbang

10. Vegetasi

Komposisi fasad yang baik, adalah ramuan dari proporsi, penyusunan struktur vertikal dan horizontal, bahan, warna, dan elemen dekoratif. Pemilihan warna dan material serta elemen dekoratif terkait erat dengan karakter, konsep bangunan, serta selera personal. Kesan yang ditimbulkan bisa sangat subjektif. Satu hal yang dapat dinilai secara objektif adalah proporsi. Terdapat beberapa teori dan rumus praktis yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas proporsi rancangan, diantaranya: Golden Section, geometri dasar, serta konsep keseimbangan simetri dan asimetri.

Tulisan mengenai proporsi dapat dibaca di sini: PROPORSI

Penyusunan struktur vertikal dan horizontal amat penting dalam komposisi fasad. Terkadang dalam fasad rumah tinggal struktur ini tidak terlalu terasa dibanding pada bangunan umum yang lebih lebar dan memiliki banyak lantai. Namun struktur vertikal dan horizontal tetap ada dan menjadi ukuran juga, misalnya, dalam menentukan bentuk dan besar jendela, pembagian lis jendela, jumlah daun pintu dan jendela, bentuk railing, penggunaan kolom, dan sebagainya. Struktur vertikal dan horizontal dapat juga menjadi alat untuk membentuk proporsi.




TEras #4: PROPORSI


 "…Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan…," (HR. Muslim)

Arsitek memiliki nilai tambah apabila ia mampu mengkombinasikan kemampuan teknik dengan seni. Bagaimanapun, bangunan yang dirancang seharusnya tak hanya kuat, kokoh, nyaman, dan berfungsi dengan baik; tapi juga indah.

Keindahan, konon, berkolerasi dengan proporsi. Arsitek dan seniman selama berabad-abad berkutat dengan proporsi untuk menciptakan komposisi yang indah. namun, sebagai insan yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk, bukan pencipta, arsitek harus sadar bahwa contoh-contoh proporsi yang sempurna terdapat dalam ciptaan-Nya.

Adakalanya manusia memang iseng dan merasa hal tersebut perlu dijelaskan dengan fakta terukur sebelum ia yakin sepenuhnya. Saya menemukan sebagian penjelasannya dalam buku "Komposisi Arsitektur" dari Prof. Bob Krier, “Le Modulor” dari Le Corbusier, dan video  "Arsitek-Arsitek di Alam" dari Harun Yahya.

Krier menjelaskan dengan Matematika.

Seorang guru di SMP saya dulu, Bu Elis, pernah berkata: "Elemen paling dasar dari matematika adalah titik. Konon seorang pemikir matematika berjalan melingkar di padang salju (atau gurun?) sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya secara berkala dan terbentuklah lingkaran. Ternyata, lingkaran terdiri dari banyak titik. Begitu pula garis, bidang, huruf, dan angka."

Tentu saja, titik itu sendiri bila diperbesar berbentuk lingkaran. Maka kuliah tentang proporsi dari Prof.Krier dimulai dari pemahaman tentang lingkaran. Persiapkan diri Anda kalau-kalau Anda merasa bosan. Semoga menjadi pemahaman menarik pada akhirnya.
#1: Lingkaran dibagi 3 sama besar. Sudut pusat masing-masing bagian sebesar 120˚ seperti terdapat pada gambar di atas. Artinya ketiga titik sudut kelilingnya dapat membentuk segitiga sama sisi bersudut 60˚. Bila dibuat sebuah persegi panjang yang memuat segi tiga tersebut, maka didapat persegi panjang dengan perbandingan P : L = 1 : 0.86 = 1.15 : 1.
#2: Lingkaran dibagi 4 sama besar. Sudut pusat masing-masing bagian 90˚ dan membentuk persegi di dalam lingkaran. Ambil salah satu segitiga dan satu juringnya, buat satu persegi panjang yang membungkus keduanya, maka didapat sebuah perbandingan P : L = 1,41 : 1 = 1 : 0,7.

#3:  Lingkaran dibagi 5 sama besar. Sudut pusat tiap juring 72˚ dan membentuk segi lima sama sisi dalam lingkaran. Sudut Kelilingnya 36˚, karena sudut keliling selalu 1/2 dari sudut pusat. Ambil satu segitiga dari sudut pusat, beserta segitiga dari sudut kelilingnya, kemudian bungkus dengan persegi panjang dan diperolehlah perbandingan P : L = 1,618 : 1 = 0,618 : 1. Ini adalah perbandingan yang dikenal dengan Golden Section.

