22.4.14

Yang Gratis-Gratis di Brisbane

Sebagai petualang yang cerdas alias backpacker super irit, tentunya barang ‘gratis’ harus jadi yang nomor satu untuk diketahui. Anywhere. Apalagi di Australia sini, di mana semua barang harganya ekstra mahal ngga masuk akal.

“Several years ago everything was cheap, and then it raised rapidly and here we are.” – Darell / Safety Bus Driver

Here is the list of free entertainment in Brisbane:

1. City Loop Bus
Naik City Loop Bus adalah kesempatan untuk melihat-lihat kota Brisbane tanpa mengeluarkan dolar. Total durasi sekitar dua jam. Rute yang dilewati bis ini dapat dilihat disini.

2. Queensland Museum
Hampir seluruh isi bangunan museum ini gratis, kecuali pameran-pameran khusus di lantai 3 dan science center di lantai dasar. Banyak hal yag bisa dilihat: pengenalan mengenai queensland mulai dari sejarah, flora-fauna, sumber daya alam, hingga gaya hidup queenslander dan gympie; kehidupan bawah air; kehidupan zaman purba; segala jenis hewan dan tumbuhan Australia; kebudayaan aborigin, dan lain-lain.

3. Queensland Gallery of Modern Art
Selain pameran-pameran terkenal yang sering kali ‘mampir’ ke GOMA, ada juga ‘free cinema’ yang selalu tersedia setiap minggu. Film-film ini diputar Antara hari Senin, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu dengan tema-tema yang menarik. Bagi pecinta film dan literature, atau yang sekedar ingin melemaskan kaki setelah seharian menjelajah Brisbane, bisa mengecek jadwal film di sini dan datang 30 menit sebelum film di mulai.
Terkadang disediakan juga aktivitas gratis seperti sketsa dan jasa pengiriman kartu pos gratis yang merupakan bagian dari pameran di GOMA. Pameran yang tersebar di seluruh bangunan ini juga gratis. Setiap bulannya sering kali ada barang-barang baru yang menarik untuk dieksplor.

4. Queensland State Library
Tempat belajar, kerja, atau nongkrong yang super asik. Termasuk presentasi tugas kuliah. Tapi FYI, internetnya kurang memadai untuk tugas. Internet eduroam yang paling canggih yang saya dapat di Brisbane sejauh ini.

5.Brisbane Museum (City Hall) dan Clock Tower
Bangunan yang dulunya adalah City Hall ini kini di alih-fungsikan menjadi museum. Di setiap lantainya bisa tersedia dua hingga tiga pameran dan kebanyakan tidak berbayar. Nikmati pameran-pameran yang mencerdaskan dan menginspirasi di sini. Jangan lupa mengunjungi Clock Tower yang terkenal. Gratis biaya masuk kok. 

6. Queensland Maritime Museum
Sesuai namanya museum ini menggambarkan sejarah dunia maritim Queensland dan Australia. Yang bisa dilakukan di sini tentunya foto-foto dan menambah wawasan. Lokasinya di ujung Selatan Southbank Parkland.

7. Southbank Parkland and “The Beach”
Southbank Parkland adalah tempat asyik buat leyeh-leyeh melarikan diri dari tugas kuliah, sembari menikmati pemandangan sungai dan skyline Brisbane CBD. Banyak artis jalanan dan pertunjukan gratis yang bisa dinikmati di sini. Dan tempat ini juga sangat sering menjadi venue berbagai event penting: “Brisbane Welcoming”, “Royal Walk Prince William – Kate Middleton”, “Budha Birthday Festival”, dan yang paling eye-catching “Brisbane Riverfire” pada bulan September. Tahun ini tepatnya akan diselenggarakan tanggal 27 September 2014.
Plus, di southbank ini masih ada ‘The Beach’ alias kolam renang buatan yang gratis untuk umum, meja-meja untuk tenis meja, volley net, dan grill barbeque gratis.

8. Mt. Coot-tha Botanical Garden dan Sir Thomas Planetarium
Botanical garden-nya luas dan cantik... terutama di musim semi. Kedua tempat ini berdekatan dan gratis. Planetarium mungkin menarik bila kita ikut nonton layar kubah di sana. Hanya saja untuk yang satu ini perlu merogoh tiket sekitar $15-$30. 

9. Roma Parkland
Yang pasti bisa foto, piknik, olah raga, barbeque, dan relaxasi. Paling bagus untuk dikunjungi di musim semi. 

10. University of Queensland (UQ)
Di sini siapapun bisa menikmati bangunan UQ yang menarik, UQ Lake dengan hewan-hewannya yang 'jinak', UQ Art Museum, Archaeology Museum, serta seminar dan event gratis. Khusus di saat UQ Open House, museum Zoology dibuka untuk umum. Isinya lebih menarik daripada yang ada di Queensland Museum.

11. Queensland University of Technology (QUT)
Seperti UQ, QUT juga tersebar di beberapa kampus. Salah satunya terletak di Brisbane CBD, dekat dengan Queenstreet Mall dan City Botanical Garden. Salah satu bangunan yang terkenal di QUT, The Cube, memiliki aquarium digital raksasa yang edukatif dan menyenangkan. Selain itu bangunan ini juga memiliki ruang-ruang belajar yang unik, dengan interior berbeda-beda. Kita bisa memilih untuk belajar di ruangan modern atau kuno, meja tinggi atau meja rendah, sofa atau meja makan. Menarik.

Demikian, siapapun yang kebetulan mau mampir Brisbane. Semoga bermanfaat!

