26.8.12

Coffee Cup #22: Sekali-kali Berpikir Arsitektur


Bicara mengenai Arsitektur bukanlah perkara yang mudah. Terutama ketika kita telah mengenal berbagai bentuk kritik dan pembatasan berpikir serta perlunya kehati-hatian dalam mengungkapkan pendapat. Kurangnya ilmu, kurangnya data, dan kurangnya dukungan, bisa menyebabkan sebuah tulisan dianggap salah nan tak layak.

Teori arsitektur adalah sebuah bahasan yang panjang. Modul rangkuman kuliahnya saja yang kini tersimpan di rak, tebalnya 2 centimeter. Namun, sebagai seorang praktisi dan siswa dalam pendidikan arsitektur, saya terkadang bertanya-tanya.

Bangunan apakah yang pertama kali dibangun oleh manusia? Dan dapatkah bangunan tersebut dianggap sebagai sebuah karya arsitektur?

Jawabannya, saya kira, harus merujuk pada arti kata arsitektur-- entah itu shelter, fungsi, ruang, dan semacamnya--serta sejarah peradaban manusia.

Aha. Artinya sebuah karya arsitektur sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia, bukan? Bisakah ia disebut sebagai HASIL dari sebuah peradaban? Bisakah ia disebut sebagai CERMINAN sebuah kebudayaan?

Bila ya, maka, peradaban seperti apa yang kelak ingin saya wujudkan dalam sebuah karya arsitektur?

Dahulu kala, terdapat peradaban-peradaban kuno yang menyisakan karya arsitektur megah yang dapat kita terlisik hingga kini. Sebutlah Mesir, China, Babylon, Yunani, Romawi, Maya, Aztec, India, dan seterusnya.

Waktu berlalu, berjayalah sebuah peradaban Romawi yang mewarnai arsitektur dalam bentuk arsitektur romanesk, gothic, renaissance, baroque, rococo, hingga neoklasik.

Kemudian bangkitlah para penemu kenamaan seperti Thomas Alva Edison, James Watt, Alexander Graham Bell, dan para pesaing paten zaman dahulu hingga tercetus sebuah peristiwa bernama Revolusi Industri. Revolusi ini pun menelurkan arsitektur pasca revolusi industri, art&craft movement, art nouveau, jugendstil, dan art deco.

Kemudian muncul pula arsitektur beraliran ekspresionism, cubism, constructivism, futurism, dan suprematism.
Juga kelahiran neo-plastisism, de stijl, bauhaus, organic architecture, dan international style. Dan kemudian, muncul deconstructivism, metabolism, dan isme-isme pasca modern lainnya.



Coffee Cup #21: You can't build a reputation on what you are going to do


"You can't build a reputation on what you are going to do." - Henry Ford


Keren ya, ucapan dari seorang pekerja keras bermarga Ford ini. Saat ini tentunya mengulang kutipan-kutipan emas dari orang sukses sangat biasa dilakukan. Ada satu grup facebook yang saya ikuti, yang salah satu treadnya berisi sharing quote-quote berharga seperti: "Make today's count."-nya John Maxwell, "Barangsiapa sering menunaikan shalat malam maka wajahnya akan terlihat tampan atau cantik di siang hari." (HR. Ibnu Majah),, atau kutipan penting lain yang menggelitik. Tapi, kutipan yang satu ini penting sepenting-pentingnya penting.

Apa yang ingin dikatakan PAk Henry Ford yang ternama, adalah Kamu tidak akan pernah dinilai atas apa yang akan kamu lakukan. Misalnya kita telah membuat rencana 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, 20 tahun ke depan akan jadi apa. Semua itu tak akan membuatmu menjadi lebih hebat dari yang telah kamu raih saat ini.

Kamu berencana tahun 2015 ingin menjadi seorang hafidz qur'an. Tak akan ada yang menganggapmu sebagai seorang hafidz sampai kamu benar-benar menghafal 30 juz.

