21.2.12

"Investing ultimately begins and ends with taking control on yourself." - Kiyosaki

17.2.12

'Anyone can learn to draw, just as anyone can learn to speak or write. Drawing is a perfectly ordinary way of communicating information.'- Ian Simpson from 'Drawing, Seeing and Observation.', again.
Yes, it does. If i have any intention to be consistent!

15.2.12

Brownies Kukus

Cara terbaik makan brownies kukus adalah dengan membekukannya dalam freezer terlebih dahulu. Dijamin. Yum! :D

Coffee Cup #10: Bedtime Stories

Dongeng Sebelum Tidur adalah momen-momen yang menyenangkan. Saya masih ingat kisah-kisah yang dibacakan ibu saya sewaktu saya kecil, kebanyakan dari majalah Aku Anak Sholeh. Ada cerita Cici (kucing warna kuning) dan Koko (burung kakak tua putih berparuh merah), ada cerita Petualangan Bahari, ada cerita Annisa, Fahri, dan Bahri; ada cerita mimi, kisah Nabi Muhammad SAW (dibuat komik loooh, seru), ada cerita dinosaurus berwarna pink yang ramah (lupa siapa namanya), dan bahkan salah satu cerita yang paling diingat adalah cerpen berjudul Sepatu Merah Jambu. Jadi ingin langganan lagi... masih sama seperti dulu ngga yaa majalahnya...

Sedikit lebih besar, ketika SD dan SMP, saya membaca dongeng-dongeng sebelum tidur dari Mizan. Saya ingat sekali kisah tentang Layang-Layang Bulan, Kisah Setetes Air, Al-Fushilat, dan lain-lain. Terutama yang paling melekat adalah kisah Layang-Layang Bulan. Sampai sekarang saya masih bisa membayangkan toko layang-layang yang dipenuhi oleh layang-layang berbagai bentuk; mulai dari bentuk elang sampai yang paling sederhana layang-layang bertotol biru. Layang-layang bertotol biru inilah tokoh utamanya. Karena ia sederhana dan tidak terlalu mahal, atau karena takdir, jadilah Si Totol Biru ini layang-layang milik seorang anak laki-laki bernama Farhan.

Farhan adalah anak laki-laki dari keluarga sederhana, yang kala itu ragu dengan cita-citanya untuk menjadi Insinyur Penerbangan. Si Totol Biru yang naive, percaya bahwa semua mimpi itu mungkin jika kita berusaha. Ia pun mengemukakan mimpinya untuk terbang tinggi hingga ke bulan. Jika dipikir dengan logika, pertama: Farhan akan kehilangan layangan barunya jika ia membiarkan Si Totol Biru pergi ke bulan; kedua: Bumi memiliki lapisan Stratosfer, yang bahkan akan melelehkan meteor menjadi ukuran sangat kecil sebelum berhasil menembusnya, apalagi meloloskan sebuah layangan. Tentu saja saya sebagai anak kecil dahulu tidak mempertimbangkan lapisan Stratosfer, tapi bahkan saya pun dulu yakin bahwa bulan itu jauh sekali.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Farhan melepaskan Si Totol Biru ke angkasa. Ia melakukannya di malam hari, di saat sang Bulan nampak bersinar. Saat itu sedang purnama dan semuanya tampak sangat meyakinkan. Si Totol Biru naik, naik, naik, dan teruus naik hingga hanya terlihat sebagai titik. Farhan yang tak lagi bisa mengawasi si Totol Biru, memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan melakukan shalat tahajud (sweet ya).

Tak lama kemudian datang angin besar menerpa Si Totol Biru sehingga hampir-hampir ia tidak bisa naik lebih tinggi lagi. Ia berusaha dan terus berusaha. burung-burung yang ia lewati terkejut melihat Si Totol Biru, dan dengan skeptis menertawakan usaha Si Totol Biru menuju bulan. Tapi Si Totol Biru terus berusaha. Bagian paling sedih dari kisah ini adalah setelah sekian lama naik dan naik, sang Bulan tak kunjung mendekat.