#4: Lingkaran dibagi 10. Mirip dengan poin #3, namun didapat sebuah persegi panjang di dalam lingkaran dengan perbandingan P : L = 1,37 : 1. Apabila diambil segmentasi terkecil dari 10 segmen, maka diperoleh persegi panjang dengan P : L = 3,73 : 1.
#5: Lingkaran dibagi 6 sama besar. Sudut-sudut pusat setiap juringnya adalah 60˚. Di dalam lingkaran dapat dibentuk sebuah persegi panjang dengan perbandingan P : L = 1,732 : 1.

#6: Lingkaran dibagi 7 bagian. Sudut-sudut pusatnya 51,4˚. Perbandingan P : L dari persegi panjang yang terbentuk adalah 2,07 : 1.


Hasil pembagian lingkaran menjadi 3, 4, 5, 6, 8, dan 10 bagian menghasilkan varian persegi panjang dengan proporsi bebeda-beda. Berikut rangkumannya bila semua persegi panjang tersebut disuperimposisikan:

Dapat dilihat bahwa proporsi yang terbentuk dari hasil pembagian lingkaran tak hanya terbatas pada golden section. Prof. Krier memberikan beberapa contoh menarik untuk perbandingan proporsi tersebut di alam.

1. Aalisis Proporsi Kuda. Berdasarkan analisis Prof. Krier ternyata kuda memiliki proporsi golden section. Bisa diperhatikan pada gambar berikut.
2. Analisis Proporsi Struktur 5 Daun.  Ternyata proporsi daun ini sesuai dengan pembagian lingkaran menjadi 5 bagian. Yang menarik adalah percabangannya yang bukan berada di pusat lingkaran, melainkan di salah satu persilangan dari bentuk bintang.
3. Analisis Proporsi Daun Beech, Walnut, Oak. Ternyata ketiga daun ini memiliki proporsi yang sama dengan hasil pembagian lingkaran menjadi 3 dan 6 bagian. Proporsinya adalah 1 : 1,15 ; 1 : 1,7 ; dan 1 : 3.

Le Modulor

Le Corbusier (1887-1965), arsitek dan pemikir ternama dari Swiss, menjelaskan adanya proporsi yang sempurna dalam salah satu ciptaan-Nya yang sangat kita kenal: manusia.

Le Corbusier melakukan pengukuran pada tubuh manusia dan menemukan fakta yang menarik. Pusar, misalnya, rupanya membagi tubuh manusia dalam proporsi Golden Section. Jarak dari puncak kepala ke pusar dibagi dengan garis leher juga merupakan pembagian Golden Section. Begitu pula dengan ketiak. Proporsi telinga pun merupakan rangkaian Golden Section. terdapat keyentuan ukuran yang menarik lainnya. Misalnya kelipatan 7. Tinggi badan manusia umumnya tujuh kali panjang telapak kakinya. Begitu pun pada beberapa bagian tubuh lainnya. Bukankah memang manusia diciptakan dengan sebaik-baik rupa?


Apa itu Golden Section? Contoh sederhana dari Golden Section adalah bidang persegi panjang dengan proporsi 1 : 1,618. Mengapa ia disebut Golden, dapat dijelaskan dengan gambar berikut.

Persegi panjang dengan proporsi demikian,  apabila dikurangi oleh persegi seukuran lebarnya, akan menyisakan persegi panjang kecil yang juga golden section. Demikian seterusnya. Apabila lebar perseginya ditarik menjadi jari-jari lingkaran, maka busur lingkaran tersebut akan menerus membentuk spiral yang sempurna. Konon proporsi Golden Section telah digunakan oleh manusia jauh dalam peradaban-peradaban kuno. Contoh di alam benda-benda yang berproporsi Golden Section adalah keong laut, kuda (seperti dijelaskan Krier), dan manusia (seperti yang diteliti oleh Le Corbusier).





10.10.13

TEras #3: Permukaan (Surface)

Permukaan dari sebuah ruang dan bentuk (surface) adalah bagian yang menarik dalam perancangan arsitektur. Tekstur, warna, tampilan visual, dan efek pencahayaan dari suatu permukaan dapat menciptakan kesan tertentu dalam sebuah ruang.

Batuan, misalnya, akan dapat memberikan kesan dekat dengan alam, rustic, ataupun kesan berat. Kayu, bisa jadi memberikan kesan hangat dan ringan. Kayu yang gelap dan berlumut dapat memberikan kesan indah yang hanya dapat dibentuk oleh waktu. Sementara itu metal dapat memberikan kesan modern, industrious, ataupun kesan dingin. Kesan dari sebuah permukaan sangat erat kaitannya dengan pemilihan material.