Kamu berencana akan menjadi pengusaha sukses dengan 50 karyawan. Semua orang tak akan menganggap kamu pengusaha sukses sampai kamu benar-benar membuka usaha, berjualan, dan mendapat keuntungan.

Kamu berencana memimpin pasukan. Tak ada yang mengakuimu sebagai pemimpin sampai kamu punya satu, dua, hingga seratus prajurit.

"You can't build a reputation on what you are going to do."

Ketika akan terlena oleh nikmatnya tidur, bersantai-santai, mengecek bbm, fb, dan update twitter yang kurang penting, serta membuang-buang waktu menonton film korea, ingatlah lagu yang digubah oleh para pendidik kita

Waktu sangat berharga
Harus selalu diisi
Belajar sungguh-sungguh
Belajar tugas kita

Dan ingatlah akan sebuah puisi cina

Belajar bukanlah persiapan untuk menghadapi hidup
Belajar adalah hidup itu sendiri

Dan ingatlah akan sebuah ayat Al-Qur'an:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu mengerti?" QS. Al-Baqoroh, 2 : 44

Na'udzubillah. Mari menjadi orang yang beruntung, yang beramal shalih, saling menasihati dalam kebaikan, saling menasihati dalam kesabaran.

Orang yang paling dicintai adalah yang paling bermanfaat bagi umatnya.

Coffee Cup #20: Roda Indonesia


Indonesia. Bahkan saya lupa ini perayaan dirgahayu Indonesia ke berapa, sampai-sampai saya harus googling dulu sebelum 'ngeh' bahwa usia RI kini 67 tahun. Ah, Indonesia, benarkah namamu Indonesia? siapakah yang memberi nama? Namun, tentu saja, apalah arti sebuah nama.

Seorang bijak pernah berkata:
"Seribu tahun yang lalu, seribu tahun yang akan datang, itulah waktu. Dan, kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi!"-Asy-Syibli-

Ya,
Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi. Dan kalian jangan pernah terkecoh oleh ilusi.

Jika saat ini Indonesia telah melalui 67 tahun pasca apa yang disebut dengan 'merdeka', lantas, kemajuan apa yang telah kita capai? Apa yang telah kita raih? Dan ke manakah negeri ini menuju?

Dalam pandangan seorang kacung muda bau kencur yang baru saja jadi sarjana, rasanya kita hanya berjalan di tempat. Bak berlari di atas roda yang berputar. Bahkan bisa di katakan roda sejarah kita tersendat dan berhenti berputar. Perubahan demi perubahan, peristiwa demi peristiwa, tahun demi tahun, serta pemilu demi pemilu yang silih berganti tidak membawa kita kemana-mana. Seolah tak ada gunanya mengikuti berita terkini karena toh mayoritas masyarakat pun menyadari bahwa kasus-kasus sepenting apapun tak pernah 'selesai' di negeri ini. Korupsi, bencana industri, pembunuhan dan hak asasi manusia, kecurangan, serta kasus ketidakadilan. Sebutkan satu saja kasus yang terungkap penyelesaiannya di negeri ini, maka saya akan bertepuk tangan.

Tapi, ah, tahu apa bayi berusia 22 tahun ini soal negara.