Angin semakin membesar dan datanglah hujan badai. Tak bisa dihindari lagi, Si Totol Biru menjadi basah dan selayaknya kertas yang basah dan diterpa angin, ia menjadi sobek. Esok paginya Farhan menemukan kerangka dan sisa-sisa Si Totol Biru di depan rumahnya. Kau tahu apa yang dilakukannya? Ia memberi Si Totol Biru kertas pelapis yang baru dan melukiskan bulan purnama di atasnya. Kini ia menjadi si Layang-Layang Bulan. Ketika ia mengangkasa lagi, burung-burung, angin, dan semua layang-layang lain tahu bahwa ia telah mencapai Bulan jauh di lubuk hatinya sejak lama. Dan Farhan, setiap malam seusai shalat tahajud ia belajar untuk menggapai citanya. Kemudian di masa depan, ia pun menjadi seorang Insinyur Penerbangan yang hebat.

Kisah ini melekat begitu erat di dalam ingatan saya. Salah satu kisah yang mengajarkan tentang cita dan realitas. Dan lagi, mengajarkan saya untuk menghidupkan shalat malam... :)

Satu kisah lagi yang menarik perhatian saya sewaktu kecil adalah Heidi. Waktu itu, kisah Heidi diterbitkan dalam beberapa seri, sementara seri yang kami punya di rumah hanya ada satu. Satu buku itu menceritakan bagian ketika Heidi menemani Clara, bertemu dengan Grandmama-nya Clara, hingga ia mengalami berjalan dalam tidur (sleepwalking) saking rindunya dengan Grandmother yang buta di pegunungan alpen, yang menunggunya untuk pulang membawakan roti putih.

Bagian kisah itu sangat menyentuh. Di akhir membaca seri itu saya selalu mengharapkan Heidi bisa segera pulang ke Alpen dan bahagia. Baru belakangan ini saya berkesempatan membaca kisah aslinya dan tahu bahwa Heidi akhirnya bisa kembali ke Alpen, membawakan berlusin-lusin roti putih untuk neneknya, bahkan mendapat kujungan Clara. Dengan bantuan kakeknya, Heidi berhasil membantu Clara untuk berjalan lagi.

See? Bedtime stories is magic. Kini, adik-adik daya dengan senang tengah membaca The Magic of Ruby Valley bab 5 dan The Little Prince bab 7. Tentu saja saya, sebagai pecinta imajinasi, senang-senang saja membacakan dongeng sebelum tidur dengan lantang...
'Anyone can learn to draw, just as anyone can learn to speak or write. Drawing is a perfectly ordinary way of communicating information.'- Ian Simpson from 'Drawing, Seeing and Observation.'

11.2.12

IT - WILL - DO

Experts tell us that 90% of all brain development occurs by the age of five. If we don't begin thinking about education in the early years, our children are at risk of falling behind by the time they start Kindergarten.
Robert. L. Ehrlich


3.2.12

Coffee Cup #9: Bekerja

Hari ini saya mengerjakan laporan seharian. Setelah demam, muntah-muntah, dan diare reda, saya memutuskan pergi ke McD mencari suasana baru. Saya duduk dan menyesap Nestea, membuka laptop, lalu mulai bekerja. Rupanya seseorang yang duduk di samping saya adalah seorang 'Branch Manager', tepatnya branch manager mcd setempat. Tak lama kemudian datang dua rekannya dan mereka duduk di samping saya selama dua jam sambil rapat membicarakan profit margin dan costumer suggestion di samping salah seorang costumernya (saya). haha. Pilihan tempat yang kurang bijaksana saya rasa.

Beberapa jam kemudian, tempat mereka digantikan oleh segerombolan mahasiswa kelas internasional yang berbicara dengan bahasa tiongkok dan english selama 2 jam. Kemudian saya sadar, saya telah bekerja sanagt-sangat lama di McD ini dan laporan saya masih belum juga selesai! Rasanya ingin segera bebas dari urusan lapor-melapor ini dan mulai mengerjakan penelitian!