Kesadaran akan pentingnya sebuah permukaan dalam rancangan arsitektur akan melahirkan rancangan yang lebih kaya. Apabila dikaitkan dengan konteks, konsep, dan sentuhan personal, rancangan permukaan akan membantu membentuk keseluruhan rancangan arsitektur yang otentik, bahkan unik.

Sebagai contoh, National Museum of Australia, Canberra (2011) dirancang dengan fasade bertekstur huruf-huruf braille. Unik, namun tidak hanya unik sebab ia juga mengandung pesan.

Bangunan-Bangunan di era Modern, yang dirancang ketika dinding bersih mulus dan material pre-fab menjadi populer serta bangunan bergaya minimalis sangat laku dipasaran, apabila dijadikan satu-satunya preseden oleh mahasiswa arsitektur bisa jadi justru 'menumpulkan' kesadaran akan  permukaan. Penggunaan material yang beragam menjadi sangat jarang. Dan umumnya material yang digunakan dalam beberapa proyek hanya yang itu-itu saja.

Sebaliknya bangunan-bangunan pra Modern, atau bangunan kuno, terlihat sangat 'dalam' pengolahan permukaannya. Langit-langit, lantai, dinding, dan permukaan eksterior dirancang satu per satu dan berbeda satu sama lain. Bahkan sebuah dinding bisa jadi dirancang dengan sangat rumit.

Tentu saja, dalam realita profesional, ada benda bernama 'anggaran' yang membatasi keragaman, keunikan, dan kerumitan rancangan sebuah permukaan. Namun, di era post-modern ini, arsitek perlu menyadari kembali pentingnya sebuah permukaan agar menghasilkan rancangan yang kaya dan otentik. Anggaran terbatas tidak menghalangi terwujudnya rancangan yang baik.

Alangkah lebih baik bila, mahasiswa belajar melatih diri dengan memberikan 'tugas tambahan' merancang permukaan pada diri sendiri. Di sekolah-sekolah Arsitektur di negara-negara Eropa, di mana pendidikan arsitekturnya masih bertumpu pada arsitektur eropa modern sebelum revolusi industri, mahasiswa diberi tugas khusus merancang permukaan baik dalam tema Renaissance, Gothic, Rococco, maupun dalam tema Modern. Demikian pula dengan merancang pintu, merancang jendela, merancang kolom, dan sebagainya. Bagi kita yang tidak sempat mendapat tugas semacam itu, ada baiknya menambah tugas tersebut untuk memperkaya diri sendiri.

Di sana lah, dalam perancangan permukaan, terbuka kesempatan memberikan sentuhan personal sebanyak-banyaknya.

24.8.13

Laporan Perjalanan Kampung Naga dan Candi Cangkuang

Baiklah, sebelum lupa, sebaiknya saya segera memulai laporan perjalanan kampung naga 
saya bersama Luke dan Sora kemarin... 

05.00 = tertinggal bus pertama, jadi sarapan di McD dulu sementara Luke minjem kamera 
Sherly

06.00 = sampai di cicaheum, terburu-buru naik minibus tujuan singaparna via-garut. 
ngobrol sebentar, lalu tidur dengan terlalu nyenyak.

angkot simpang-caheum = 2500
tiket minibus sampai kampung naga = 25.000

07.30 = merasa segar bugar, dan sampai juga di garut.. Ah, garut begitu dekaaat...

08.00 = ngetem di terminal garut. rasanya seabad. pusiiiing... untung ada vitacimin *iklan

haha, o ya jadi ingat kisah supir dan penjual jeruk. Begini, penjual jeruk berkali-kali 
menawarkan jeruknya pada kita bertiga, sampai kita bosan. tertu saja semakin 
mendekati waktu mobil berangkat, harga jeruk semakin murah. ketika pak sopir (yang 
tepat di depan aku dan Luke) rupanya selesai sarapan dan naik ke bus, lalu menyalakan 
mesin, si tukang jeruk otomatis menurunkan harga hingga 10k. namun sial, si sopir turun 
lagi dan lucunya, si tukang jeruk langsung menaikan harga jeruknya ke 15k. haha. orang 
kan udah terlanjur tau kalau harganya 10k.

09.30 = gapura kampung naga muncul di sisi kiri jalan. Sampai di kampung naga, kami 
disambut dengan ucapan selamat datang dan penjelasan dari pemandu. lalu ke toilet.trus sarapan dan 
check kamera.

pinjem toilet = 2000/orang

10.00 = selesai sarapan, sesuai arahan pemandu, turun tangga (ada 300 anak tangga men!), mencoba menemui Pak 
Hen Hen, wakil kuncen kampung naga, untuk minta izin foto2.. tapi malah disambut oleh 
pak jason alias pak risman alias pak nana, selaku RT setempat, yang disuruh pak hen hen 
mewakili beliau.