21.4.14

TERas #6: Memahami Parametric Design

Berbagi Catatan dari Segelintir Bacaan
 

Istilah parametric design seringkali dikaitkan dengan digital fabrication. Hal ini bisa jadi disebabkan karena ‘constructability’ bangunan dengan pendekatan parametric baru tercapai pasca berkembangnya berbagai software pendukung untuk ‘menggambar’ (mulai dari microstation, maya, hingga rhinoceros dan grasshopper) serta hardware pendukung untuk ‘membangun’ (computer aided design (CAD) software yang terintegrasi dengan CNC Router ataupun 3D printer). Dapat juga disebabkan karena parametric design sering kali secara otomatis diasosiasikan dengan architextile (yang juga otomatis dikaitkan dengan fabrication). Terlepas dari itu, apakah parametric design hanyalah sekedar proses yang muncul dari terbukanya peluang akibat perkembangan ‘alat’ yang tersedia?

Parametric Design


Dalam parametric design, suatu bentuk tidak didefinisikan terlebih dahulu, melainkan digolongkan dalam template tertentu dan dikontrol berdasarkan parameter-parameter penentu. Oleh karena itu suatu desain yang baru (dalam parametric design) dapat dihasilkan dari sebuah template dasar ‘hanya’ dengan memasukkan angka-angka parameter yang sesuai dengan data proyek tersebut. (Ugail, 2011)

Contoh yang dapat merepresentasikan proses ini adalah Embriological House oleh Greg Lynn di tahun 1999. Embriological House adalah serial rancangan rumah yang di-generate dengan memasukan parameter-parameter penentu seperti jumlah penghuni, iklim, kondisi tapak, metode konstruksi, material, kebutuhan ruang, fungsi yang dibutuhkan, efek estetis khusus, dan gaya hidup pengguna. (Lynn, 2000) Setiap rumah yang di-generate dengan parametric design ini kemudian menjadi unik dan berbeda satu sama lain, walaupun tetap memiliki karakter yang serupa (signature). Bisa dikatakan rumah-rumah tersebut serupa tapi tak sama. Yang penting dari Embriological House bukanlah bentuknya yang secara individual tampak organik dan tidak biasa, namun bahwa proyek ini bersifat ‘serial’. (M Rocker, 2006) Proyek ini menekankan bahwa melalui pendekatan parametrik, variasi produk akhir dapat di-generate melalui perhitungan kalkulus dengan adanya template dasar dan parameter penentunya.

Parametric dan Proses Digital


Katakanlah bahwa pengertian parametric design adalah proses pencarian bentuk yang didasarkan pada beberapa parameter. Definisi sederhana tersebut tentu saja akan dapat dipertanyakan, sebab proses desain yang dilakukan arsitek selama ini juga didasarkan pada parameter-parameter tertentu (misalnya iklim, kondisi tapak, dan sebagainya). Yang berbeda dari parametric design adalah proses pemodelan (pencarian bentuk) tersebut dilakukan secara digital dan tidak manual. Ada satu karakter khusus dari pemodelan digital yang tidak dapat tercapai oleh pemodelan manual, yaitu sifat topological (Lynn, 1999).

Sifat topological ini dijelaskan oleh Lynn melalui gambar berikut:
Topological Curvature (Bawah), Lynn, 1999

Kurva yang bersifat topological adalah kurva yang didefinisikan oleh persamaan diferensial dan pernyataan matematis. (Lynn, 1999) Oleh karena itu, bentuk kurva tersebut akan berupa ‘deformasi’ yang terbentuk oleh berbagai tarikan dan dorongan (Lynn menjelaskannya dalam bentuk U dan V); serta tidak dapat didefinisikan oleh rangkaian jari-jari seperti halnya pada garis kurva gothic.
Karena karakter topological inilah maka parametric design sangat erat kaitannya dengan digital modelling. Terkait hal ini, selanjutnya akan coba dibahas mengenai digital fabrication.

Klaim Terhadap Bentuk (Form) pasca Parametric Design.


Parametric design menghasilkan bentuk arsitektur yang berbeda dari bentuk-bentuk hasil proses geometris. Contoh-contoh klaim bentuk dalam desain arsitektur yang menggunakan parametric design adalah architextille (which is introduced and developed by Gottfried Semper, Frei Otto, and later by Lars Spuybroek), animated form (Greg Lynn), morphogenetic design (Frei Otto, Archim Menges), and ruled-surface geometries (Antonio Gaudi, although the term is not Gaudi’s). Form-finding yang dirintis oleh Frei Otto masih terus berkembang dan klaim terhadap bentuk masih terus bertambah. Tulisan ini akan ditambahkan di masa depan, seiring pembelajaran yang masih terus berlanjut. InsyaAllah.

Referensi:
Lynn, Greg. (1999). Animated Form. New York: Princeton Architectural Press.
Lynn, Greg. (2000). Embriological Housing. Architectural Design, 70(6), 26-35.
M Rocker, I. (2006). Calculus-based form: an interview with Greg Lynn. Architectural Design, 76(4), 88-95. doi: 10.1002/ad.298
Ugail, H. (2011). Parametric Design Partial Differential Equations for Geometric Design (pp. 61-69): Springer London.

18.4.14

Book Review: Le Corbusier - The Modulor (1951)

Le Modulor, atau The Modulor, adalah salah satu karya Le Corbusier yang paling mendunia. Dalam buku tersebut, Le Corbusier (1951) yang bernama asli Charles-Edouard Jeanneret ini mempertanyakan sistem metrik dan aplikasinya dalam desain. Sistem metrik yang ditetapkan di Perancis semenjak pasca Revolusi Perancis (sebagai bentuk pembaharuan dari penggunaan sistem foot-and-inch) dan kini menjadi Satuan International (SI) dalam pengukuran ini, menurutnya membawa kebingungan terhadap seni, arsitektur, dan ilmu mekanik (teknik mesin). Seperti halnya musik yang ‘terbatasi’ setelah pertama kali ditemukannya sistem penulisan not balok; arsitektur dan teknik mesin juga terbatasi untuk mencapai keharmonisan pasca penemuan sistem metrik. Sebab sistem metrik memiliki basis yang tidak jelas. "Siapakah yang menentukan bahwa satu meter itu sepanjang satu meter seperti saat ini?"