Saya jadi teringat sebuah kutipan novel karangan penulis Maroko:
"Lelucon-lelucon terus mengalir, Hammu," jawabnya, "tetapi berbagai problem sejarah akan tetap ada. Jumlah orang yang berpikir serius tentang nasib dan masa depan sangat sedikit. Oleh karena itu, aku tidak boleh meninggalkan mereka sendirian, terutama ketika aku menyaksikan para penguasa sekarang, para pemuja egoisme yang merajalela, memberikan kebebasan untuk melakukan apapun, dan tidak peduli dengan bencana-bencana besar yang mereka sebabkan. Aku harus meneliti berbagai masalah secara tekun dan mendalam. Aku harus melatih pikiranku agar bersabar dan tidak tergesa-gesa, seraya beranggapan bahwa pastilah ada jalan keluar di ujung lorong dan sambil mengulang-ulang di pagi dan sore hari: "Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia." Engkau tidak menciptakan kami dengan sia-sia! Namun sebelum kita mulai beranggapan dan berharap, Hammu, catatlah kenyataan yang ada. Tulislah karakteristik-karakteristiknya yang tidak menjanjikan. Tulislah dengan mengingatkan semua orang bahwa mengetahui masalah-masalah seperti ini wajib bagi setiap pembaharu."-- Bensalem Himmish dalam Ibnu Khaldun Sang Mahaguru

Siapakah sejarawan yang tengah menuliskan detik-detik yang bergulir di negeri ini saat ini? Saya ingin bertemu. Saya bosan mendapat berita-berita simpang siur yang tak jelas asal-usulnya. Setiap pagi kotak kaca bernama televisi membesar-besarkan peristiwa, mengundang narasumber ini dan itu, serta mengulang-ulang narasi berita yang telah diputar sejak hari sebelumnya. Namun setiap kali muncul peristiwa yang menarik, kasus yang lama dengan mudah terlupakan dan tak muncul bahkan di bagian tengah koran sekalipun. Saya penasaran jika memang ada sejarawan yang tengah mencatat, bagian mana dari berita yang dicatatnya ketika kebenaran tak pula nampak? Anak cucu negeri beberapa dekade mendatang akan mempertanyakan apa yang terjadi hari ini seperti kita mempertanyakan beberapa dekade yang lalu. Apakah yang akan kita beri?

Ah, lagi-lagi, bayi tahu apa. Cukup belajar sungguh-sungguh, terus dan terus dan terus hingga bisa membuahkan karya yang layak.

Tapi, Indonesia, izinkan saya bertanya. Jika sampai usiamu hingga seabad, apakah yang akan telah kau capai kelak?

Coffee Cup #19: Yang saya pelajari dari Al-Faruq


Akhirnya saya berkesempatan menonton puluhan episode serial Umar bin Khattab yang katanya ditayangkan di MNC TV selama Ramadhan kemarin. Ternyata film serial ini bagus sekali, serius. Di antaranya ada hal-hal yang menggugah dan membekas, yang membuat saya semakin ngefans sama AL-Faruq, Amirul Mu'minin; di luar kisah tentang beliau yang pernah saya dengar sebelumnya. Misalnya:

*Ketika Umar bertugas bermalam menjaga unta Al-Khattab
"Aku tidak mengeluh. Di tempat terbuka ini, kehidupan memberikanmu kejernihan pikiran, ketajaman penglihatan, perasaan yang murni, dengan tanpa hambatan.
Dan untuk unta, ketika kau memperlakukan mereka seperti yang aku lakukan, kau akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pengurusan yang layak. Kau akan bisa mengenal mereka secara individual. Tiap-tiapnya memiliki perangai, kebiasaan, kebutuhan, dan kemampuannya sendiri. Tiap-tiapnya berkumpul pada kawanannya, tetapi tidak ada dua unta yng identik. Ketika kau menyadari penuh akan hal ini, kau mengurus mereka sebagai kawanan, tapi kau melihat mereka sebagai individu. Kau akan baik kepada mereka sebagaimana ibu kepada anak-anaknya.
Di mana ini berlaku untuk unta, inipun lebih berlaku lagi kepada manusia. Hidup mereka tidak akan berkembang sampai mereka mempunyai pemimpin yang mengurus urusan mereka. Barangsiapa yang memberontak akan binasa. Serigala hanya menyerang domba yang sendirian.
Jika orang-orang bersatu, orang-orang tersebut akan memiliki sifat dan pikirannya sendiri. Mereka akan mengejar langkahnya sendiri, kepentingan dan apa yang diinginkan oleh mereka. Tak ada satupun yang bisa menggantikan yang lain. Jika tidak seperti itu, manusia tidak akan butuh kepada yang lain. Tidak ada yang butuh apa yang dimiliki orang lain. Maka, bersama-sama adalah bagaimana mengatur kepribadian mereka dan perbedaan mereka sehingga mereka bersatu.