11.00 = selesai ngobrol-ngobrol di rumah pak hen hen, bersama pak risman, yang 
akhirnya kelepasan memberitahu kami nama aslinya, kami berkunjung ke rumah pak 
risman, minum sambil foto2 interior...

11.30 = kami ngga diizinkan banyak foto2. menurut kami, berdasarkan cerita pak risman 
dan pertemuan dengan beberapa orang di sana, warga kampung naga termasuk kelompok 
yang terlalu berhati-hati. 

hati-hati terhadap pengaruh luar, hati-hati terhadap perubahan, hati-hati terhadap 
pendatang, dan lalu yang paling menarik, hati-hati terhadap mahasiswa.

begini kawan, kami diceritakan oleh pak risman, september 2008 pernah ada seseorang 
bernama Willy W, yang datang ke kampung naga sebagai alumni sebuah kampus di jakarta 
dan hendak menulis novel dengan latar belakang kampung naga. Si Willy W ini berencana 
tinggal selama 7 hari di kampung naga. namun, baru juga 3 hari berjalan, tiba2 si Willy W 
ini menghilang membawa motor salah seorang pemandu dengan alasan akan ke 
kecamatan. 

salah satunya memang gara-gara Willy W ini, kampung naga ini jadi berhati-hati kalau ada 
pendatang yang tak jelas asal usulnya. kalau ada yang mahasiswa datang untuk penelitian, 
harus bawa surat pengantar. kalau bukan mahasiswa pun harus jelas dia siapa. jadi 
bawalah tanda pengenal kalian yaaa ^^ dan gunakan pemandu demi kelancaran liburan 
kalian. kampung naga tak seramah dulu lagi. (walau kami tetap dapat undangan untuk 
berkunjung lagi ke rimah pak risman, sekedar makan bareng atau ngobrol2. pak risman 
termasuk yang paling ramah dan baaaikkk. kalau kalian datang ke sana baiknya bertemu 
pak risman jugaa^^)

selain cerita Willy W yang ngga enak didengar ini, ternyata kampung naga juga pernah 
menutup diri dari semua bentuk kunjungan. gara2nya ada kebijakan mengganti 
penggunaan BBM untuk masak dengan gas LPJ, sehingga minyak tanah jadi mahal dan 
sulit dicari... humm, alasan yang sedikit egois sih, tapi memang kampung naga sudah 
banyak berkorban demi mempertahankan tradisi leluhur.

- mengapa tidak pakai listrik? karena bahaya kebakaran, juga demi alasan keseragaman. 
begitu listrik masuk, yang kaya bisa membeli kulkas, laptop, mesin cuci, dsb. 

- mengapa bisa ada TV kalo ngga pake listrik? yah,, dinyalakan dengan accu. tahan berapa lama? 2 minggu

- bapak punya HP? nge-charge nya gimana? 'punya dong... walaupun pulsanya tinggal 1000', katanya sambil bercanda. kalau mau ngechagre ya naik ke atas (yang berarti melalui 300 anak tangga itu. capek loh. pantesan orang kampung naga langsing2 )

- pendidikan? ada SD di dekat situ.. ada dua SMP yang bisa diraih dengan naik angkot. anak tertua pak risman, Doni, sekarang nge-kos di.. duh lupa, untuk sekolah di SMK jurusan elektro. katanya dia ingin ngelanjutin kuliah di ITB seandainya dapat beasiswa. doakan yaaa :)

- kerja? jangan salah... ada juga yang kerja di jepang dengan gaji 15 juta per bulan...

hum.. akhirnya, kami menaiki 300 anak tangga itu lagi ke atas... rencananya mau bertemu 
pak kuncennya langsung, tapi karena beliau ngga ada jadi cuma 'ngobrol' sama pemandu.. 
Mang Ndut dan Mang Ucu.

yah.. kalau semua diceritakan, bisa jadi cerpen 10 halaman. hahaha

12.30 = undur diri untuk pergi ke tempat lain, lalu mampir ke masjid untuk istirahat dan 
mendinginkan diri. fuuuh... panasss..