Le Corbusier menarik logika pernyataan dan pertanyaan tersebut kepada sejarah peradaban kuno; baik Yunani, Mesir, India, maupun Kasdim. Semua peradaban kuno tersebut menggunakan unit pengukuran yang didasarkan pada proporsi tubuh manusia. Misalnya kaki, depa, hasta, langkah, dan sebagainya. Hasil dari penggunaan tubuh manusia sebagai ‘alat’ pengukur ini adalah komposisi yang memiliki irama, yang keindahannya dapat ditangkap oleh mata manusia. 

Saat ini sistem foot and inch adalah sistem yang masih kuat hubungannya terhadap proporsi manusia. Namun kekurangannya, tidak seperti sistem metrik yang dapat dipecah menjadi desimeter, centimeter, dan millimeter; hirarki sistem foot-and-inch lebih sulit untuk diatur. Itulah sebabnya kemudian sistem metrik dikembangkan dan ditetapkan sebagai standar internasional. Biarpun demikian penemuan sistem metrik pun tetap membawa kepada kebingungan baru.

Le Corbusier membuktikan ketidak-efisienan sistem metrik dalam desain (yang ia sebut dengan ‘dislocation’ karena menerapkan sistem yang tidak berdasar dari manusia untuk membuat objek yang berfungsi menampung manusia), dengan melakukan pemetaan pengukuran terhadap tubuh manusia. Dapat jelas terlihat bahwa ukuran tubuh manusia muncul pada angka-angka yang tidak bulat dalam sistem metrik. Namun menariknya, Le Corbusier juga menemukan bahwa proporsi tubuh manusia merupakan golden ratio dan pembagian tubuh manusia dapat diurutkan dalam deret Fibonacci.

Ukuran tubuh manusia dalam The Modulor, digambar kembali dalam bahasa lain.
http://files.myopera.com/Pexu/albums/2625471/2.Le%20Modulor.jpg

Proporsi ini kemudian dikembangkan dan diaplikasikan menjadi “ the Modulor”, sebuah sistem pengulangan panel-panel harmonis (yang juga terinspirasi dari tatami Jepang) berdasarkan rasio tubuh manusia dengan variasi tidak terbatas.

Panel Game dalam buku The Modulor
http://s3.amazonaws.com/data.tumblr.com/tumblr_kz4k7opRTY1qav3uso1_1280.jpg
Poin penting dari Modulor adalah ia mengkonversi sistem metrik kepada foot-and-inch secara otomatis. Dapat diperhatikan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Konversi metrik ke foot-and-inch dalam The Modulor. (Le Corbusier: 1951, p.57)
Exact Value in metres
Practical Value
Exact Value in Inches
Practical Value
101.9 mm
102 mm
4.012’’
4’’
126.02
126
4.960
5
164.9
165
6.492
6.5
203.8
204
8.024
8
266.8
267
10.504
10.5
329.8
330
12.980
13
431.7
432
16.997
17
533.9
534
21.008
21
698.5
699
27.502
27.5
863.4
863
33.994
34
Dan seterusnya

Dan seterusnya



Dapat disimpulkan bahwa Le Corbusier telah mencoba untuk menjawab pertanyaan mengenai ketidak proporsional-an sistem metrik dengan memperkenalkan konsep The Modulor. Sistem Modulor ini menjadi sebuah tool yang menjembatani sistem metrik dan sistem foot-and-inch, sehingga kembali dapat ditarik hubungan antara sistem metrik dan proporsi tubuh manusia. Dengan The Modulor, keindahan kembali tersusun oleh irama dan proporsi harmonis seperti halnya pada peradaban-peradaban kuno.

BNE,
18 April 2014

14.4.14

Brisbane 1, 2, 3, 4, 5

A friend asked me to write things about my student life in Brisbane. It’s pretty awesome after all. Let me check several things and tell you about it.

First, my first impression of Brisbane. Surprisingly, life pace in Brisbane is very very slow. It’s so quiet here. Brisbane may be larger than Bandung, but the number of population is just 2.5 million people. I cannot imagine why they built all the expensive infrastructure if only to accommodate few people. It’s a waste of resource.

Well, when the day is so quiet, the night is frightening. I rarely see other people after sunset. Just one or two when I walked in the neighborhood back in Mount Gravatt. Shops open at 10am and close at 5pm. Some supermarket open from 8am but never earlier, and most of it always close before 6pm. There is Chai's Supermarket in St.Lucia; also Coles and K-Mart in Toowong Village which open until 9am on weekday. And that's it. Forget 24 hours Alfamart, forget 24hours McD, KFC, and Dunkin. Forget 1am Madtari, or 5pm Bebek Boromeus. When you forget to buy your dinner at 5pm, you better check your fridge. If you forget to stock anything last weekend, you better "fasting" for the rest of the night :’(
Brisbane Museum

Second, my first time in Uni. University of Queensland is a little city of Brisbane. It’s a resource of city income (imagine 12,000 international students every year with hundred million rupiahs budget each). There are plenty of international student here. Nevertheless, I’m the first and the only one student from Indonesia who choose to study at UQ. Everybody always asks: why UQ? So I always answer this question with: ‘because I want to have design studio and research elective at the same time’. And that’s what I have here.
Great Court at University of Queensland



As a pioneer Indonesian in Master of Architecture program, I’m different. Being different is frightening and exciting at the same time. Especially because I’m a muslim and wear Jilbab anywhere. Fortunately I met nice native people in my classes during the first weeks. They are open and friendly, most of them are really nice people to talk to. Alhamdulillah. But yes, of course, I came to UQ to study; prior to be a professional architect in the future. So what I need is also people to work together completing many group assignment here.