Coffee Cup #8: Mother, My Language is..

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa saya tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali. Aslan. Padahal ayah berasal dari Jogja dan sepupu-sepupu saya dari pihak ayah hampir semua bisa berbahasa Jawa. Kini saya mengalami kemajuan dengan mengetahui kata "Boten". Ha.

Sudah jadi pengetahuan umum pula bahwa bahasa sunda saya sangat mengenaskan. Sedikit bicara, maka orang langsung menebak: "Sanes asli Sunda nya, Teh?" Pasalnya kosakata bahasa 'lemes' saya sangat terbatas.

Saya ingin menguasai dua bahasa itu minimal, untuk mengenal siapa diri saya dan di mana saya tinggal. Banyak literatur sunda yang telah menarik perhatian saya semenjak lama. Yang terpaksa saya tinggalkan karena tingkatan basa sunda-nya terlalu advance.

Meskipun demikian, saya bersyukur masih diizinkan memahami bahasa indonesia dan inggris.
Dengan mengerti bahasa Indonesia, saya bisa bersekolah hingga ke ITB. Dengan menguasai bahasa inggris saya bisa membaca buku-buku wordsworth classics dan buku-buku literatur. kini, kunci dunia yang manakah yang ingin kubeli? bahasa mana yang ingin saya pelajari?

Bahasa Jepang
"Konichiwa! Watashi wa Nadiya desu." adalah kalimat terpanjang yang bisa saya ucapkan dengan benar. (ampas) Banyak orang belajar bahasa jepang karena ketertarikan pada anime dan manga. Tapi saya sudah melewati masa-masa membaca komik sewaktu SMP dan kini tidak lagi menganggapnya worth it. akan berbeda ceritanya bila saya kemudian mendapat beasiswa s2 ke jepang.

Bahasa Arab.
Tentu saja bahasa Arab saya kini hanya terbatas pada "Maa haaza wan man dzaalika? Haaza miftahun wa dzaalika mudarrisun." Bahasa arab akan membuka cakrawala pada literatur Arab.Terutama memahami qur'an, hadist, dan manuskrip2 kuno. Saya penasaran mengapa bahasa ini dianggap sebagai bahasa terbaik pada zamannya.

Bahasa Jerman
Arsitektur Jerman sangat menarik, meski saya lebih tertarik pada Spanyol. Belajar di Jerman tampaknya merupakan prospek yang menarik pula. Banyak literatur arsitektur di perpustakaan yang ditulis dalam bahasa jerman dan dengan sangat menyesal saya tidak bisa memahaminya. Akankah aku belajar bahasa Jerman saja?

Satu demi satu, sobat... satu demi satu.

2.2.12

Coffee Cup #7: Eyang

Eyang Putri-ku dari pihak Ayah bernama Supiyati, sementara Eyang Kakung-ku bernama Sonosejati. Namun karena Eyang Kakung memiliki tujuh saudara yang sebagiannya masih hidup dan masih sering ditemui oleh kami-kami para cucu, maka kedua eyangku dipanggil dengan nama Eyang Sono (Nama dari 'Yang 'Kung).

Bisa dikatakan aku punya banyak pasangan eyang karenanya: Eyang Sri, Eyang Drajat, Eyang Pur, Eyang Burhan, dan lain-lain (termasuk sepupu-sepupu jauh yang sangat banyak sekali). Setelah aku tanya pada ayahku, rupanya nama kakek buyut-ku dari pihak Eyang Kakung bernama KH.Khasan dan kakek buyutku dari pihak Eyang Putri bernama Praptohartono.