13.00 = naik elf ke garut... lirik2 alun-alun dan mesjid agungnya... ke toilet lagi. lalu ganti angkot ke leles. di angkot ini kita bertemu ibu-ibu yang rupanya keturunan langsung penduduk desa adat cangkuang. 

berbeda dengan kampung naga yang mempertahankan jalur keturunan patrilineal, kampung adat cangkuang ini mempertahankan jalur keturunan matrilineal. kebetulan ibu-ibu cantik yang ketemu di angkot ini keturunan sono dari jalur kakek. jadilah keluarganya ngga tinggal di desa cangkuang lagi... hm...sepertinya pekerjaannya guru. luar biasa cerdas soalnya.

o ya. beliau cerita juga iklan dan film apa aja yang pernah syuting di sono.. hehehehe... djarum, rcti, dll.... promosi kampung halaman rupanya. :)

ongkos elf ke garut 7000/org
toilet 1000
angkot leles 4000/org

14.00an = turun di cangkuang, naik delman deeeh.... delman yang ini ngga kayak naik delman di lembang waktu mau ke de ranch. ini delmannya mantaaap dan perjalanannya panjang. jalan meliuk2 dan naik turun. setiap kali jalanannya menanjak, delmannya ngebut sampai kita kaget setengah mati.. hoho.. like this deh.

ongkos delman 10rb/3orang... sama tuh dengan di lembang... waktu di lembang kita di tipu...atau karena di lembang termasuk 'kota' kali yaa..

14.30an = makan mie goreng di salah satu warung makanan...

15.00 = naik rakit... asyiknyaaaa.... rakitnya lambat, jadi bisa foto2 pemandangan. bukit tempat candi cangkuang ada di tengah danau. bagus deh... kayak bukit belakang sekolahnya nobita. di sana kita foto-foto.. jalan-jalan. lalu makan jagung bakar harga seribuan... yah, yang kita beli harganya 5000/tiga sih, terlanjur. 

tiket masuk wisata cangkuang = 3000/org
tiket rakit bolak-balik = 3000/org, kalau ngga mau rakitnya ngetem nunggu yang lain jadi 15000/3 orang
toilet = 1000/orang

17.15an = naik rakit lagi, menikmati sunset yang keren... sesampainya di daratan kita sholat ashar... lalu dengan beruntungnya segera mendapatkan delman dan pulang menuju Bandung. Delman kali ini lebih asyik lagi. kudanya sehat, jalannya lebih mantap.

delman 10.000/3org
minibus menuju bandung 10.000/orang

20.00 = sampai di terminal cicaheum, pulang ke rumah masing-masing dan beristirahaat... alhamdulillah.. ^^

tips jalan-jalan kali ini:
--->kalau ditawarin pemandu di kampung naga, gunakan jasa itu. pasti berguna deh.
--->kalau ditanya sama calo di terminal, lebih baik dijawab, supaya cepet berhenti juga pertanyaannya. tapi jangan sekali-kali mau ngasih ongkos caloan... rugi.
--->masalah ongkos bisa jadi sangat penting. bertemanlah dengan penduduk setempat dan tanya berapa sebenarnya ongkos kemana kamu mau pergi.

PS: ini catatan 1 Juni 2010. baru dipublish. hehe









22.8.13

Coffee Cup #30: Blogwalking

Hari ini saya sengaja menyempatkan blogwalking berjam-jam lamanya, bukan hanya ke blog yang biasa dijarah, tapi juga blog-blog baru dari adik kelas, temennya temen, dan mereka yang bener-bener asing. Menarik. 
"If you are brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello." - Paulo Coelho
 terus yang ini agak ngakak, dan ngga 'selalu' sih..
"Laki-laki bertambah kegantengannya jadi 101% bila ia bisa 'menulis' dan enak dibaca."
terus catatan menarik dari finka tentang kopi:
"Kopi mengatasi rasa haus dalam bentuk yang lain. Haus ingin bicara, haus ingin mendengar, dan ingin didengar."
"Adakalanya, air itu masih bergolak di dalam gelas, persis seperti tadi meluap di dalam panci. Tujuannya agar obrolan menjadi lama lantaran diperlukan waktu yang tak sebentar sampai kopi itu mencapai tingkat hangat yang wajar untuk diminum."
Beberapa postingan super galau sekali. Terutama buat mereka yang di usia menikah dan mungkin sedang terlibat suatu cerita. Beberapa menarik karena menambah wawasan. Dan beberapa postingan cukup mendongkrak semangat untuk lebih mendekat kepada-Nya. Just what I need. :)
As long as you are worried about what others think of you, you are owned by them.