And Group Assignment,,, is what I call the real challenge.

Group assignment is a place when you have to discuss idea, resource, and problem; and then decide the best solution you may have and how to present it. It means a lot of talking. It means prepare your ears to listen and synchronize your mouth with your brain to deliver arguments. In this semester, I have two group assignments. Both of the group are very diverse. Both include native Australian, Europe Student, Asian, and me (the one with different culture and religion). One thing that sure is they talk very fast! Even to finish one complete meet up with them requires a lot of energy.

Group assignment has good advantages. True. It gives me opportunity to boost my English and learn social culture here. For example what to say with acquaintance and how to differentiate friends you met with introduction (outside classes) and peers. It also gives me understanding that what they have in their brain is not much different with mine. However, group assignment is also annoying because it takes a long time just to decide something. In term of equality, there’s no leadership in the group and it’s hard to maintain that everyone is happy with the decision. Common social issue, I guess, which normally happened when well-used minds have to work together. You will find funny and dynamic life during the group assignment. You may know by then which one is the parrot and who is the real worker.

Third, (which I’d like to highlight here) is Indonesian student in Brisbane. They are awesome! They are dedicated people who often stay whole night studying but they are fun too. Some Indonesian student who study abroad choose to socialize with other culture because they think they have to open their network and be more culturally open. Even some of them avoid too much interaction with “sesama” Indonesia. But what I found here is a bunch of cool people with determined goals in the future. And that goals are for Indonesia, or at least for their family back in Indonesia. For example finding a cure for malaria, neuroscience research, water management, biotechnology etcetera. This fact encourages me to do better and more focus on my own study. I don’t need to hang out with foreign student just to be cool or widen my personal network (except if it helps my goal for Indonesia). I want to deliver a real work. So, I really proud of you guys and it’s really nice to know all of you.

Fourth, about the food. Halal food is everywhere (but you have to dig and search carefully with your eyes). Later I will write a list of halal food in Brisbane and prayer spaces for muslim. Here I will tell you that food is an easy thing to manage (especially if you are a natural cook, while I’m not, but I'm fine). Funny thing is, vegetables and fruits are more expensive than meat. Grapes cheaper than bananas, even cheaper than cucumber. LOL. Olive oil costs not much different with vegetable oil. So I obviously choose olive oil and canola oil. We found tempe here. And there’s Chinese shop in Fortitude Valley called Yuen which sells many Indonesian food from Teh Sosro Kotak to Jahe Wangi, from Bumbu Inti Kokita and Kecap Bango to Agar-Agar Swallow Globe. I even found Tolak Angin. I will explain it later. InsyaAllah.

Fifth, free stuff. There’s plenty of it! Always check any expo and any campus event with sponsor, and you may get bags, water bottle, dolls, pens, popcorn, free drinks, snacks, cotton candy, saving box, free photo box, sunglasses, t-shirts, toys, hats, free ice-cream, etc. After nine times using the GoCard (digital ticket card for buses and trains in Brisbane), you will get free ride for the rest of the week. If you attend pengajian, you will also get free proper meal (it would be better if you share your plates too, though). There’s free cinema for festival movies in GOMA (Gallery of Modern Art) every Monday, Wednesday, Friday, Saturday, and Sunday. Also free postcard there. And sometimes you may get free tickets to some famous exhibition and recent movies. Just remember to get all this things.

Yay! Hasil tangkapan Market Day

Ok, It’s time to go back to do my assignment. I’ll be back. 

25.10.13

TEras #5: Fasad, Sebuah Catatan

Fasad masih merupakan elemen terpenting yang mampu menyuarakan fungsi dan makna suatu bangunan (Krier, 2001) Fasad berasal dari kata Latin 'facies' yang berarti 'wajah' atau 'penampilan'. Maka istilah 'fasad bangunan' dapat diartikan sebagai 'wajah bangunan', yang meliputi bagian-bagian bangunan yang menghadap ke jalan.

Fasad dapat terbentuk dan mewakili beberapa hal berikut:
1. Keadaan budaya saat bangunan dibangun.
2. Kriteria penatanan dan tatanan.
3. Peluang terhadap ornamen dan dekorasi.
4. Karakter penghuni.
5. Representasi identitas kolektif dari pengguna bangunan kepada publik.
6. Kemajuan teknologi dan pendekatan perancangan yang digunakan.

RUMAH TINGGAL
Dalam perancangan rumah tinggal, sentuhan karakter pada fasad amatlah penting. Penggunaan bahan kodian dengan bentuk dan ukuran yang populer akan mengurangi diferensiasi estetika pada fasad tersebut. Penggunaan bukaan sebanyak-banyaknya dengan rangka kayu ataupun alumunium, misalnya, menyebabkan desain rumah tersebut menjadi rapuh, terlalu transparan, dan pasaran. Fasad rumah tinggal seharusnya berkesan masif, tertutup, dan tersembunyi dari jalan. Sebab bagaimanapun rumah tinggal adalah bangunan yang bersifat privat.