Mama (panggilan untuk ayah dalam adat Cirebon, yang digunakan untuk menyebut kakekku dari pihak Ibu) bernama H.Djubaedi, dan Mimi (panggilan untuk nenek dari pihak Ibu) bernama Asfah. Ketika aku mencoba bertanya pada ibuku, ibu sendiri mengaku tidak tahu nama kakek-neneknya, sehingga aku tidak bisa menuliskan nama kakek buyut-ku dari pihak ibu. Tapi ibuku pernah berkata bahwa Mama adalah keturunan saudagar Arab-Cina. Hmm.. mungkin itu bisa menjelaskan kenapa kini kebanyakan anaknya (Pakde-Bude-Pakle-Bule-ku bahkan sepupu-sepupu-ku) berbakat menjadi pedagang juga.

Bisa disimpulkan bahwa ayah dan ibuku keturunan kyai, meskipun Eyang Putri-ku tidak mengenakan jilbab.

Dari ke-empat kakek nenek kandungku, sekarang hanya ada Eyang Putri. Eyang putri berusia 76 tahun (menurut Ibu) dan kini tubuhnya sudah lemah sekali. Eyang begitu mungil dan kurus, hanya bisa berbaring di tempat tidur dan di sebagian waktunya Eyang benar-benar tidur. Bahkan Eyang bisa tiba-tiba tertidur di tengah-tengah waktu makan atau minum, atau di tengah percakapan.

Aku sebelumnya sangat jarang bertemu Eyang karena kami lebih sering berkunjung ke Cirebon setiap lebaran. Malahan, dulu sewaktu Eyang bugar dan sehat, Eyang lebih sering berkunjung ke Bandung dan menetap di Bandung bersama Eyang Sri dan Eyang Burhan. Aku ingat Eyang dulu suka membawakan kami berkaleng-kaleng susu Dancow yang berhadiah gelas kristal, serta roti zaman dahulu yang bentuknya tidak serapi Sari Roti atau Holland Bakery. Kini Eyang dan Eyang Sri keduanya tinggal di Yogyakarta di dekat eyang-eyang yang lain.

Beberapa kali pasca Tugas Akhir ini aku pergi ke Yogyakarta bersama Ibu untuk menemani Eyang. Sejujurnya, aku ingin mendengar cerita Eyang semasa muda, atau kisah Eyang sewaktu kecil, yang aku yakin sangat menarik karena begitu berbeda dengan masa kini. Tetapi berbicara panjang lebar sepertinya terlalu melelahkan untuk Eyang. Ketika eyang berbicarapun kini bagaikan bisikan. Jadi aku hanya duduk saja di samping sementara Eyang menggenggam tanganku erat-erat. Rasanya sayang, dulu aku belum berhasil mengorek lebih banyak tentang cerita masa lalu Eyang.

Ibuku sangat telaten saat mengurus Eyang. Dibandingkan aku, Ibu lebih tau bagaimana menyuapi Eyang, mengganti pakaian, mengubah posisi tidur, dan lain sebagainya. Kadang-kadang aku berpikir aku lebih banyak melakukan kesalahan yang merepotkan daripada membantu, sehingga aku memilih duduk dan membaca.

Masa tua, kelak ayah ibuku akan tua juga. Jika umurku sampai aku pun akan tua juga. Aku mencoba membayangkan seperti apa aku kelak jika aku menjadi tua seperti Eyang. Apakah aku akan kuat dan ceria? Seperti seorang kakek berbaju hitam garis-garis khas jogja yang kami temui di kereta? Kalau boleh memilih aku ingin terus sehat saja. Agar bisa terus membawakan susu dan roti seperti yang dilakukan Eyang. Oh, Eyang.
"Akan datang suatu waktu pada umat ketika orang akan membaca Al Qur'an, tetapi tidak akan lebih jauh dari tenggorokan (tidak masuk ke dalam hati mereka)" (HR Bukhari).

Coffee Cup #6: Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim tiba-tiba berpandangan bahwa aku seorang yang terlalu fanatik terhadap agama? Memangnya, apa arti fanatik itu? Mengapa kata fanatik terdengar begitu buruk belakangan ini? Benarkah berbicara tentang Al-Qur'an itu fanantik dan fanantik itu buruk?