*Setelah Haji Wada:
"Aku takut aku bukan menyempurnakan Agama, tapi sebaliknya."

*Setelah Abu Bakar dibaiat menjadi Khalifah, dan terjadi perpecahan.
"Itu sudah biasa, Abdullah. Manusia saling berbeda pendapat, pemikiran, dan ijtihadnya. Kemudian sebagian dari mereka atau mayoritas dari mereka bersepakat atas suatu perkara yang akan dijadikan ijma'.
Mengenai perbedaan yang berhubungan dengan hawa nafsu manusia, Allah lebih mengerti akan hal itu. Dan janganlah mempertanyakan apa yang ada di hati manusia. Dan janganlah kita sombong terhadap yang lain. Dan janganlah menghukumi seseorang tanpa bukti yang jelas. Karena Allah tidak mensucikan kita dari perbuatan dosa.
Maka bersalah orang yang salah asal niatnya benar. Bisa jadi orang itu berkata benar tapi apa yang dikehendaki adalah kebatilan. Janganlah kita meninggalkan kebenaran hanya karena siapa yang berkata. Dan kita lebih utama akan kebenaran itu, barangsiapa yang mendapatkannya, maka ia berhak atasnya.
Dan ingatlah hal ini. Sesungguhnya manusia telah beranggapan salah terhadap para sahabat dengan menganggapnya suci tanpa dosa. ini telah berlebihan dalam meninggikan tingkatan manusia meskipun di balik itu muncul atas dasar ketaqwaannya. Jika demikian, ketika mereka melihat ada yang berbeda pendapat dengannya, mereka akan menjatuhkannya dan menghina agamanya. Kemudian datanglah setelahnya suatu kaum yang membenci Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka saling menjatuhkan agamanya masing-masing."

*Setelah diangkat menjadi Khalifah:
"Bagaimana pendapatmu wahai 'Atikah?" "Tentang apa?" "Tentang kecerobohanku?" (Atikah tertawa kecil) "Pada dirimu terdapat karakter yang keras tapi baik. Kau keras pada dirimu sendiri dibanding pada orang lain. Kau pergunakan sifat kerasmu itu untuk kebenaran.. dengan kembali pada kitab Allah. Dan kau mengimbanginya dengan impian dan kasih sayang dan belas kasihan kepada kami. Maka lakukan segala perbuatanmu dengan baik, Abu Hafs. Karena sesungguhnya Allah mencintaimu."

21.8.12

"Banyak orang cerdas.. dirantai oleh berbagai pemikiran, tindakan, dan hasil. Mereka tidak pernah berkembang melampaui batasan-batasan yang mereka tetapkan sendiri." - John Maxwell

12.8.12

Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan,” (HR Thabrani)

Coffee Cup #18: Design Your Life

This post titled in a very very universal state. But i'm not going to talk about my career, or my plan continuing my study to higher degree. Really, it's all about the most important thing in the world: A Family.
"Harta yang paling berharga, adalah keluarga.  Istana yang paling indah, adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga." -Keluarga Cemara-
 In the end, Charlie Bucket won a chocolate factory. But Willy Wonka had something even better, a family. And one thing was absolutely certain - life had never been sweeter. -Roald Dahl-
 A part of designing my life is dreaming an ideal future family. It starts with choosing the right one as a partner. I'm not in a state of 'labil' or 'galau' condition, truly. I've already moved on from that stage. Exactly I gathered this thought from several conversation with friends which are currently in that kind of conditions. I'm  not starting my findings in a rush way, too. But reaching 22, getting my bachelor degree, and experiencing the  office makes me think about life over and over and over and over.