Khusus di Indonesia, fasad yang masif untuk rumah tinggal menjadi lebih tepat karena beberapa alasan:
1. Konteks geografis yang berpengaruh apabila wajah bangunan menghadap timur, barat, ataupun utara (untuk jawa bali dan sejajarnya) dan selatan (untuk kalimantan sulawesi dan sejajarnya) menyebabkan perlunya perlindungan ekstra dari matahari.
2. Budaya yang membutuhkan privasi lebih dalam rumah tinggal, ditunjukan dengan penggunaan tirai pada semua jendela.
3. Keberadaan Ruang Tamu dan Teras yang khusus untuk penerima tamu, serta pagar. Menunjukan bahwa rumah adalah ruang yang sangat privat, yang jarang disentuh oleh orang luar.
4. Isu keamanan yang dipicu dari kondisi Indonesia di mana kesenjangan ekonomi dan sosial masih menjadi permasalahan utama.

Komposisi suatu fasad adalah materi yang penting untuk dikuasai oleh arsitek, sebab kemampuan mengolah komposisi adalah nilai tambah arsitek yang tidak mudah ditiru orang awam. Nilai desain suatu fasad, seperti halnya pada karya seni lainnya, bertitik berat pada komposisinya: apakah ia harmonis atau tidak. Sebelum masuk dalam persoalan komposisi, pertama-tama perlu dikenali terlebih dahulu elemen-elemen  apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan fasad rumah tinggal:
1. Pintu masuk utama.

2. Pintu tambahan / servis
3. Jendela beserta awning (bila ada).

4. Dinding Eksterior
5. Tangga masuk / Ramp
6. Teras dan balkon.

7. Parapet dan Railing
8. Atap
9. Pagar dan Gerbang

10. Vegetasi

Komposisi fasad yang baik, adalah ramuan dari proporsi, penyusunan struktur vertikal dan horizontal, bahan, warna, dan elemen dekoratif. Pemilihan warna dan material serta elemen dekoratif terkait erat dengan karakter, konsep bangunan, serta selera personal. Kesan yang ditimbulkan bisa sangat subjektif. Satu hal yang dapat dinilai secara objektif adalah proporsi. Terdapat beberapa teori dan rumus praktis yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas proporsi rancangan, diantaranya: Golden Section, geometri dasar, serta konsep keseimbangan simetri dan asimetri.

Tulisan mengenai proporsi dapat dibaca di sini: PROPORSI

Penyusunan struktur vertikal dan horizontal amat penting dalam komposisi fasad. Terkadang dalam fasad rumah tinggal struktur ini tidak terlalu terasa dibanding pada bangunan umum yang lebih lebar dan memiliki banyak lantai. Namun struktur vertikal dan horizontal tetap ada dan menjadi ukuran juga, misalnya, dalam menentukan bentuk dan besar jendela, pembagian lis jendela, jumlah daun pintu dan jendela, bentuk railing, penggunaan kolom, dan sebagainya. Struktur vertikal dan horizontal dapat juga menjadi alat untuk membentuk proporsi.




TEras #4: PROPORSI


 "…Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan…," (HR. Muslim)

Arsitek memiliki nilai tambah apabila ia mampu mengkombinasikan kemampuan teknik dengan seni. Bagaimanapun, bangunan yang dirancang seharusnya tak hanya kuat, kokoh, nyaman, dan berfungsi dengan baik; tapi juga indah.

Keindahan, konon, berkolerasi dengan proporsi. Arsitek dan seniman selama berabad-abad berkutat dengan proporsi untuk menciptakan komposisi yang indah. namun, sebagai insan yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk, bukan pencipta, arsitek harus sadar bahwa contoh-contoh proporsi yang sempurna terdapat dalam ciptaan-Nya.

Adakalanya manusia memang iseng dan merasa hal tersebut perlu dijelaskan dengan fakta terukur sebelum ia yakin sepenuhnya. Saya menemukan sebagian penjelasannya dalam buku "Komposisi Arsitektur" dari Prof. Bob Krier, “Le Modulor” dari Le Corbusier, dan video  "Arsitek-Arsitek di Alam" dari Harun Yahya.

Krier menjelaskan dengan Matematika.

Seorang guru di SMP saya dulu, Bu Elis, pernah berkata: "Elemen paling dasar dari matematika adalah titik. Konon seorang pemikir matematika berjalan melingkar di padang salju (atau gurun?) sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya secara berkala dan terbentuklah lingkaran. Ternyata, lingkaran terdiri dari banyak titik. Begitu pula garis, bidang, huruf, dan angka."

Tentu saja, titik itu sendiri bila diperbesar berbentuk lingkaran. Maka kuliah tentang proporsi dari Prof.Krier dimulai dari pemahaman tentang lingkaran. Persiapkan diri Anda kalau-kalau Anda merasa bosan. Semoga menjadi pemahaman menarik pada akhirnya.
#1: Lingkaran dibagi 3 sama besar. Sudut pusat masing-masing bagian sebesar 120˚ seperti terdapat pada gambar di atas. Artinya ketiga titik sudut kelilingnya dapat membentuk segitiga sama sisi bersudut 60˚. Bila dibuat sebuah persegi panjang yang memuat segi tiga tersebut, maka didapat persegi panjang dengan perbandingan P : L = 1 : 0.86 = 1.15 : 1.
#2: Lingkaran dibagi 4 sama besar. Sudut pusat masing-masing bagian 90˚ dan membentuk persegi di dalam lingkaran. Ambil salah satu segitiga dan satu juringnya, buat satu persegi panjang yang membungkus keduanya, maka didapat sebuah perbandingan P : L = 1,41 : 1 = 1 : 0,7.