20.8.13

TEras #2: Daylighting Rule of Thumb dari Harvard Graduate School of Design

Rule of thumb ini dibuat untuk mempermudah arsitek dalam menentukan dimensi ruang dan luas kaca/jendela dalam perancangan pencahayaan alami. Menurut Rule of Thumb ini, ada beberapa tahap perancangan yang harus dilalui, yaitu:

1. Menghitung sudut langit efektif untuk mengetahui seberapa banyak cahaya yang akan diterima suatu ruang.
Untuk melakukannya, harus sudah diketahui di mana jendela akan di tempatkan dan bagaimana kondisi eksisting sekitar calon jendela tersebut. Demikian cara menghitung sudut langit efektif:

2. Menentukan target rata-rata cahaya yang dibutuhkan oleh sebuah ruangan. Caranya dengan menggunakan menghitung Daylighting Factor (DF) ruang tersebut. Demikian rumusnya:
DF = (Ein / Eext ) × 100
DF = Daylighting Factor (%)
Ein = tingkat illuminasi dalam interior.
Eext = tingkat illuminasi dalam exterior. 
Ein dan Eext bisa didapatkan pada ruang terbangun dengan pengukuran atau melalui perhitungan software dengan kondisi langit standar (CIE Overcast) tanpa bayangan. Menurut British Standards Institution (BS 8206 part 2 CIBSE), apabila hasil perhitungan menunjukan DF sebesar 2% hingga 5%, ruangan dianggap telah cukup cahaya dan tidak memerlukan bantuan pencahayaan di siang hari. Di bawah 2% dianggap kurang. Namun perbedaan fungsi juga mempengaruhi nilai DF standar bagi sebuah ruangan. Misalnya:
Office/Retail 2%
Classroom/Conference Room 3%
Circulation Area 1%
Jika hasil perhitungan menunjukan bahwa sebuah kantor hanya memiliki DF 1%, maka masih dibutuhkan minimal 1% DF lagi. 1% DF dikembalikan ke rumus agar didapatkan nilai Ein yang dibutuhkan. Namun, apabila ruangan belum terbangun, cukup menentukan jenis ruangan dan menentukan nilai Ein yang dibutuhkan agar menghasilkan nilai DF. Dapat juga digunakan standar DF dari British Standards Institution di atas.

3. Menguji apakah target dapat tercapai dengan Window to Wall Ratio (WWR)
Apa itu window to wall ratio (WWR)?
WWR = Luas Bukaan Eksterior (tanpa termasuk mullion dan kusen) : total luas dinding eksterior (lebar x tinggi dari lantai ke langit-langit)
Tes dilakukan dengan pertidaksamaan berikut:
DF: nilai pencahayaan yang dibutuhkan dalam %.
θ: sudut langit efektif dalam º
Ƭvis: Glazing visual transmittance (bergantung pada jenis kaca dan lapisannya)
Apabila nilai minimum WWR adalah 80% (WWR<80 akan="" atas="" besar="" dalam="" df="" di="" dianggap="" kecil="" lolos="" maka="" menentukan="" min="" nilai="" p="" pertidaksamaan="" sangat="" semakin="" target="" tercapai.="" tidaknya="" tvis="" wwr.="">
4. Menghitung kedalaman ruang dan reflektivitas selubung ruangan.
Pada bangunan apartemen, hotel, dan rusun misalnya, kedalaman ruang menjadi isu penting ketika merancang. Batas kedalaman yang mampu dicapai oleh cahaya alami dalam sebuah ruang (limit depth) dapat dihitung dengan menggunakan beberapa rumus berikut:
a. Perhitungan pada kondisi cahaya universal.

Rmean: rata-rata kemampuan selubung ruangan untuk memantulkan cahaya (setiap material memiliki nilai r yang bebeda)
w: lebar ruangan (m)
b. Perhitungan kedalaman apabila tidak terlihat langit dari dalam ruangan (No sky line Depth). Kondisi ini terjadi apabila di depan jendela terdapat bangunan lain yang menghalangi view dari dalam ruangan ke langit. Rumus untuk menghitung batas kedalaman ruangan adalah sebagai berikut:
dengan catatan α (No sky line angle) ~ θ (Sky angle)

c. Perhitungan dengan menggunakan Window Head Height

5. Menghitung luas bukaan (Jendela)
Setelah mengetahui sudut langit efektif, nilai illuminace interior yang dibutuhkan, nilai WWR, dan kedalaman ruang. Maka dapat dihitung luas bukaan yang diperlukan dengan menggunakan rumus berikut.
A total = total luas permukaan interior (m2)
Referensi:
Graduate School of Design, Harvard University. 2009. Daylighting Rule of Thumb. version 3/16/2009.