Have you read "The Glass Castle" pals? I suggested the book to my friends, because it gives a good example on how a family starts with choosing the right person. Red, the husband, the father, is the one who responsible on the harsh family life in the story. He's a charismatic man, which made her wife crazy in love. But unfortunately he has not any good quality for a husband, has several bad habits like drinking, only serve the family with empty hopes, giving strict rules and orders, hot-headed, and most of it: runaway from the responsibility. Someone said that "you can't really change a man, so choose carefully while you can."

The MOM, in this story, is also responsible because she is weak, can not say 'no' to the husband, self-pity, and again... weak. How can you lead and educate the whole family while you're weak? While reading this book I found a fact when parents can be loving and evil at once as you mix step-parents and biological parents as one.

After reading the book, I came to this:
 "Impure women are for impure men, and impure men for impure women. Good women are for good men, and good men are for good women; such are innocent of that which they say: For them is forgiveness and a bountiful provision." QS. An-Nur (24):26
 So, while thinking about choosing the right one, I think I should prepare my self to meets my own criteria of a partner. Hahaha, I think everybody knows that ordinary state. Here the more interesting part: my own criteria.
  1. Simply imagine, I want to arouse a good habit in my family: liven up maghrib prayer together with the whole family... everyday. Which means all the family members should be at home before sunset. Which also sets me apart from working too hard that leading to the lack of communication. While other family talk all the things that matters during dinner, I prefer to talk after shalat. I found it works in many wonderful family that I know.
  2. Comfortable to talk, and good communication. It's a glorious relationship when you can talk about everything, never avoid difficult conversations, and be honest to each other. Everybody wants that.
  3. Then, an ordinary one: tighten in one vision and mission. It doesn't need any explanation, does it?
Well, that's the main idea of my future family. Someone inspire me, and I just wanna say something to this particular friend of mine.

Girl, you deserve the best! Don't waste your time with that lad... Maybe I don't really understand how it feel when love becomes so irrational. But I know that you have your own dream of your future family, and --as you said-- he has no prospect in there. Your intention is pure, but light and guidance are His authority. I still advice you to let it go now. His plan sometimes unimaginable. While we try to understand it, we know that His plan is the best for us. Moreover, that's the sweetest way He made to make us closer to Him.

You know, Girl, by saying this I start to tremble..


7.8.12

If and When

there was a little grown up who said: "If, If I happen fallin in love with a man, I will fall completely."

then there is a young woman stands up and think:
when someone comes while your heart belongs to another
when there's laughter and jokes in waiting
when you realize that life is a mystery, and you know that you're not always know what the best
when you seems finding a solution but it comes with another problem

you unfortunately realize that
to fall completely
is not relevant anymore

dear sun, i know that you are fighting to be the best version of you.
that's what i do here. so we're not alone even now.

--Jamessonii--

2.8.12

Coffee Cup #17: Dari NOL

Seorang Ali bin Abi Thalib saja membaca satu surat berulang-ulang sebelum memahaminya betul, membaca buku berkali-kali sebelum menguasai, dan menghadiri majlis lagi dan lagi sebelum berkata, 'yeah, i got it'. Tentunya kalau saya ingin sehebat beliau, saya harus meneladani jalannya.

Saya suka belajar, sejak SD, TK malah. Saya ngga ragu untuk mengulang belajar arsitektur lagi dan lagi sebelum berpuas diri. Tak hanya arsitektur, tapi semua: belajar berhubungan dengan orang lain, belajar terorganisir, belajar bercanda yang pas, belajar mengapresiasi dan empati, serta belajar untuk menjadi kekasih terdekat di sisi-Nya.

Belajar, seperti dalam sebuah puisi cina, bukanlah persiapan untuk hidup. Kalau mau hidup ya harus belajar. Bukan begitu kawan? :)