22.3.12

“A man is success if he gets up in the morning and gets to bed at night, and in between he does what he wants to do.” - Bob Dylan

Coffee Cup #11: Belajar

Semalam saya iseng-iseng bacain pertanyaan untuk Layyina karena besok masih minggu UTS. Kali ini pelajaran Bahasa Inggris, Sains, dan IPS. Sebenarnya, ketika membacakan pertanyaan untuk Layyina, saya sendiri yang banyak belajar. Misalnya semalam, saya baru menyadari kalau anak SD seperti adik saya diajari tentang semangat bekerja. Ada satu bab khusus tentang itu, yang seingat saya tidak pernah lagi disebutkan pada pelajaran IPS di tingkat SMP maupun SMA.

Salah satunya tentang disiplin. Dengan sederhana, buku panduan IPS Layyina mengatakan bahwa disiplin berarti mampu mengendalikan diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ketika kamu disiplin untuk belajar setiap malam, maka kamu akan selalu belajar setiap malam. Lalu disiplin itu ada dua, disiplin yang berasal dari dalam dan disiplin dari luar. Alangkah lebih baik bila disiplin itu datang dari dalam diri. Sebab dengan demikian artinya kamu tidak perlu disuruh atau dipaksa melakukan sesuatu untuk berdisiplin. Dengan demikian, tandanya kamu sudah dewasa.

Kemudian, pikiran saya melayang pada hal lain terlepas dari soal IPS untuk Layyina. Saya ingat pelajaran dari salah seorang mentor saya, bahwa di balik disiplin ada sesuatu yang bernama motif. Ketika seseorang telah mampu mengendalikan diri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tentu ada alasan mengapa ia berbuat dan tidak berbuat. Mengapa kamu belajar bahasa Jerman? Mengapa kamu perlu memperbaiki bacaan qur'an? Mengapa kamu harus bangun setiap pagi pukul 04.00 dan lari pagi pukul 06.00? Semua ada motifnya. Dan uniknya di dunia ini, suatu pekerjaan bernilai berdasarkan motifnya.

"Innamal a'malu binniyyat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Segala perbuatan amal itu tergantung pada niatnya. Jika kita ingin pujian, dunia, dan harta, sebatas itu sajalah yang akan kita dapat. Namun semua upaya keras kita tidak akan bernilai di sisiNya. Alangkah sedihnya ketika lupa meluruskan niat. Hidup di dunia ini melelahkan bukan? Bill Gates yang sedemikian beruntungnya saja (yang bisa menyumbangkan 2 miliar dolar untuk kemanusiaan) dalam kuliahnya sering berkata bahwa hidup itu tidak adil. Lantas, setelah melalui hari-hari yang berat dan berusaha keras, dan esok hari masih harus menjalani kehidupan, namun lupa meluruskan niat? Sungguh merugi.

Mungkin tulisan ini menjadi semacam renungan pagi. Bagi saya, menjadi pengingat untuk kembali menilik apa-apa yang saya lakukan dan ingin saya lakukan. Benarkah dua puluh empat jam setiap harinya telah saya lalui dengan niat yang benar? Benarkah rencana-rencana saya, mimpi-mimpi saya, juga diniatkan dengan niat yang benar?