TEras #1: Matahari di Negeri Matahari: Kumpulan Rule Of Thumb Perancangan Pencahayaan Alami

Indonesia adalah Negeri Matahari. Istilah yang lebih seru, menurut saya, yang mengingatkan saya akan lokasinya yang tepat di garis Khatuslistiwa.

Sebagai Negeri Matahari, tentunya Matahari adalah salah satu asset utamanya. Matahari bersinar sepanjang tahun dan nyaris konstan. Matahari mengeringkan jemuran dengan cepat dan memberi tenaga bagi hutan tropis untuk tumbuh dengan lebat. Intinya, matahari bisa diolah jadi banyak hal: energi, makanan, hingga atraksi keindahan. Itulah mengapa pengolahan cahaya alami dalam arsitektur Indonesia pastinya akan sangat menarik.

Matahari dan Arsitektur
Saya selalu memandang arsitektur dan seluruh rancangan lingkungan binaan dari kamar tidur hingga kota dan negara akan menentukan karakter sebuah bangsa. Awalnya ia membentuk persepsi, kemudian persepsi mempengaruhi perilaku, perilaku menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi karakter. Wajar saja sebab hampir seluruh aktivitas manusia berada di dalam lingkungan binaan. Kita hanya menjelajahi lingkungan alami ketika liburan, survei, dan penelitian saja. Kita menikmati Matahari pun (yang termasuk bagian lingkungan alami), dari dalam lingkungan binaan. Matahari yang kita nikmati adalah matahari yang telah terinterferensi oleh apa yang dibuat oleh manusia di sekitar kita. Lebih lagi, itulah pekerjaan arsitek. Mengintervensi matahari.

Seorang yang dididik untuk jadi arsitek, di hari pertama akan  langsung tahu bahwa cahaya alami itu penting. Namun adakalanya perancangan cahaya alami hanya dibuat dengan rule of thumb yang diterima mentah-mentah tanpa dipelajari lebih lanjut. Misalnya, benarkah sinar matahari timur (pagi hari) itu masih tergolong 'baik' dan sinar matahari barat (sore hari) itu buruk? Benarkah untuk negara tropis seperti Indonesia baiknya orientasi bangunan selalu barat-timur serta bukaan baiknya di sisi selatan dan utara?

Catatan ini mungkin tidak menjawab semua pertanyaan. Saya hanya ingin berbagi catatan yang saya punya tentang perancangan pencahayaan alami. Saya membuka masukan, kritik, dan di sini bebas copas lho.. (dengan etika ilmiah tentunya).

Daylighting (Pencahayaan Alami)
Gregg D. Ander, dalam bukunya Daylighting Performance and Design, mengatakan bahwa daylighting adalah proses menggabungkan pencahayaan alami ke dalam desain bangunan. Untuk bisa merancang pencahayaan alami yang baik, arsitek harus memahami karakter cahaya dan pengaruh cahaya terhadap berbagai aspek. Namun singkatnya, dalam buku tersebut Ander memberikan beberapa rekomendasi terkait strategi perancangan pencahayaan alami. Saya akan membagi yang saya catat.

Strategi Pencahayaan Alami menurut Ander:
  1. Meningkatkan perimeter daerah yang terkena pencahayaan alami. Semakin besar perimeter semakin baik.
  2. Memberikan penetrasi cahaya yang tinggi dalam sebuah ruangan. Hal ini untuk mengurangi tingkat menerangan yang berlebihan.
  3. Menggunakan pantulan cahaya untuk meningkatkan penerangan. Misalnya dengan light self apabila dirancang dengan baik.
  4. Memiringkan langit-langit menjauhi sumber cahaya.
  5. Menghindari cahaya yang langsung mengarah pada area critical visual task. Misalnya area membaca, menonton, menjahit, dan lain-lain.
  6. Memberi filter pada cahaya matahari yang masuk. Filter dapat menggunakan tanaman, tirai, jalusi, dan semacamnya. Cahaya yang telah difilter justru akan dapat didistribusikan dengan baik.
  7. Memahami bahwa orientasi dan lokasi bangunan mempengaruhi strategi mana yang terbaik dalam memperlakukan cahaya matahari. Misalnya light shelves akan efektif pada sisi Selatan bangunan yang berada di Amerika, namun tidak efektif bila ditempatkan di sisi Barat dan Timur bangunan yang sama.