#3:  Lingkaran dibagi 5 sama besar. Sudut pusat tiap juring 72˚ dan membentuk segi lima sama sisi dalam lingkaran. Sudut Kelilingnya 36˚, karena sudut keliling selalu 1/2 dari sudut pusat. Ambil satu segitiga dari sudut pusat, beserta segitiga dari sudut kelilingnya, kemudian bungkus dengan persegi panjang dan diperolehlah perbandingan P : L = 1,618 : 1 = 0,618 : 1. Ini adalah perbandingan yang dikenal dengan Golden Section.

#4: Lingkaran dibagi 10. Mirip dengan poin #3, namun didapat sebuah persegi panjang di dalam lingkaran dengan perbandingan P : L = 1,37 : 1. Apabila diambil segmentasi terkecil dari 10 segmen, maka diperoleh persegi panjang dengan P : L = 3,73 : 1.
#5: Lingkaran dibagi 6 sama besar. Sudut-sudut pusat setiap juringnya adalah 60˚. Di dalam lingkaran dapat dibentuk sebuah persegi panjang dengan perbandingan P : L = 1,732 : 1.

#6: Lingkaran dibagi 7 bagian. Sudut-sudut pusatnya 51,4˚. Perbandingan P : L dari persegi panjang yang terbentuk adalah 2,07 : 1.


Hasil pembagian lingkaran menjadi 3, 4, 5, 6, 8, dan 10 bagian menghasilkan varian persegi panjang dengan proporsi bebeda-beda. Berikut rangkumannya bila semua persegi panjang tersebut disuperimposisikan:

Dapat dilihat bahwa proporsi yang terbentuk dari hasil pembagian lingkaran tak hanya terbatas pada golden section. Prof. Krier memberikan beberapa contoh menarik untuk perbandingan proporsi tersebut di alam.

1. Aalisis Proporsi Kuda. Berdasarkan analisis Prof. Krier ternyata kuda memiliki proporsi golden section. Bisa diperhatikan pada gambar berikut.
2. Analisis Proporsi Struktur 5 Daun.  Ternyata proporsi daun ini sesuai dengan pembagian lingkaran menjadi 5 bagian. Yang menarik adalah percabangannya yang bukan berada di pusat lingkaran, melainkan di salah satu persilangan dari bentuk bintang.
3. Analisis Proporsi Daun Beech, Walnut, Oak. Ternyata ketiga daun ini memiliki proporsi yang sama dengan hasil pembagian lingkaran menjadi 3 dan 6 bagian. Proporsinya adalah 1 : 1,15 ; 1 : 1,7 ; dan 1 : 3.

Le Modulor

Le Corbusier (1887-1965), arsitek dan pemikir ternama dari Swiss, menjelaskan adanya proporsi yang sempurna dalam salah satu ciptaan-Nya yang sangat kita kenal: manusia.

Le Corbusier melakukan pengukuran pada tubuh manusia dan menemukan fakta yang menarik. Pusar, misalnya, rupanya membagi tubuh manusia dalam proporsi Golden Section. Jarak dari puncak kepala ke pusar dibagi dengan garis leher juga merupakan pembagian Golden Section. Begitu pula dengan ketiak. Proporsi telinga pun merupakan rangkaian Golden Section. terdapat keyentuan ukuran yang menarik lainnya. Misalnya kelipatan 7. Tinggi badan manusia umumnya tujuh kali panjang telapak kakinya. Begitu pun pada beberapa bagian tubuh lainnya. Bukankah memang manusia diciptakan dengan sebaik-baik rupa?


Apa itu Golden Section? Contoh sederhana dari Golden Section adalah bidang persegi panjang dengan proporsi 1 : 1,618. Mengapa ia disebut Golden, dapat dijelaskan dengan gambar berikut.

Persegi panjang dengan proporsi demikian,  apabila dikurangi oleh persegi seukuran lebarnya, akan menyisakan persegi panjang kecil yang juga golden section. Demikian seterusnya. Apabila lebar perseginya ditarik menjadi jari-jari lingkaran, maka busur lingkaran tersebut akan menerus membentuk spiral yang sempurna. Konon proporsi Golden Section telah digunakan oleh manusia jauh dalam peradaban-peradaban kuno. Contoh di alam benda-benda yang berproporsi Golden Section adalah keong laut, kuda (seperti dijelaskan Krier), dan manusia (seperti yang diteliti oleh Le Corbusier).





10.10.13

TEras #3: Permukaan (Surface)

Permukaan dari sebuah ruang dan bentuk (surface) adalah bagian yang menarik dalam perancangan arsitektur. Tekstur, warna, tampilan visual, dan efek pencahayaan dari suatu permukaan dapat menciptakan kesan tertentu dalam sebuah ruang.

Batuan, misalnya, akan dapat memberikan kesan dekat dengan alam, rustic, ataupun kesan berat. Kayu, bisa jadi memberikan kesan hangat dan ringan. Kayu yang gelap dan berlumut dapat memberikan kesan indah yang hanya dapat dibentuk oleh waktu. Sementara itu metal dapat memberikan kesan modern, industrious, ataupun kesan dingin. Kesan dari sebuah permukaan sangat erat kaitannya dengan pemilihan material.

Kesadaran akan pentingnya sebuah permukaan dalam rancangan arsitektur akan melahirkan rancangan yang lebih kaya. Apabila dikaitkan dengan konteks, konsep, dan sentuhan personal, rancangan permukaan akan membantu membentuk keseluruhan rancangan arsitektur yang otentik, bahkan unik.

Sebagai contoh, National Museum of Australia, Canberra (2011) dirancang dengan fasade bertekstur huruf-huruf braille. Unik, namun tidak hanya unik sebab ia juga mengandung pesan.