Jika aku berbicara tentang Al-Qur'an, akankah kawanku sesama muslim bersemangat untuk mendengarkan dan menjawab lalu berbagi pemahaman, ataukah aku akan diabaikan? Karena materi tentang Al-Qur'an dianggap tidak menarik dan bukan sesuatu yang penting untuk dibahas? Padahal kami sama-sama mengaku muslim dan tahu bahwa Al-Qur'an adalah dasar dari Al-Islam?

Kadang kala hidup terasa sangat sederhana. Kadang begitu rumit. Namun perlukah kebenaran dicari? Atau mungkin biar saja menikmati dunia tanpa dengan canda dan tawa belaka. Why so serious? Lima tahun telah berlalu sekejap mata. Bukankah baru kemarin aku belajar keras untuk ujian masuk universitas? Biar saja kah?

-----

Mungkin kalian, pembaca yang baik, akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba saya menulis beberapa paragraf di atas. Penyebabnya adalah sebuah bacaan ringan, super iseng, yang tiba-tiba saya ketik pada mesin pencari google, mengenai biografi Harun Yahya.

Ah, tapi mari kita kilas balik sebentar. Mengapa tiba-tiba saya tertarik pada biografi Harun Yahya?

Hari ini hari yang panjang bagi saya. Saya sejujurnya kehilangan pegangan karena setelah TA berlalu. Saya ingin mengerjakan banyak hal namun rasanya tak ada satupun yang selesai. Saya membutuhkan teladan, mentor, idola, contoh, preseden; maka saya mencari biografi tokoh-tokoh yang menurut saya berprospek untuk saya jadikan idola. Kriterianya, mereka harus merupakan orang yang masih hidup atau setidaknya mengalami hidup di zaman ini.

Saya, tentu saja, sangat mengagumi presiden Iran yang ramai diberitakan di media masa dewasa ini, Ahmadinejad, sebagai tokoh yang masih hidup yang layak untuk dijadikan idola. Namun saya tidak pernah bercita-cita menjadi presiden, sehingga meskipun telah membaca kisah hidupnya, sangat sulit bagi saya untuk menjadikannya preseden.

Kemudian saya teringat tentang Harun Yahya. Ngomong-ngomong, apakah Anda para pembaca tahu siapa Harun Yahya? Beliau adalah penulis (yang setahu saya masih hidup), yang menulis buku untuk membantah Teori Evolusi Darwin; sebuah teori yang berabad-abad memperkokoh paham Atheis-Marxis-Materialis.

Kisah hidup Harun Yahya ternyata luar biasa. Saya yang menikmati buku-buku dan film-film beliau semenjak SMP, baru kali ini tahu bahwa perjuangannya menulis buku-buku itu tidaklah semulus JK.Rowling menulis Harry Potter.

Ketika masih mahasiswa, ketika ia mulai menulis buku itu, ia di-black list oleh dosen-dosen berpaham Marxis, di kampusnya yang kala itu didominasi oleh kaum Marxis. Tempat dimana seorang muslim menyembunyikan keimanannya (padahal saya mengira Turki adalah salah satu negara bermayoritas penduduk muslim, seperti Indonesia). Ia seorang diri melakukan penelitian, membiayai penerbitan dan membagikan bukunya secara gratis dengan menjual harta warisan yang ia punya, serta mendiskusikan pandangannya dengan siapa saja yang ditemui. Ia bahkan berdebat dengan para dosen yang kala itu tengah gencarnya mengajarkan teori darwin. Banyak rekan yang saat itu setuju dengan pendapatnya, tapi tidak lantas mendukung apa yang dilakukannya. Mungkin, kalau peristiwa ini terjadi pada mahasiswa zaman sekarang kita akan berpikir: Untuk apa repot-repot? Yang penting IPK bagus dan dapat kerja bergaji 10 juta. Toh kuliah hanya sebentar.