Daylighting Rule of Thumb dari Harvard Graduate School of Design
Rule of thumb ini dibuat untuk mempermudah arsitek dalam menentukan dimensi perancangan dan luas kaca/jendela dalam perancangan pencahayaan alami yang baik. Menurut rule of thumb ini, ada beberapa tahap perancangan yang harus dilalui, yaitu:
  1. Menghitung sudut langit efektif untuk mengetahui seberapa banyak cahaya yang akan diterima suatu ruang. 
  2. Menentukan target rata-rata cahaya yang dibutuhkan oleh sebuah ruangan. 
  3. Menguji apakah target dapat tercapai dengan Window to Wall Ratio (WWR)
  4. Menghitung kedalaman ruang dan kemampuan refleksi selubung ruangan.
  5. Menghitung luas bukaan (jendela) yang diperlukan.
Penjelasan mengenai langkah-langkah di atas saya catat dalam link berikut:
Daylighting Rule of Thumb dari Harvard Graduate School of Design

Preliminary Rule of Thumb dari Ecotect untuk perancangan shading.
Rule of Thumb ini digunakan sebagai dasar asumsi pemasangan shading pada bangunan. Namun pada prakteknya menentuan shading dipengaruhi oleh banyak faktor. Penentuan jenis shading berdasarkan orientasi fasade bangunan:
  • Menghadap khatulistiwa: shading fix horizontal.
  • Menghadap Timur: louvre vertikal (moveable)
  • Menghadap kutub: tidak diperlukan shading
  • Menghadap Barat:  louvre vertikal (moveable)
Masih ada beberapa kompilasi rule of thumb yang bisa dipakai. InsyaAllah akan saya tambahkan kemudian.

Referensi:
Ander, Gregg D. 2003. Daylighting Performance and Design. John Wiley & Sons. ISBN 0471262994, 9780471262992
Graduate School of Design, Harvard University. 2009. Daylighting Rule of Thumb. version 3/16/2009.
wiki.naturalfrequency.com/wiki/Shading_Design

Material #1: Tyvek

Material menarik yang saya temukan minggu ini adalah Tyvek®. Dari segi penampilan, Tyvek dapat menyerupai kertas, kain, dan plastik sekaligus. Dari komposisi penyusunnya, Tyvek termasuk serat polyethylene sintetis.

Tyvek adalah material fiber yang cukup kuat. Akan tetapi ia mudah untuk dipotong, dapat dijahit, dan dapat digunakan sebagai media print. Ia dapat digunakan baik indoor maupun outdoor dengan variasi fungsi yang menarik, meskipun kegunaan awalnya hanya sebagai pembungkus bangunan (house wrap) pada saat konstruksi.

Sebagai selubung atau penutup, Tyvek memiliki pori-pori sehingga termasuk dalam kategori "breathable". Akan tetapi zat cair ataupun air yang berbentuk liquid tidak dapat menembus pori-porinya sehingga Tyvek juga termasuk kategori "tahan air". Material ini dikembangkan menjadi beberapa jenis ketebalan, tampilan, dan kekuatan. Ada yang lebih menyerupai kertas, dan ada pula yang menyerupai kain. Tyvek kini banyak juga digunakan sebagai material pakaian, tas, lentera, kap lampu, peta, publikasi, vas bunga, penutup lantai dan dinding, produk interior, partisi, langit-langit, shelter, dan tirai. Meskipun Tyvek merupakan material sintesis dengan tampilan yang sering menyerupai plastik dan tahan air, Tyvek termasuk material yang dapat di daur ulang.

Sejarah Tyvek®
Seperti halnya banyak temuan di dunia ini, Tyvek ditemukan secara tidak sengaja. Jim White, salah seorang peneliti perusahaan DuPont, adalah pengamat yang pertama kali menyadari adanya Tyvek. Pada tahun 1955 White mengamati adanya benang-benang polyethylene yang muncul dari pipa percobaan lab DuPont. Kemudian, White melanjutkan penelitian tersebut di tahun yang sama ketika perusahaan membuat program penemuan material baru. Di tahun 1956, DuPont mengajukan proposal untuk mematenkan hasil temuan mereka, yaitu benang kuat dari polyethylene yang kemudian diberi nama Tyvek. Pengembangan produk dan industri Tyvek memakan waktu yang cukup lama. Baru pada tahun 1967 Tyvek berhasil diproduksi secara masal dan mulai dipasarkan.

Pengolahan material Tyvek dalam Arsitektur







Pengolahan material Tyvek dalam Fashion dan Design Produk











Sumber:
http://www2.dupont.com/Tyvek_Weatherization/en_US/applications/index.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Tyvek
http://www2.dupont.com/Tyvek/en_US/products/about_pgs/history.html
http://web.archive.org/web/20110628202910/http://abcnews.go.com/Health/wireStory?id=12757672&page=2