Bangunan-Bangunan di era Modern, yang dirancang ketika dinding bersih mulus dan material pre-fab menjadi populer serta bangunan bergaya minimalis sangat laku dipasaran, apabila dijadikan satu-satunya preseden oleh mahasiswa arsitektur bisa jadi justru 'menumpulkan' kesadaran akan  permukaan. Penggunaan material yang beragam menjadi sangat jarang. Dan umumnya material yang digunakan dalam beberapa proyek hanya yang itu-itu saja.

Sebaliknya bangunan-bangunan pra Modern, atau bangunan kuno, terlihat sangat 'dalam' pengolahan permukaannya. Langit-langit, lantai, dinding, dan permukaan eksterior dirancang satu per satu dan berbeda satu sama lain. Bahkan sebuah dinding bisa jadi dirancang dengan sangat rumit.

Tentu saja, dalam realita profesional, ada benda bernama 'anggaran' yang membatasi keragaman, keunikan, dan kerumitan rancangan sebuah permukaan. Namun, di era post-modern ini, arsitek perlu menyadari kembali pentingnya sebuah permukaan agar menghasilkan rancangan yang kaya dan otentik. Anggaran terbatas tidak menghalangi terwujudnya rancangan yang baik.

Alangkah lebih baik bila, mahasiswa belajar melatih diri dengan memberikan 'tugas tambahan' merancang permukaan pada diri sendiri. Di sekolah-sekolah Arsitektur di negara-negara Eropa, di mana pendidikan arsitekturnya masih bertumpu pada arsitektur eropa modern sebelum revolusi industri, mahasiswa diberi tugas khusus merancang permukaan baik dalam tema Renaissance, Gothic, Rococco, maupun dalam tema Modern. Demikian pula dengan merancang pintu, merancang jendela, merancang kolom, dan sebagainya. Bagi kita yang tidak sempat mendapat tugas semacam itu, ada baiknya menambah tugas tersebut untuk memperkaya diri sendiri.

Di sana lah, dalam perancangan permukaan, terbuka kesempatan memberikan sentuhan personal sebanyak-banyaknya.

24.8.13

Laporan Perjalanan Kampung Naga dan Candi Cangkuang

Baiklah, sebelum lupa, sebaiknya saya segera memulai laporan perjalanan kampung naga 
saya bersama Luke dan Sora kemarin... 

05.00 = tertinggal bus pertama, jadi sarapan di McD dulu sementara Luke minjem kamera 
Sherly

06.00 = sampai di cicaheum, terburu-buru naik minibus tujuan singaparna via-garut. 
ngobrol sebentar, lalu tidur dengan terlalu nyenyak.

angkot simpang-caheum = 2500
tiket minibus sampai kampung naga = 25.000

07.30 = merasa segar bugar, dan sampai juga di garut.. Ah, garut begitu dekaaat...

08.00 = ngetem di terminal garut. rasanya seabad. pusiiiing... untung ada vitacimin *iklan

haha, o ya jadi ingat kisah supir dan penjual jeruk. Begini, penjual jeruk berkali-kali 
menawarkan jeruknya pada kita bertiga, sampai kita bosan. tertu saja semakin 
mendekati waktu mobil berangkat, harga jeruk semakin murah. ketika pak sopir (yang 
tepat di depan aku dan Luke) rupanya selesai sarapan dan naik ke bus, lalu menyalakan 
mesin, si tukang jeruk otomatis menurunkan harga hingga 10k. namun sial, si sopir turun 
lagi dan lucunya, si tukang jeruk langsung menaikan harga jeruknya ke 15k. haha. orang 
kan udah terlanjur tau kalau harganya 10k.

09.30 = gapura kampung naga muncul di sisi kiri jalan. Sampai di kampung naga, kami 
disambut dengan ucapan selamat datang dan penjelasan dari pemandu. lalu ke toilet.trus sarapan dan 
check kamera.

pinjem toilet = 2000/orang

10.00 = selesai sarapan, sesuai arahan pemandu, turun tangga (ada 300 anak tangga men!), mencoba menemui Pak 
Hen Hen, wakil kuncen kampung naga, untuk minta izin foto2.. tapi malah disambut oleh 
pak jason alias pak risman alias pak nana, selaku RT setempat, yang disuruh pak hen hen 
mewakili beliau.

11.00 = selesai ngobrol-ngobrol di rumah pak hen hen, bersama pak risman, yang 
akhirnya kelepasan memberitahu kami nama aslinya, kami berkunjung ke rumah pak 
risman, minum sambil foto2 interior...

11.30 = kami ngga diizinkan banyak foto2. menurut kami, berdasarkan cerita pak risman 
dan pertemuan dengan beberapa orang di sana, warga kampung naga termasuk kelompok 
yang terlalu berhati-hati. 

hati-hati terhadap pengaruh luar, hati-hati terhadap perubahan, hati-hati terhadap 
pendatang, dan lalu yang paling menarik, hati-hati terhadap mahasiswa.

begini kawan, kami diceritakan oleh pak risman, september 2008 pernah ada seseorang 
bernama Willy W, yang datang ke kampung naga sebagai alumni sebuah kampus di jakarta 
dan hendak menulis novel dengan latar belakang kampung naga. Si Willy W ini berencana 
tinggal selama 7 hari di kampung naga. namun, baru juga 3 hari berjalan, tiba2 si Willy W 
ini menghilang membawa motor salah seorang pemandu dengan alasan akan ke 
kecamatan. 

salah satunya memang gara-gara Willy W ini, kampung naga ini jadi berhati-hati kalau ada 
pendatang yang tak jelas asal usulnya. kalau ada yang mahasiswa datang untuk penelitian, 
harus bawa surat pengantar. kalau bukan mahasiswa pun harus jelas dia siapa. jadi 
bawalah tanda pengenal kalian yaaa ^^ dan gunakan pemandu demi kelancaran liburan 
kalian. kampung naga tak seramah dulu lagi. (walau kami tetap dapat undangan untuk 
berkunjung lagi ke rimah pak risman, sekedar makan bareng atau ngobrol2. pak risman 
termasuk yang paling ramah dan baaaikkk. kalau kalian datang ke sana baiknya bertemu 
pak risman jugaa^^)

selain cerita Willy W yang ngga enak didengar ini, ternyata kampung naga juga pernah 
menutup diri dari semua bentuk kunjungan. gara2nya ada kebijakan mengganti 
penggunaan BBM untuk masak dengan gas LPJ, sehingga minyak tanah jadi mahal dan 
sulit dicari... humm, alasan yang sedikit egois sih, tapi memang kampung naga sudah 
banyak berkorban demi mempertahankan tradisi leluhur.