Selama tiga tahun is seorang diri, hingga kemudian muncul pemuda-pemuda yang mendukungnya secara penuh.

Ia pernah dipenjara dengan tuduhan yang dibuat2. Seperti di buku Ayat-Ayat Cinta itu. Tapi, yang dilakukan Harun Yahya terhitung layak untuk sampai mendapat musuh sedemikian rupa, bukannya hanya karena kisah cinta dangkal dan cemburu buta dari salah satu pengagum wanita seperti Ayat-Ayat Cinta.

Harun Yahya pernah disiksa dalam rumah sakit jiwa. Percaya?
Adnan Oktar (nama asli Harun Yahya) mula-mula ditahan dan ditempatkan dalam sebuah penjara. Lalu, beliau dipindahkan ke rumah sakit jiwa Bakirköy dan ditempatkan di bawah pengawasan dengan alasan yang dibuat-buat, yakni bahwa secara mental beliau tidak sehat. Dalam rumah sakit tersebut beliau di tempatkan di ruang 14A, sebuah bagian khusus tempat tinggal pasien-pasien yang sangat berbahaya dan orang-orang yang kebal hukuman. Pembunuhan adalah kejadian biasa bagi para pasien sakit jiwa ini, sehingga Oktar diperkirakan akan menjadi korban dari salah seorang di antara mereka. Untuk beberapa lama kaki beliau dirantai ke sebuah tempat tidur dan beliau diperlakukan secara biadab. Secara paksa, beliau diberi obat yang mengganggu kesadarannya.
Secara keseluruhan beliau dipenjara dan disiksa di ruamh sakit jiwa selam 19 bulan, yang saya yakin akan saya rasakan sebagai waktu yang sangat, sangat lama. Kemudian Harun Yahya dibebaskan oleh pengadilan karena pernyataannya diangga tidak bersifat ofensif. Dua tahun setelah itu beliau mendirikan lembaga riset sains untuk mendukung usaha penulisan buku-bukunya, dengan tujuan membuka wajah sebenarnya dari Teori Evolusi.

Harun Yahya juga pernah mengalami tuduhan serius dengan ditemukannya kokain dalam penggerebekan rumahnya di Istanbul. Beliau ditahan selama 62 jam dan harus melakukan tes darah. Tes darah yang dilakukan pun menunjukkan adanya kadar kokain yang sangat tinggi dalam darah beliau! Namun pengadilan dan penelitian ilmiah membongkar hasil tes darah yang palsu itu. Bahwa jika terdapat kadar kokain dalam darah sebanyak itu setelah 62jam mengkonsumsi kokain, maka jumlah kokain yang dikonsumsi pasti akan membawa pada kematian. Sementara beliau masih hidup.

Tentu saja, segala macam makar yang dialami Harun Yahya, terlepas dari mana datangnya (dunia begitu rumit dan penuh kebohongan, seperti yang kita tahu, sulit mecari siapa dibalik apa, apalagi di Indonesia kita tercinta), malah membuat jumlah pendukungnya bertambah banyak. Pandangannya mulai didengar dan diterima oleh masyarakat luas. Kini buku-buku itu tersebar di seluruh dunia.

Buku-bukunya, selain membantah Teori Evolusi, juga membahas topik-topik Freemason, Yahudi, dan lain-lain. Tapi yang paling menggugah saya secara pribadi adalah buku-buku beliau yang mengungkap kebenaran al-Qur'an secara ilmiah. Saya ingin kita memahami Qur'an. Saya ingin aku, kamu, kita, yang mengaku Islam, berbicara mengenai Al-Qur'an. Minimal untuk membawa diri sendiri kepada kebenaran. Jika kemudian jalan yang dihadapi begitu sulit, seperti Harun Yahya, maka kita tak ragu lagi tengah melakukan sesuatu yang benar.
Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-harun-yahya.html