14.4.15

Coffee Cup #47: Tentang Berbagi Ilmu (di negeri orang)

Kamu-kamu pastinya menyadari bahwa setiap negara memiliki banyak rahasia. Rahasia-rahasia ini bisa berarti hal yang sangat berharga dan sangat bermanfaat yang tak ingin mereka bagi, atau bisa jadi sesuatu yang buruk yang mereka lakukan pada negara-negara lain. Ini realita. Sebagai seseorang yang mendulang ilmu di negeri orang, kita tidak bisa menutup mata terhadap persaingan antar negara dan bangsa di seluruh dunia. Sekalipun kita mencoba ber-husnudzon dan bersyukur atas kesempatan belajar lebih banyak ini, tidak mudah menghapus kecurigaan bahwa yang dapat kita gali belum seluruhnya. Not even close. Bahkan seringkali curiga siapa kah yang diuntungkan jika kita meneliti sesuatu?

Kita diperintahkan untuk menjadi seorang Ulil Albab, yang mengupas ilmu selapis demi selapis hingga ke intinya. Wajar, dengan begitu pesatnya ilmu pengetahuan, waktu kita terasa tak cukup untuk menggali ilmu. Tahukah kamu bahwa dalam hal belajar juga diperlukan tawakal? Tanpa karunia-Nya, kita bisa jadi mempelajari hal yang salah. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari sesuatu yang sia-sia, atau malah mempelajari sesuatu yang merugikan diri kita sendiri. Itu pula mengapa dalam doa sebelum belajar kita meminta agar yang kita pelajari ini menjadi sesuatu yang bermanfaat, untuk kita, keluarga kita, untuk segenap umat manusia, dan bukannya menjadi sesuatu yang merugikan. Ingatkah kisah tentang Einstein dan Bom Hirosima-Nagasaki? Semoga kita terhindar dari tanggung jawab semacam itu.

Bekerja keras itu penting, namun doa dan tawakal paling utama. Bismillahi tawakaltu 'alallahi laa haula wa laa quwata illa billah..