- mengapa tidak pakai listrik? karena bahaya kebakaran, juga demi alasan keseragaman. 
begitu listrik masuk, yang kaya bisa membeli kulkas, laptop, mesin cuci, dsb. 

- mengapa bisa ada TV kalo ngga pake listrik? yah,, dinyalakan dengan accu. tahan berapa lama? 2 minggu

- bapak punya HP? nge-charge nya gimana? 'punya dong... walaupun pulsanya tinggal 1000', katanya sambil bercanda. kalau mau ngechagre ya naik ke atas (yang berarti melalui 300 anak tangga itu. capek loh. pantesan orang kampung naga langsing2 )

- pendidikan? ada SD di dekat situ.. ada dua SMP yang bisa diraih dengan naik angkot. anak tertua pak risman, Doni, sekarang nge-kos di.. duh lupa, untuk sekolah di SMK jurusan elektro. katanya dia ingin ngelanjutin kuliah di ITB seandainya dapat beasiswa. doakan yaaa :)

- kerja? jangan salah... ada juga yang kerja di jepang dengan gaji 15 juta per bulan...

hum.. akhirnya, kami menaiki 300 anak tangga itu lagi ke atas... rencananya mau bertemu 
pak kuncennya langsung, tapi karena beliau ngga ada jadi cuma 'ngobrol' sama pemandu.. 
Mang Ndut dan Mang Ucu.

yah.. kalau semua diceritakan, bisa jadi cerpen 10 halaman. hahaha

12.30 = undur diri untuk pergi ke tempat lain, lalu mampir ke masjid untuk istirahat dan 
mendinginkan diri. fuuuh... panasss..

13.00 = naik elf ke garut... lirik2 alun-alun dan mesjid agungnya... ke toilet lagi. lalu ganti angkot ke leles. di angkot ini kita bertemu ibu-ibu yang rupanya keturunan langsung penduduk desa adat cangkuang. 

berbeda dengan kampung naga yang mempertahankan jalur keturunan patrilineal, kampung adat cangkuang ini mempertahankan jalur keturunan matrilineal. kebetulan ibu-ibu cantik yang ketemu di angkot ini keturunan sono dari jalur kakek. jadilah keluarganya ngga tinggal di desa cangkuang lagi... hm...sepertinya pekerjaannya guru. luar biasa cerdas soalnya.

o ya. beliau cerita juga iklan dan film apa aja yang pernah syuting di sono.. hehehehe... djarum, rcti, dll.... promosi kampung halaman rupanya. :)

ongkos elf ke garut 7000/org
toilet 1000
angkot leles 4000/org

14.00an = turun di cangkuang, naik delman deeeh.... delman yang ini ngga kayak naik delman di lembang waktu mau ke de ranch. ini delmannya mantaaap dan perjalanannya panjang. jalan meliuk2 dan naik turun. setiap kali jalanannya menanjak, delmannya ngebut sampai kita kaget setengah mati.. hoho.. like this deh.

ongkos delman 10rb/3orang... sama tuh dengan di lembang... waktu di lembang kita di tipu...atau karena di lembang termasuk 'kota' kali yaa..

14.30an = makan mie goreng di salah satu warung makanan...

15.00 = naik rakit... asyiknyaaaa.... rakitnya lambat, jadi bisa foto2 pemandangan. bukit tempat candi cangkuang ada di tengah danau. bagus deh... kayak bukit belakang sekolahnya nobita. di sana kita foto-foto.. jalan-jalan. lalu makan jagung bakar harga seribuan... yah, yang kita beli harganya 5000/tiga sih, terlanjur. 

tiket masuk wisata cangkuang = 3000/org
tiket rakit bolak-balik = 3000/org, kalau ngga mau rakitnya ngetem nunggu yang lain jadi 15000/3 orang
toilet = 1000/orang

17.15an = naik rakit lagi, menikmati sunset yang keren... sesampainya di daratan kita sholat ashar... lalu dengan beruntungnya segera mendapatkan delman dan pulang menuju Bandung. Delman kali ini lebih asyik lagi. kudanya sehat, jalannya lebih mantap.

delman 10.000/3org
minibus menuju bandung 10.000/orang

20.00 = sampai di terminal cicaheum, pulang ke rumah masing-masing dan beristirahaat... alhamdulillah.. ^^

tips jalan-jalan kali ini:
--->kalau ditawarin pemandu di kampung naga, gunakan jasa itu. pasti berguna deh.
--->kalau ditanya sama calo di terminal, lebih baik dijawab, supaya cepet berhenti juga pertanyaannya. tapi jangan sekali-kali mau ngasih ongkos caloan... rugi.
--->masalah ongkos bisa jadi sangat penting. bertemanlah dengan penduduk setempat dan tanya berapa sebenarnya ongkos kemana kamu mau pergi.

PS: ini catatan 1 Juni 2010. baru dipublish. hehe